Dengarkan Artikel
Oleh : Ilhamdi Sulaiman
Setiap tanggal dua puluh satu April, orang-orang merayakan Hari Kartini. Ada yang merayakannya dalam bentuk lomba kebaya.lomba musik,tari dan lomba menulis surat Yang dimeriahkan juga dengan musik, tari dan baca puisi di panggung panggung yang aku tonton di televisi. Kartini perempuan yang membangkitkan nyala kesadaran akan hak, akan martabat, manusia bernama perempuan di bumi nusantara ini. Tapi Raahma di kamarnya hanya memandangi kotak kayu usang yang dia ambil dari lemari peninggalan almarhum ibunya.
Di hatinya yang basah oleh tangis jatuh diam-diam ke atas sebuah kotak kayu hanyalah ibunya. Karena baginya, pahlawan sejati telah dikubur bersama sepetak sawah miliknya, dirampas atas nama pembangunan, atas nama Proyek masa depan negaranya.
Sepetak sawah yang dulu penuh subur hanya kenangan, kini rata oleh beton, dan suara alat berat telah menggantikan nyanyian alam yang pernah meninabobokannya.
Dalam kotak itu, tersimpan abu kertas—sisa surat jual beli, fotokopi KTP ibunya, dan dokumen-dokumen lain yang dulu begitu dijaga. Ibunya sendiri yang membakarnya, setelah pulang dari kantor kelurahan.
Seorang pegawai berseragam batik berkata dengan datar, “Tanah ini bukan atas nama Ibu lagi. Sudah menjadi milik perusahaan.” Sertifikat prona yang katanya gratis, ternyata hanya gratis bagi mereka yang punya kuasa. Ibu pulang dengan tangan hampa, membawa kabar buruk kepada anak-anaknya. Malam itu, ia membakar seluruh dokumen itu, satu per satu, karena baginya, kertas-kertas itu sudah tak punya guna lagi. “Bukan bukti kepemilikan, tapi luka… luka yang akan hidup bersamamu sepanjang masa,” ucapnya lirih kepada Rahma dan adik-adiknya.
Keesokan harinya, Rahma berjalan sendirian menuju lahan yang dulu mereka miliki enam ratus meter sawah di Daerah Dadap Kosambi Tangerang yang kini bukan lagi milik ibunya. Ia datang bukan untuk menuntut, hanya untuk menyambut kenangan yang masih tertinggal di sana. Ia ingat masa kecilnya, saat ibunya menanam bibit padi sambil berjalan mundur, pelan dan sabar.
Ingat pondok kecil tempat ayah dan ibu beristirahat, menikmati bakul nasi yang ibu bawa dari rumah. Suara gemericik sungai di belakang pondok itu dulu seperti nyanyian alam yang merdu, tulus, tak tergantikan.
Di sela-sela rerumputan yang kini mulai tumbuh liar, Rahma melihat bayangan masa lalu: dirinya dan adik-adiknya berjalan tanpa alas kaki, mengejar capung dan belalang.
📚 Artikel Terkait
Mereka tertawa tanpa beban, membasuh kaki di aliran sungai yang jernih, membuat perahu dari daun pisang, dan bersaing siapa yang bisa melompat paling jauh di pematang sawah. Terkadang, ibu ikut tertawa bersama mereka, meski tubuhnya lelah. Ayah hanya tersenyum dari kejauhan, tangan masih menggenggam cangkul, peluh menetes tapi mata tetap hangat.
Kini, semua itu tak lebih dari serpih kenangan yang berserakan di bawah kaki Rahma. Tanahnya telah diambil, tapi ingatan itu tetap utuh di hatinya,tak bisa digusur, tak bisa dibeli.
Sebelum peringatan Kartini kemarin, Rahma anak gadis tertua dari pemilik kotak kayu itu sempat merasa lega. Empat orang yang pernah ditemui ibunya di kantor kelurahan, telah ditangkap dan ditahan oleh kepolisian, diduga sebagai pemalsu surat sertifikat warga, yang hendak mereka jual diam-diam kepada sebuah pengembang properti di utara Jakarta.
Namun, kelegaan itu cepat sirna. Dari layar televisi yang redup dan berdebu, Rahma mendengar kabar keempat tersangka itu telah dibebaskan. Polisi melepaskan mereka dengan alasan sederhana. masa penahanan dua puluh satu hari telah lewat, tanpa satu pun dakwaan yang mengikat.
Seperti layang-layang putus tali, harapan Rahma melayang entah ke mana. Dalam hatinya, ia tahu: keadilan, di negeri ini, bukanlah sesuatu yang bisa ditunggu dengan setia. Ia harus dijemput, diperebutkan atau kadang, cukup diterima sebagai kehilangan yang lain.
Hari itu, tanpa kata, Rahma memilih percaya pada kekuatan kecil dalam dirinya: untuk bertahan, untuk terus hidup, dan untuk suatu saat, menuliskan kisah yang lebih adil daripada yang diwariskan kepadanya.
Jakarta,27 April 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






