• Latest
Kartini dan Cahaya dari Al-Qur’an

Kartini dan Cahaya dari Al-Qur’an

April 21, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kartini dan Cahaya dari Al-Qur’an

Redaksiby Redaksi
April 21, 2025
Reading Time: 3 mins read
Kartini dan Cahaya dari Al-Qur’an
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Muhammad Syawal Djamil* Setiap kali memasuki bulan April, ingatan kita selalu terpaut dan mengarah pada satu orangperempuan yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, yakni Raden AjengKartini. Dan, setiap kali kita mengenang sosok R.A. Kartini, ingatan kita langsung tertuju pada satu kalimat legendaris: “Dari Gelap Terbitlah Terang.” Kalimat ini bukan hanya simbolperjuangan emansipasi perempuan, tetapi […]

Oleh: Muhammad Syawal Djamil*


Setiap kali memasuki bulan April, ingatan kita selalu terpaut dan mengarah pada satu orang
perempuan yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, yakni Raden Ajeng
Kartini.


Dan, setiap kali kita mengenang sosok R.A. Kartini, ingatan kita langsung tertuju pada satu kalimat legendaris: “Dari Gelap Terbitlah Terang.
” Kalimat ini bukan hanya simbol
perjuangan emansipasi perempuan, tetapi juga mencerminkan pencarian spiritual Kartini yang begitu mendalam.
Namun demikian, di balik semua simbol tersebut, ada warisan pemikiran yang jauh lebih substansial dan patut direnungkan kembali, terutama oleh generasi muda Indonesia hari ini: bagaimana Kartini memaknai perjuangan melalui pencarian cahaya pengetahuan dan spiritualitas.


Kalimat “Dari Gelap Terbitlah Terang” yang begitu lekat dengan nama Kartini bukanlah
sekadar ungkapan puitis atau slogan perjuangan. Di balik kalimat itu tersimpan refleksi Kartini terhadap ayat suci Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 257, yang berbunyi:
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
menuju cahaya.
”
Kartini membaca dan merenungi ayat ini setelah ia mulai mempelajari terjemahan Al-Qur’an yang ditulis oleh KH. Saleh Darat, seorang ulama terkemuka dari Semarang. KH. Saleh Darat menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon, sebuah langkah besar pada masa itu mengingat kitab suci masih dianggap hanya layak dibaca dalam bahasa Arab oleh kalangan terbatas. Kartini, yang haus akan ilmu dan pemahaman yang lebih luas, sangat tersentuh oleh upaya ini.


Sayangnya, KH. Saleh Darat wafat sebelum karyanya selesai. Terjemahannya baru
mencakup Surah Al-Fatihah hingga Surah Ibrahim. Namun dari pengantar dan bagian yang sempat ia pelajari, Kartini merasakan pencerahan. Ia melihat bagaimana agama tidak membatasi peran perempuan, tetapi justru membimbing mereka untuk keluar dari
keterkungkungan menuju ruang-ruang kemuliaan dan kesetaraan (Gema.uhamka.ac.id)


Teladan dalam Keagamaan dan Kemajuan
Kartini adalah contoh nyata bagaimana pemikiran progresif tidak berarti meninggalkan akar spiritualitas. Ia membuktikan bahwa semangat keagamaan bisa berjalan berdampingan dengan cita-cita kemajuan dan modernitas. Baginya, pendidikan adalah hak bagi semua,
termasuk perempuan, bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi agar bisa menjalani hidup dengan bermartabat, beriman, dan berdaya.


Kita mengenal Kartini sebagai penulis surat yang penuh gagasan besar. Ia mengkritik
ketimpangan sosial, mempertanyakan adat yang membatasi perempuan, dan memimpikan masa depan di mana perempuan bisa berpendidikan tinggi. Namun, di tengah
keberaniannya sebagai intelektual muda, Kartini tetap rendah hati dan patuh kepada orangtua. Ia tidak lelah belajar, dan tidak ragu mendekatkan diri kepada ajaran agama yang
diyakininya sebagai jalan terang.


Sikap-sikap teladan seperti inilah yang semestinya menjadi esensi peringatan Hari Kartini. Ia adalah figur yang berwawasan luas, pantang menyerah, berani bersuara, dan berjiwa sosial tinggi. Ia tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya, terutama perempuan-perempuan di pelosok yang saat itu bahkan belum mengenal dunia baca-tulis.


Sayangnya, semangat ini seringkali terpinggirkan oleh seremoni yang lebih bersifat simbolik. Perempuan memakai kebaya satu hari, anak-anak diminta menulis esai tentang Kartini, lalu esoknya kembali pada rutinitas. Narasi Kartini tetap hidup, tetapi sering kali tidak mengakar pada nilai-nilai yang sejatinya ia perjuangkan.


Di tengah gempuran modernitas, kemajuan teknologi, dan krisis nilai, keteladanan Kartini
menjadi semakin relevan. Kita memerlukan figur yang menggabungkan keberanian
intelektual dengan kedalaman spiritual. Kita memerlukan semangat belajar yang tidak hanya mendorong kita menjadi pintar, tetapi juga bijaksana. Kita memerlukan
perempuan-perempuan muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga punya kepedulian sosial dan kepekaan terhadap nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026


Kartini mengajarkan bahwa gelap bukan hanya ketidaktahuan, tapi juga ketidakadilan,
keterbelakangan, dan kekeliruan dalam memaknai peran manusia. Sementara terang
adalah simbol harapan, kemajuan, dan cahaya iman. Dan untuk mencapai terang itu,
diperlukan keberanian untuk belajar, untuk bertanya, untuk mempertanyakan yang mapan, dan untuk terus bergerak maju—dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.


Dari Kartini, kita belajar bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dipisahkan dari kualitas
perempuan di dalamnya. Dan kualitas perempuan tidak bisa dilepaskan dari akses terhadap pendidikan, kebebasan berpikir, dan juga pemahaman spiritual yang mendalam.


Di tengah tantangan zaman, semoga kita tidak hanya mengenang Kartini dalam bentuk
simbol dan seremoni. Lebih dari itu, semoga kita bisa menghidupkan kembali api
semangatnya dalam tindakan nyata—di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan dalam
kehidupan kebangsaan kita.


*Praktisi Pendidikan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Memaknai Kemerdekaan Bangsa Indonesia Yang Berdaulat dan Mandiri Secara Ekonomi

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com