Artikel · Potret Online

Kenangan Masa Kecil di Desa: Tradisi yang Mulai Hilang

Penulis  Siti Hajar
Januari 4, 2025
4 menit baca 355
Ilustrasi nostalgia masa kecil di desa Aceh dengan anak-anak bermain petak umpet di tepi sungai saat senja
Foto / IlustrasiSuasana hangat masa kecil di desa Aceh, ketika tawa anak-anak, aliran sungai, dan cahaya senja menjadi kenangan paling sederhana namun abadi.

Tahun 2024 baru saja berlalu. Kini, kita telah memasuki tahun 2025 dengan harapan dan tujuan yang lebih baik. Pergantian tahun ini membawa banyak perubahan di sekitar kita. Tanpa kita sadari, banyak kegiatan masa kecil yang kini tidak lagi bisa dinikmati bersama. Hal ini disebabkan oleh perubahan zaman yang semakin modern.

Kemajuan zaman ini tentu dipengaruhi oleh arus teknologi yang tak terhindarkan. Mau tidak mau, kita harus hidup berdampingan dengan teknologi. Banyak permainan dan kebiasaan masa lalu yang perlahan hilang, tergantikan oleh teknologi serta kebiasaan yang lebih modern.

Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak lagi mengenal permainan masa lalu tersebut. Berikut ini beberapa kegiatan masa kecil yang kini sangat jarang atau bahkan sulit kita temukan lagi:

Menyuci Baju dan Mencari Ikan di Sungai

Dulu, mencuci baju di sungai adalah rutinitas harian yang dilakukan oleh ibu-ibu dan anak-anak. Aktivitas ini melibatkan menyikat pakaian di pinggir sungai dengan air jernih yang mengalir deras. Namun, saat ini kebiasaan tersebut sudah jarang terlihat karena sebagian besar ibu-ibu mencuci baju dengan mesin cuci di rumah. Ini merupakan salah satu dampak dari perkembangan teknologi.

Selain mencuci, sungai juga menjadi tempat untuk mencari ikan, terutama bagi bapak-bapak. Di daerah kami, ikan kecil yang hidup di sungai dikenal sebagai ungkot crup. Ikan ini sering diolah menjadi lauk yang lezat. Sayangnya, kebiasaan mencari ikan di sungai kini mulai hilang, mungkin karena kesibukan pekerjaan yang membuat waktu untuk aktivitas ini semakin terbatas.

Mengangkut Kayu Bakar

Dahulu, untuk memasak di rumah, ibu-ibu menggunakan kayu bakar. Anak-anak sering membantu mencari kayu bakar di kebun atau hutan di belakang rumah. Namun, kebiasaan ini sudah sangat jarang ditemukan karena hampir semua rumah kini menggunakan kompor gas untuk memasak. Dulu ibu-ibu menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, mulai menyiapkan kayu bakar yang disusun rapi di samping rumah bagian luar dekat dapur. Semua ini dilakukan agar saat Ramadhan dan Idul Fitri fokus beribadah.

Membeli Minyak Tanah dengan Botol Kaca

Membeli minyak tanah dengan botol kaca adalah aktivitas yang sering dilakukan oleh anak-anak menjelang magrib. Minyak tanah digunakan untuk menyalakan pelita, yang menjadi sumber penerangan utama pada masa itu. Namun, seiring dengan beralihnya masyarakat ke listrik dan alat-alat modern, kebiasaan ini sudah hampir punah. Saya senang mendapatkan misi ini, karena kelebihan dari beli minyak tanah akan diberikan sebagai upah dan itu bisa untuk membeli kerupuk jengek.

Bermain Petak Umpet (Pet-Pet Ko – Bahasa Aceh)

Petak umpet adalah permainan tradisional yang sangat populer di kalangan anak-anak. Permainan ini biasanya dimainkan oleh lebih dari dua anak dan menjadi hiburan utama saat liburan sekolah. Namun, di zaman sekarang, permainan seperti ini sudah jarang terlihat karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai (HP) dan permainan digital.

Camilan dari Hasil Kebun

Pada masa kecil, anak-anak sering pergi ke kebun untuk memetik hasil panen, seperti pisang atau ubi, yang kemudian diolah menjadi camilan. Misalnya, kolak pisang, ubi rebus, atau aneka kue tradisional. Hampir setiap hari ada camilan segar di rumah, hasil dari kebun nenek atau pekarangan rumah. Tradisi ini kini mulai memudar karena camilan modern lebih mudah didapatkan di toko.

Keseruan Memungut Biji Melinjo

Daerah kami terkenal dengan emping melinjo. Saat kecil, memungut dan mengumpulkan biji melinjo adalah kegiatan yang menyenangkan. Kami menjual biji melinjo kepada pedagang (toke) yang datang ke kampung. Dari hasil penjualan, kami mendapatkan uang jajan yang membuat kami sangat bahagia.

Kadang, biji melinjo tersebut diolah sendiri menjadi emping oleh ibu. Kami membantu memukul biji melinjo hingga menjadi pipih, lalu menjemurnya. Emping yang dihasilkan biasanya dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan bijinya. Kegiatan ini mengajarkan kami tentang kerja keras dan bagaimana menghargai hasil alam.

Zaman telah berubah, begitu pula kehidupan di desa. Banyak hal sederhana yang dulu membawa kebahagiaan kini tergantikan oleh kemajuan teknologi. Namun, kenangan masa kecil ini tetap abadi di hati saya. Semoga cerita-cerita ini dapat terus dikenang dan diceritakan kepada generasi berikutnya, agar mereka juga memahami betapa indahnya masa lalu.

Penulis: Siti Hajar

 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...