POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel

RedaksiOleh Redaksi
May 8, 2025
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Mila Muzakkar

Suatu malam, lamunanku melayang ke masa kelas lima SD, di kampungku dulu. Pagi itu, dengan wajah kaget, tetanggaku menghampiri memberitahu bahwa ada darah di rok putih yang aku pakai. Seketika aku kaget dan takut. Aku baru saja kelas lima, tapi sudah mengalami menstruasi.

Di kampungku, menstruasi masih dianggap tabu, yang mengalaminya dianggap sudah mulai “besar” atau remaja. Jika yang mengalaminya adalah anak kecil, apalagi masih SD, itu di luar kewajaran, katanya. Mereka akan dianggap “centil, kegatelan, dan aneh”. Itulah yang aku alami, juga dialami banyak perempuan di berbagai belahan dunia.

Masih di masa SD di kampungku, tiga orang adik kelasku, tak lagi muncul ke sekolah karena dipaksa menikah oleh orangtuanya. Beberapa tahun kemudian, kudengar kabar duka, anak-anak yang dinikahkan itu mengalami KDRT, ada yang bercerai, ada pula yang meninggal saat melahirkan. Ternyata, bukan hanya teman-temanku yang mengalami, tapi juga anak anak lain, di berbagai belahan dunia.

Tahun 2017-2019, hampir tiga kali seminggu, aku mendampingi perempuan deportan yang diduga terafiliasi dengan jaringan teroris Islamic State of Iraq & Suriah (ISIS). Pada mereka, aku mendengar banyak cerita menyayat hati. Misalnya, beberapa di antara mereka tak tahu bahwa suaminya adalah teroris, atau sebagian mengaku terpaksa ikut dalam jaringan teroris sebagai bentuk kepatuhannya pada suami. Ada juga yang merasa tertipu karena dinikahkan oleh jaringan teroris secara online dengan laki-laki, yang ternyata telah memiliki beberapa istri.

Di Tiktok, seorang driver ojek online (ojol) perempuan curhat, sejak menjadi single parent dan menjadi driver ojol, hidupnya semakin sulit karena sering ditolak (dicancel), hanya karena ia perempuan. Sementara mereka adalah pencari nafkah utama yang harus membiayai anak, bahkan keluarga besarnya. Bukan lima orang, tapi puluhan perempuan mengaku mengalami hal yang sama.

Empat fakta di atas hanya secuil dari tumpukan penderitaan yang dialami perempuan di berbagai dunia, dari pelosok desa hingga di keramaian kota besar.

📚 Artikel Terkait

Badut-Badut Jalanan

Kemana Arah Tuju Kapal Politik Dinasti dan Nepotisme?

Sahabatku Agam dan Bayangan Kekuasaan

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia?

Kumpulan Puisi Esai dalam buku ini mengangkat enam belas kisah dramatis dan tragis yang dialami perempuan, yang masih jarang atau masih tabu dibicarakan di ruang publik. Sebagian aku tulis dalam bentuk Puisi Esai umum, sebagian lainnya ditulis menggunakan bantuan Artificial Intelegence (AI). Ilustrasi dalam buku ini juga aku buat menggunakan AI.

Secara berkala, hampir tiap hari, keenam belas Puisi Esai itu telah aku sebarluaskan di berbagai grup Whatsapp dan sudah dimuat di berbagai flatform media online.

Beberapa puisi aku tuliskan di rumah sakit, ketika sedang mendampingi suami terbaring sakit. Meski tak mudah, namun semua terbayar kepuasan dan kebahagiaan, karena ternyata Puisi Esai yang kusebarkan ini menuai banyak respons positif.

Beberapa mengaku terharu sampai menangis membaca Puisi Esai yang aku bagikan. sebagian menjapri mengucapkan terima kasih karena aku telah menuliskan kisah-kisah perempuan dalam alunan satra yang indah. Bahkan, ada yang mengirim pesan pribadi meminta nomor telepon dari salah satu tokoh yang kuceritakan dalam Puisi Esai itu. “Mbak, boleh minta nomor Bu Sutinah, perempuan driver ojol seperti dalam tulisan Mbak Mila? Ada teman yang mau berbagi sedikit rejeki ke Bu Sutinah,” katanya.

Dari situ, aku meyakini dan bersaksi, kisah-kisah nyata perempuan yang ditulis dalam balutan fakta dan imajinasi puitis, yang bernama Puisi Esai, menjadi penting dan darurat dilakukan. Perpaduan fakta dan balutan fiksi dalam Puisi Esai nyatanya lebih menyentuh hati dan empati, bahkan menggerakkan pembaca mengambil aksi nyata untuk membantu sesama perempuan korban budaya patriaki.

Puisi Esai menjadi cara baru yang lebih asyik dalam menyuarakan kisah-kisah kemanusiaan, seperti isu perempuan, dalam sajian yang lebih indah, mudah dipahami, menyentuh hati, dan mengandung call to action bagi pembaca.

Semoga Buku Puisi Esai ini menjadi saksi abadi bahwa dunia akan lebih indah jika semua manusia hidup kolaboratif dan harmonis.

Salam

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mediasi Deadlock, Jokowi Siap Hadir di Pengadilan

Mediasi Deadlock, Jokowi Siap Hadir di Pengadilan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00