• Latest
Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman - b8432622 6150 4289 9418 3765073c9fe6 scaled | Aksi Sosial | Potret Online

Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Maret 16, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Redaksi by Redaksi
Maret 16, 2025
in Aksi Sosial, Baca Puisi, Berbagi, Diafragma
Reading Time: 8 mins read
0
Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman - b8432622 6150 4289 9418 3765073c9fe6 scaled | Aksi Sosial | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

GKJW Madiun, GUSDURian, dan Kelompok Lintas Iman Gelar Buka Puasa Bersama

Dalam semangat mempererat persaudaraan dan merawat keberagaman, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Madiun bersama GUSDURian Madiun serta kelompok lintas iman menggelar acara Bagi Takjil dan Buka Bersama pada Sabtu (15/3). Kegiatan yang berlangsung di Basement GKJW Jemaat Madiun, Jl. Panglima Sudirman No. 13, Kota Madiun, ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dari beragam latar belakang agama dan organisasi.

Hadir dalam acara ini Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), BEM STAINU Madiun, IPNU-IPPNU, Jaringan Kebudayaan Madiun, serta masyarakat umum lainnya. Sejumlah tokoh masyarakat turut serta dalam kegiatan ini, di antaranya Pendeta Brahm Kharismatius, Yakobus Wasit, Fileski Walidha Tanjung, Titus Tri Wibowo, Agnes Adhani, Dian Widiyawati, Nugroho Budi Wibowo, dan Ulil Absor.

Acara ini bertujuan memupuk solidaritas dan kebersamaan antar umat beragama. Haris Saputra, Koordinator GUSDURian Madiun, menegaskan bahwa kegiatan ini rutin digelar setiap tahun di bulan Ramadan.

“Acara ini rutin diadakan setiap tahun. Harapannya, semoga semangat kebersamaan ini menular ke berbagai elemen masyarakat lainnya,” ujar Haris.

Meskipun hujan sempat mengguyur Kota Madiun, semangat para peserta tidak surut. Mereka tetap bersemangat membagikan ratusan paket takjil kepada para pengguna jalan di depan GKJW Madiun.

Pendeta GKJW Madiun, Brahm Kharismatius, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bukti bahwa kerukunan antar umat beragama bisa terus terjaga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa di Madiun ini, kita hidup rukun dan damai. Harapannya, kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

Selain pembagian takjil dan buka puasa bersama, acara ini juga diisi dengan Sarasehan Kebangsaan, doa lintas iman, serta pembacaan puisi menjelang berbuka.

Sastrawan Fileski Walidha Tanjung membuka sarasehan dengan pembacaan puisi bertema toleransi dan harmoni dalam keberagaman, yang dikolaborasikan dengan gerak tari oleh Nugroho Budi Wibowo. Puisi karya Fileski yang lainnya juga dibacakan oleh Dian Widiyawati dan Viktoria Oso.

Suasana semakin hangat ketika peserta meneriakkan yel-yel persatuan:

“Ubur-ubur ikan lele — NKRI harga mati, lee!”

Gelak tawa dan sorak sorai memenuhi ruangan, menciptakan momen kebersamaan yang penuh keakraban.

Koordinator GUSDURian Madiun, Haris Saputra, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi simbol komitmen untuk membangun hubungan lintas agama yang lebih inklusif.

“Kita harus berani keluar dari zona nyaman dalam melihat hubungan antarumat beragama. Semoga ini menjadi pemicu semangat toleransi yang lebih luas di masa mendatang,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pesan dari Gus Dur, bahwa umat Muslim tidak hanya meminta dihormati saat berpuasa, tetapi juga harus menghormati mereka yang tidak berpuasa. 

“Acara ini adalah refleksi nyata bahwa keberagaman adalah anugerah. Melalui seni, kita bisa menyampaikan pesan toleransi dengan cara yang lebih mendalam dan menyentuh hati. Semoga kebersamaan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang.” Ujar Fileski. 

“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat solidaritas di tengah keberagaman. Kita membutuhkan lebih banyak ruang dialog dan kebersamaan seperti ini agar persatuan di masyarakat semakin kokoh.” Ujar Titus Tri Wibowo. 

Dengan adanya acara ini, GKJW Madiun dan seluruh elemen yang terlibat berharap semangat kebersamaan terus tumbuh dan menjadi penguat toleransi di Kota Madiun.

“Semoga ini bukan sekadar acara tahunan, tapi menjadi gerakan yang menginspirasi banyak orang untuk terus menjaga harmoni dan persaudaraan lintas iman,” tutup Pendeta Brahm Kharismatius.

Melalui kegiatan ini, Madiun kembali menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang bisa menyatukan. Semangat persaudaraan dan kebersamaan akan terus berkobar, menebarkan cahaya toleransi bagi negeri. 

Berikut beberapa puisi karya Fileski yang dibacakan di acara ini: 

Sajadah dan Salib 

Langit biru tanpa sekat-sekat  

sajadah terhampar luas

dan salib menjulang tinggi ke atas 

di antara cakrawala doa-doa 

Angin bertanya: “Kemana arah doamu itu mengudara?”  

Ia mengantarkan kepasrahan menuju kedamaian 

Ia menyampaikan keikhlasan menuju 

yang tanpa pilih kasih.  

Jangan kau titipkan dingin pada angin,  

sebab ia tak pernah kenal rumah, 

ia hanya kenal perjalanan.  

Seperti diriku dan dirimu

dua hati dengan kitab yang berbeda,  

tapi doa kita 

sama-sama menanam keteduhan. 

Jika engkau adalah matahari,  

jangan biarkan pepohonan meranggas 

Jika engkau adalah gunung

maka jadilah bayang-bayang.  

Karena tanpa bayang-bayang,  

matahari hanya kesepian di puncak

kesombongan.

2025 

Jendela dan Hujan 

Hujan mengetuk jendelaku,  

mengirim irama yang sama di hatimu.  

Apakah hujan bertanya sebelum ia turun:

“Hai yang di bawahku, apa agamamu?”

kurasa hujan tak akan bertanya

seperti itu

Toleransi adalah tetes-tetes hujan,  

ia datang dari langit yang sama,  

membasahi bumi tanpa pilih nama

Sekalipun matahari

tak akan bisa menghadang derasnya

yang berjatuhan di taman-tamanmu.  

Sebab tanpa tamanmu

lebah pun enggan bercumbu 

dan bunga-bungaku

 juga akan layu.  

2025

Lilin di Rumah Besar (dibacakan Viktoria Oso) 

Rumah besar ini,  

dibangun dengan pilar-pilar

Satu lilin tak akan cukup memberikan terangnya

sekalipun engkau lilin yang sangat besar

tak akan mampu menyingkap

lorong-lorong gelap rumah ini.

Engkau datang membawa cahaya

meski dengan warna yang berbeda

Aku pun berpijar,

bukan berarti cahayaku lebih terang

dari cahayamu  

Jadi biarkan jendela rumah ini terbuka, 

biarkan sinar purnama itu masuk kedalamnya

seperti toleransi yang menyala-nyala

di dada kita.  

Kita adalah lilin-lilin kecil yang menyala

dan perlahan meleleh seperti waktu

pada ujungnya, apa yang tersisa selain gelap dan kesendirian?

Bukankah seribu lilin kecil yang berpijar,

yang tersebar, yang menjalar

lebih baik daripada satu lilin yang besar

yang menyala sendirian.

Sebab kebersamaan dalam pijar adalah rahmat

yang menjadikan rumah kita terasa hangat.

2025 

Nafas yang Sama (dibacakan Dian Widiyawati) 

Di pasar kecil di sudut kota,  

aku mendengar azan dan lonceng gereja bersahut-sahutan

dari keduanya kudengar nafas 

yang tak mengenal keangkuhan

yang tak mengenal kesombongan 

Jangan kau tanyakan apa yang dihirup

oleh mayoritas

atau seberapa banyak udara yang

menjadi hak para minoritas

sebab tak ada yang bisa menggenggam udara, apalagi memilikinya

Bukankah nafas adalah pemberian-Nya

bernafas adalah 

bermakna menghirup dan melepas

kita hidup untuk

belajar menerima dan melepas

tak mungkin kita bisa menghirup

 tanpa melepas.

Jika ada yang lupa cara bernafas

sesungguhnya ia telah mati

meski detak detiknya masih berlari.

2025

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Moral yang Ikut Terguling

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com