POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Ekonomi

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia?

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Mei 1, 2025
in #Ekonomi, #Krisis Ekonomi, Ekonomi Syariah, Syariat Islam
0
Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - 26144dc5 f2df 4781 82bc fe3f2ec44eb1 | #Ekonomi | Potret Online

Refleksi dari Aceh sebagai Poros Syariah dan Kekuatan Religi Bangsa

Oleh Dayan Abdurrahman

Keterpurukan ekonomi Indonesia hari ini bukan sekadar akibat fluktuasi global atau krisis pasar. Ini adalah refleksi dari kegagalan tata kelola, kehilangan arah moral, dan ketergantungan terhadap sistem kapitalisme yang tidak lagi relevan dalam menjawab problematika keadilan sosial.

Baca Juga
  • Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - IMG 20250220 WA0010 | #Ekonomi | Potret Online
    Ekonomi
    Bitcoin untuk Zakat: Solusi atau Masalah?
    20 Feb 2025
  • Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - IMG_4151 | #Ekonomi | Potret Online
    #Krisis Ekonomi
    Dari Meja Dapur ke Meja Pemerintah: Memahami Krisis Ekonomi di Aceh
    06 Mei 2025

Sebagai negeri yang kaya sumber daya dan budaya religius, Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menawarkan solusi alternatif, salah satunya melalui nilai-nilai syariah yang telah hidup dan mengakar kuat di Aceh.


Aceh: Cahaya Syariah di Ujung Barat Nusantara

Baca Juga
  • 01
    #Ekonomi
    Koperasi Desa Merah Putih itu, Jelas Top Down dan Ulang Kesalahan Sejarah Lama
    13 Jun 2025
  • Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - IMG_9514 | #Ekonomi | Potret Online
    Aceh
    Otonomi Khusus Aceh: Jalan Menuju Kemandirian atau Ketergantungan Baru?
    18 Apr 2026

Aceh, sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariah secara formal, telah menjadi simbol kekuatan religi nasional. Dalam konteks ini, Aceh bukan hanya menjalankan hukum dalam pengertian sempit, tetapi mengusung prinsip-prinsip keadilan sosial, kesetaraan ekonomi, dan tanggung jawab moral dalam setiap aspek kehidupan.

Syariah di Aceh berpotensi menjadi model sistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Prinsip zakat, larangan riba, larangan eksploitasi, dan penguatan ekonomi komunitas adalah tawaran solutif terhadap kegagalan kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir elit. Dunia hari ini mulai melirik ekonomi berbasis nilai – dan Indonesia, melalui Aceh, sudah memilikinya.

Baca Juga
  • Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - c4924c1e 8cf3 400a bcfb 605e44422e0a | #Ekonomi | Potret Online
    # Ironi
    Kerusakan Negeri dan Azab yang Menanti
    05 Mei 2025
  • Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - Fotoku copy | #Ekonomi | Potret Online
    Aceh
    Mengenal Konsep Mawah sebagai Warisan Ekonomi Aceh
    04 Okt 2025


Kapitalisme: Gagal Menghadirkan Kesejahteraan Global

Sistem kapitalis global telah menunjukkan wajah aslinya: memusatkan kekayaan di tangan segelintir orang, menghancurkan solidaritas sosial, dan memperparah ketimpangan. Krisis ekonomi berulang kali terjadi bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena kerakusan dan hilangnya etika ekonomi.

Dalam sistem kapitalis, manusia dinilai dari produktivitas dan konsumsi, bukan dari kontribusi moral dan sosial. Nilai spiritual dan kearifan lokal terpinggirkan. Maka, tak heran jika dunia mulai mencari alternatif sistem yang lebih manusiawi dan berkelanjutan – sistem yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga kemaslahatan.


Indonesia: Negeri Religius yang Belum Dimaksimalkan

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan dengan keberagaman agama yang luar biasa, Indonesia sejatinya memiliki fondasi moral dan spiritual yang kokoh. Nilai-nilai Pancasila, kearifan lokal, serta ajaran agama-agama besar di Indonesia, semua mendorong keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara materi dan moralitas.

Namun sayangnya, tata kelola nasional sering kali abai terhadap kekuatan ini. Kebijakan ekonomi masih terjebak pada logika pertumbuhan semu dan utang luar negeri. Pembangunan dilihat dari sisi fisik, bukan dari keadilan distribusi atau kemaslahatan sosial. Di sinilah letak tanggung jawab terbesar pemimpin bangsa: gagal menggali dan menerapkan kekuatan religius dan budaya lokal sebagai pondasi pembangunan nasional.


Membangun Ulang dengan Spirit Syariah dan Keadilan Sosial

Aceh sebagai simbol syariah Indonesia bisa menjadi poros kebangkitan ekonomi moral, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga tawaran kepada dunia. Sistem keuangan syariah, tata niaga yang adil, jaminan sosial berbasis zakat dan wakaf, serta etika produksi yang tidak eksploitatif – semuanya sudah menjadi bagian dari khazanah Islam dan tradisi lokal kita.

Penerapan nilai-nilai ini secara konsisten dan inklusif bisa menjadi penangkal dominasi sistem kapitalis yang destruktif. Jika dikembangkan lebih lanjut dengan pendekatan ilmiah dan kolaboratif, Aceh bisa menjadi “laboratorium moral ekonomi” bagi dunia yang haus akan keadilan dan keseimbangan.


Siapa yang Bertanggung Jawab, dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

Tanggung jawab atas keterpurukan ekonomi Indonesia tidak bisa dilimpahkan pada satu pihak:

  1. Pemerintah Pusat dan Daerah – karena merekalah pemegang amanah dan pembuat kebijakan utama.
  2. Pengusaha dan Pemilik Modal – yang harus mengubah orientasi bisnis dari kapitalistik menuju ekonomi berbasis nilai.
  3. Pemuka Agama dan Budaya – karena mereka adalah penjaga moral kolektif dan inspirasi perubahan.
  4. Lembaga Pendidikan dan Intelektual – karena mereka mencetak generasi yang harus berpikir kritis dan etis.
  5. Rakyat Umum – karena perubahan dimulai dari bawah, dari kebiasaan, pilihan politik, dan solidaritas sosial.

Krisis ini bukan akhir, tetapi awal dari refleksi kolektif. Dunia sedang mencari arah baru, dan Indonesia – khususnya Aceh – bisa menjadi pelita. Saat kapitalisme gagal, maka nilai syariah dan kekuatan religi bangsa ini dapat menjadi jalan terang menuju kesejahteraan yang berkeadilan dan bermartabat.

Penulis adalah peminat isu-isu sosial ekonomi dan keagamaan

Previous Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post

Hari Buruh dan Keadilan Sosial: Suara yang Tak Boleh Dibungkam

Next Post
Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia? - IMG 20250501 WA0064 | #Ekonomi | Potret Online

Hari Buruh dan Keadilan Sosial: Suara yang Tak Boleh Dibungkam

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah