POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Indahnya Pulau Impian Bersama Kekasih Halal

JurtawaniOleh Jurtawani
January 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Malam telah larut, tetapi netra ini belum dapat terpejamkan. Kubalikkan tubuh ke kanan dengan perlahan agar orang di sampingku tidak terganggu. Mataku nanar menatap wanita yang sedang mendengkur halus napasnya naik turun, perlahan ku usap kepala wanita tersebut.

Mak, aku tidak sanggup meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Kau wanita teristimewa dalam hidupku. Bagaimana aku sanggup hidup dalam keheningan tanpa senyummu? Batinku berbicara dan meronta diiringi gemuruh angin malam yang dinginnya kian menusuk tulang.

Mata yang tidak bisa diajak kompromi kupejamkan. Bulir bening mulai mengalir, segenap rasa kutahan agar isak tak terdengarkan.

***

Sarah gemetar ketika menerima SK penempatan tugas. Menjadi guru adalah angan-angannya sejak kecil, kini cita-cita itu terwujud. Namun, ada beban yang memberatkan langkahnya menuju cita yang telah lama bersemayam di jiwa.

Amplop kuning yang bertuliskan Kementerian Agama Republik Indonesia diterima dengan berurai air mata. Tak mampu ia menilik kertas yang ada di dalam amplop tersebut.

Di sisi lain, Sarah tidak bisa lagi mundur. Saat hasil kelulusan dikeluarkan, surat pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja adalah salah satu berkas yang harus diserahkan kala melakukan daftar ulang.

Beban ini yang sekarang ada di pikiran, hingga merasuk ke dasar jiwa yang dalam. Kepergian Sarah akan memberikan jarak dengan wanita yang telah menjadi separuh dari napasnya.

***

“Kamu menangis, Nak! Kenapa belum tidur sudah selarut ini? Jangan pikirkan mak. Jaga kesehatanmu untuk perjalanan panjang besok.” Tiba-tiba wanita di sampingku terbangun.

Aku semakin mendekatkan tubuh dengan wanita itu, kupeluk erat dia, tangis pun pecah dalam pelukannya.

“Mak! Sarah tidak bisa meninggalkan Mak sendirian di sini. Sarah enggak kuat tanpa Mak!” Aku semakin tersedu, air mata terus mengalir menganak sungai.

“Sarah! Dengarkan mak, bik Nisah yang akan menemani mak saat kamu pergi,” sela wanita itu. Kedua tangannya mengusap lembut pipiku.

Bibi Anisah adalah adik ayahku yang sampai usianya hampir menginjak kepala lima masih saja setia dengan kesendiriannya. Entah apa yang membuat wanita itu enggan menikah dan berumah tangga. Padahal seingatku, ketika ia masih muda banyak lelaki yang dekat dengannya, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berjodoh.

Bik Nisah, begitulah panggilanku untuknya. Ia tinggal dengan paman yang sudah berkeluarga dan memiliki lima orang anak yang telah beranjak dewasa. Namun, untuk saat ini aku memintanya untuk tinggal dengan mak ketika aku pergi.

“Sekarang kita tidur, ya! Jangan menangis lagi.” Tangan wanita itu mengusap punggungku. Kepala kubenamkan di dadanya, sesenggukan masih saja terjadi hingga mengantarku ke alam mimpi.

***

Mobil travel armada L300 yang akan menghantarkanku ke tempat tugas telah menunggu. Beberapa jam ke depan, angkutan umum ini akan membawaku jauh meninggalkan kota yang penuh kenangan indah bersama mak. Sebuah koper besar yang berisi perlengkapan yang dibutuhkan dimasukkan dalam bagasi, sedangkan ransel kuletakkan di bawah kaki.

Aku duduk di kursi nomor tujuh, agar lebih leluasa melihat pemandangan yang ada di luar jendela. Perjalanan melewati gunung yang dikelilingi lautan adalah panorama alam yang begitu memesona. Namun, hal itu tidak menarik bagiku. Pandangan kualihkan pada deretan pepohonan yang seolah ikut berjalan mengiringi lajunya kendaraan yang sekarang kutumpangi.

Masih jelas di ingatan ketika aku berpamitan. Haru menyelimuti wajah wanita yang duduk di kursi roda itu. Namun, ketegaran dan keikhlasan tetap kokoh terpancar dari ulasan senyumnya ketika melepas kepergianku.

Perjalananku kali ini melalui darat dan laut. Pulau Banyak yang terletak di Kabupaten Aceh Singkil tepatnya di ujung sebelah barat pulau Sumatra adalah tujuanku sekarang. Perjalanan darat selama empat belas jam begitu melelahkan. Setelah tiba di pusat kota Aceh singkil, perjalanan laut dengan menggunakan kapal Feri yang jauhnya selama empat jam jarak tempuh kembali dilanjutkan.

Aku yang mabuk perjalanan laut berulang kali muntah. Padahal sebelumnya aku sudah mengonsumsi obat mabuk perjalanan, tetapi tidak mujarab. Aku mencari sesuatu di dalam ransel yang bisa meringankan rasa pusing, tetapi benda itu tidak kutemukan.

“Kamu mencari ini, ya?” Seseorang yang duduk di sampingku bertanya. Aku segera meraih benda bulat itu, kugosok ke dahi hingga pelipis. Minyak aromaterapi ini sedikit meringankan rasa mual yang kualami.

“Terima kasih,” ucapku padanya. Mata kututup rapat, aku tidak tahu siapa orang itu, yang jelas dia telah membantuku.

“Tidurlah, biar rasa mual itu mereda,” timpalnya. Aku hanya mengangguk. Ya Allah semoga dia orang baik yang tidak menggangguku, hatiku bermunajat.

Kapal akan segera menepi, kurasakan kecepatan armada laut ini kian menurun. Aku tidak benar-benar tertidur, terdengarkan percakapan orang di sekeliling yang mengucap syukur atas keselamatan perjalanan.

“Nona, perjalananmu telah usai. Bangunlah!”

📚 Artikel Terkait

Rumah Tua Yang Kusam

Olimpiade TIK-Informatika (OTN) ke-VI 2024

Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

PETUALANGAN SEORANG DOSEN

Aku memicingkan mata, samar-samar kulihat seorang lelaki bertopi hitam dengan baju yang senada. Kugeserkan tubuh agar lebih tegak posisinya dari semula, rasa mual telah hilang.

“Kamu hendak kemana? Sepertinya kamu baru pertama kali ke tempat ini,” ujarnya. Aku kembali mengangguk, tidak berani menunjukkan keramahan pada orang yang baru kukenal.

“Apa ada yang akan menjemputmu?” lanjut lelaki itu.

“Temanku akan menjemput,” selaku. Sedikit kutarik sudut bibir agar terlihat seperti tersenyum.

Ratih teman yang kukenal saat pendaftaran ulang CPNS telah menunggu. Aku dan Ratih sama-sama pendatang baru di pulau ini, hanya saja jarak tempuh Ratih lebih dekat karena ia berasal dari Selatan Aceh.

Berkat bantuan Ratih, aku tidak mengalami kesulitan sebagai orang yang pertama sekali menginjak kaki di pulau ini. Kusapu pandangan ke sekeliling, suasananya teduh, sekali-kali terdengar deburan ombak yang memecah kesunyian. Rumah kontrakanku dekat dengan pantai.

“Sarah, kamu istirahat aja dulu, pasti kamu sangat lelah setelah melewati perjalanan panjang, kan!” kata Ratih ramah. Aku hanya mengangguk, sambil meletakkan ransel di lantai. Kelelahan yang mendera membuat mataku meminta haknya untuk segera ditunaikan.

.

Related Postingan

Demi Anak Cucu

Demi Anak Cucu

January 21, 2026
64
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Ketika Gagasan Tertimbun Lumpur

January 8, 2026
61

Hari-hari kulalui bersama dengan Ratih, hati selalu memendam kerinduan dengan seseorang yang jauh. Aku ingin segera kembali ke daerahku, tetapi setelah sepuluh tahun bertugas baru boleh mengajukan pindah. Aku telah bertekad, ketika kehidupanku di pulau benar-benar mapan, aku akan membawa mak ke pulau ini.

Hari itu, aku dan Ratih hendak ke pantai, sekadar mencari angin segar melepas kepenatan. Panorama alam pulau Banyak begitu memikat, sehingga banyak wisatawan dari luar Aceh yang berkunjung.

Aku memilih duduk di pasir memandang lautan luas. Sepasang mata terus memperhatikan.

“Kamu Sarah, kan?” sapa pemuda itu yang juga ikut duduk di pasir. Aku terperanjat, bagaimana bisa ia mengetahui namaku. Saat kuamati, wajah pemuda itu tidak asing, tetapi di mana aku melihatnya?

“Kenalkan, aku Sandi. Orang yang duduk di sampingmu saat di kapal.” Ia mengulurkan tangannya, tetapi tidak ku balas. Aku hanya menelungkupkan tangan di dada.

“Ups! Maafkan aku.” Wajah putihnya seketika memerah saat sambutan tangannya tidak terbalas.

“Saat itu kulihat kamu terburu-buru turun kapal, jadi aku tidak sempat menanyakan namamu,” jelasnya.

“Terus, panggilan tadi…” Aku tidak melanjutkan kata-kata, aku ingin tahu dari mana ia tahu namaku.

“Oh, itu…” Ia tersenyum sambil menggaruk kepalanya.

“Aku tahu dari mas Ujang. Aku membaca salah satu berkas yang kamu fotocopy. Hasil fotocopymu tidak bagus gara-gara mesin rusak,” jelasnya. Kulihat ia malu-malu saat kutanyakan perihal itu.

Sandi menjelaskan ia melihatku di ruko milik mas Ujang beberapa waktu lalu. Ia tahu namaku dari lembaran yang rusak saat difotocopy. Aku yang kesal karena hasilnya tidak sesuai, tidak menyadari ada mata yang mengamati.

Kami saling berbagi cerita, ternyata Sandi juga pendatang di pulau ini. Namun, ia telah lama menetap. Ia berasal dari Medan, menetap di pulau karena usaha lobster yang dikelolanya kian sukses. Bahkan keramba lobsternya menjadi sentra pembibitan di Aceh, sehingga aku memanggilnya dengan sebutan pemuda lobster.

“Masih mabuk dengan laut?” candanya membuat aku seolah ingin segera lenyap di hadapannya. Ah, memalukan sekali, dia masih ingat ketika aku berulang kali muntah saat di kapal.

Kehidupanku berubah, keceriaan mulai terpancarkan ketika hadirnya Sandi; pemuda lobster yang telah menyelipkan cahaya terang di tengah redupnya penglihatan. Aku yang sering terlihat murung, akhirnya bisa mengulas senyum melewati kehidupan pulau.

Pertemuan yang intens membuat kami semakin akrab, hingga suatu hari Sandi mengungkapkan isi hatinya. Melalui aplikasi hijau ia mengirim pesan.

[Kapan aku bisa menjumpai orang tua kamu?] pesan dari Sandi membuat aku membelalakkan mata. Aku tidak membalasnya, pesan kedua masuk.

[Izinkan aku menjadi orang yang akan menjagamu di pulau ini secara halal]

[Apa kamu bersedia?]

Ya, Allah. Kalau Sandi adalah menjadi sebab betahnya aku tinggal di pulau ini, jadikanlah ia jodoh yang Engkau pilihkan untukku, mudahkanlah segalanya. Batinku berbicara.

[Kalau kamu serius, temui ibuku saat libur semester nanti]

Kuberanikan diri untuk membalas pesan Sandi secara singkat. Sebelumnya tidak ada hubungan spesial di antara kami, pantang bagiku berpacaran sebelum menikah. Sandi datang ke Banda Aceh tepat saat libur semester tiba.

Proses lamaran sederhana pun terjadi, Sandi membuktikan bahwa dirinya benar-benar serius ingin mempersunting diriku. Sebelum libur sekolah usai, aku telah sah menjadi istri Sandi. Ketika akan kembali ke pulau, mak juga ikut kuboyong sekalian.

Lima tahun sudah menjadi penduduk pulau, suka dan duka terlewati. Pulau yang merupakan tempat aku mengabdi kini menjadi tempat domisili. Betapa berat langkah kaki ketika awal menuju ke sini, perjalanan panjang begitu melelahkan. Namun, semua itu kini terbayarkan, ketika aku bisa kembali bersama kamu dan juga wanita yang menjadi separuh dari napasku.

Hari ini, aku dan kamu yang sekarang menjadi kita melangkah bersama menuju pulau impian, bersama pula kita ikut sertakan wanita satu-satunya yang menjadi ladang amal di akhirat kelak.

Sandi, dialah lelaki yang kini membuat aku betah menjalani hari-hari di pulau ini. Sekelebat memori seolah menghantarkan aku kembali ke masa di mana aku begitu takut menghadapi perjalanan jauh. Perjalanan yang kutempuh seorang diri, hanya karena menunaikan tugas negara.

“Apakah putri laut akan muntah lagi nanti?” canda Sandi membuat aku tersipu. Aku yang memang mabuk perjalanan laut, mendapat julukan putri laut dari Sandi.

“Bukankah pangeranku siap menjadi bahu tempat aku bersandar dari penatnya perjalanan!” seruku manja sambil menyentuh pucuk hidung mancungnya. Sandi menggenggam erat tanganku. Senyum bahagia terulas di wajahnya.

***

“Tumben putri laut kali ini tidak mabuk naik kapal,” ujar Sandi saat kapal menepi.

“Apa ya! kira-kira yang membuat aku tidak lagi mabuk?” Kusandarkan dagu di bahunya.

Senyum dan tawa lepas terhias indah dari wajah kami berdua, deburan ombak di pelabuhan kian terdengarkan. Kulangkahkan kaki menuruni anak tangga kapal, kali ini aku kembali ke pulau dengan pasangan halal. Aku tidak lagi berniat mengajukan pindah tugas, biarlah pulau menjadi tempat aku melanjutkan kehidupan bersama si dia kekasih dunia akhirat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Jurtawani

Jurtawani

Jurtawani, putri keenam dari enam orang bersaudara. Ibu dari tiga orang anak yang berprofesi sebagai seorang pendidik tepatnya dikatakan guru. Di lahirkan di sebuah desa di Aceh Besar pada 37 tahun yang lalu . Di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru kelas di MIN 6 Kota Banda Aceh, penulis meluangkan waktu untuk menjalankan hobinya, yaitu menulis. Ketua KKG di Madrasah tempatnya bertugas, sekaligus sekretaris di komunitas Guree Merunoe Aceh, dan wakil sekretaris di Pimpinan Daerah Punggawa Madrasah Nasional Indonesia Banda Aceh (PD-PGMNI Banda Aceh) memenuhi kesibukannya hari-hari. Harapan terdalam semoga karya-karya yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, dan juga bagi orang lain. Penulis dapat dihubungi melalui email jurtafahry@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Prof. Hasan Langgulung: A Great Psychologist of the Malay World

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00