• Latest
Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti - IMG 20250426 WA0009 | #Gerakan Menulis | Potret Online

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

April 27, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti - 1001348646_11zon | #Gerakan Menulis | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti - 1001353319_11zon | #Gerakan Menulis | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti - 1001361361_11zon | #Gerakan Menulis | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 27, 2025
in #Gerakan Menulis, Gemar menulis, Menulis
Reading Time: 3 mins read
0
Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti - IMG 20250426 WA0009 | #Gerakan Menulis | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Ketika saya menulis artikel berjudul “Ketika Saya Merasa Berdosa kepada Netizen”, tanggapan netizen terutama followers saya, luar biasa. Betapa mereka selama ini begitu perhatian dengan saya. Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Di malam minggu ini saya ingin memberikan sedikit tips menulis untuk yang suka menulis. Kopi liberika selalu menemani tulisan ini.

Saat artikel itu meluncur di dunia maya, follower saya mendadak berubah jadi malaikat bersayap emoji. Mereka menuliskan kata-kata dukungan, nasihat, petuah, doa, semangat, bahkan ada yang mendoakan saya masuk surga VIP tanpa antrean. Saya membaca semua komentar itu sambil menggigil, bukan karena kedinginan, tapi karena getaran batin setara level gempa skala 9.0. Saya sampai mencari-cari di Google, “Apakah manusia bisa menangis sampai dehidrasi?” Karena saya hampir saja mengalaminya.

Baca Juga
  • Cerpen Sang Guru Dari Nanggroe Tuan Tapa ” Senyum Terakhir Siti Sara”
  • Perempuan di Titik Klimaks

Mereka berkata, “Tulisanmu menyentuh jiwa kami.”
Mereka bilang, “Tulisanmu membukakan mata hati kami yang selama ini pakai kaca mata kuda.”
Mereka mengaku, “Dulu saya benci politik, sekarang cinta. Dulu saya tak suka voli, sekarang suka nonton voli!”

Seketika saya merasa menjadi dukun literasi. Menyentuh orang tanpa harus ketemu. Mengubah hidup tanpa harus menepuk pundak. Hanya lewat kata. Hanya lewat huruf. Hanya lewat sepotong tulisan yang lahir di antara keputusasaan dan sisa-sisa kafein.

Baca Juga
  • TIGA HAL YANG HARUS DIJAGA DALAM KEHIDUPAN BERPRIBADI
  • Apakah Perempuan Akademik yang Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga Tidak Produktif?

Inilah momen ketika saya benar-benar sadar, kalau menulis itu bukan cuma tentang pamer kosa kata sakti mandraguna atau menumpuk teori seberat truk molen. Menulis itu adalah ritual suci membangun ikatan batin. Menulis itu adalah seni menjebak hati pembaca agar mereka merasa, “Woy, ini kayak cerita hidup gue banget!” Menulis itu membuat pembaca ketagihan seperti makan keripik satu bungkus yang katanya mau satu tapi akhirnya habis semua.

Tips sakti ini tidak berhenti di saya. Saya turunkan kepada seorang pendekar muda dari Bali, namanya M. Fawaid AL. Dia datang berguru, bertanya, meminta petuah, seperti murid Shaolin mencari jurus pamungkas. Saya ajarkan, tulislah setiap hari. Tidak usah tunggu inspirasi turun dari langit. Karena inspirasi itu pemalas. Ia baru datang kalau kita sudah menulis duluan.

Baca Juga
  • Melatih Siswa Madrasah Menulis Sejak Dini
  • Membedah Sejarah, Merawat Ingatan

Apa hasilnya? Dalam sekejap mata, bahkan lebih cepat dari pertumbuhan kecambah di gelas air, akunnya sekarang punya 8.540 followers. Delapan ribu lima ratus empat puluh manusia hidup, bukan akun robot, bukan bot Rusia. Ini angka yang bagi penulis pemula adalah mukjizat setara membelah lautan.

Saya selalu bilang ke murid-murid pelatihan saya, dengan suara bergetar seperti dalang wayang, “Kebahagiaan penulis bukan ketika bukunya mejeng di rak best seller, tapi saat tulisannya dibaca.” Dibaca betulan. Dibaca sambil meringis, sambil tertawa, sambil mikir, sambil ngomong sendiri, “Woy, ini gue banget!”

Tanda tulisan kita dibaca itu cuma satu, komentar. Komentar yang jujur, polos, brutal, lucu, lebay, semuanya adalah emas. Balaslah komentar itu! Walaupun hanya dengan emoji hati, walaupun hanya dengan “Tks”, walaupun sambil ngantuk-ngantuk di atas bantal. Karena itulah harga penghargaan kita kepada para pembaca. Mereka yang sudah rela membaca tulisan kita saat mereka bisa saja memilih scroll TikTok nonton orang jungkir balik.

Maka dari itu, saya berdiri, secara batiniah, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk kalian semua, para netizen, para pembaca, para jiwa-jiwa mulia yang membuat saya terus menulis. Terus berjuang di medan literasi. Kalianlah tenaga surya saya. Kalianlah alasan kenapa keyboard saya tidak pernah berdebu. Saya bersumpah, akan terus menulis, sampai jari-jari saya aus, sampai otak saya tinggal seperempat, bahkan kalau perlu, saya akan mengetik dengan hidung.

Karena selama masih ada satu orang saja yang mau membaca, maka tulisan ini… akan tetap hidup.

Selamat malam minggu untuk semua followers saya. Sambil nongkrong di kafe, warkop atau lagi mager di kamar tidur, bacalah tulisan ini. Saya jamin, ikatan batin kita akan selalu terhubung.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti - 442da9ac 4eb1 474e 83e2 43e328600f56 | #Gerakan Menulis | Potret Online

Membaca Ayat-ayat -Mu, Aku Jatuh cinta

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com