• Latest
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - F67BFA9A EC61 4999 8463 D3AB4627A3E8 | Berbagi | Potret Online

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Juli 23, 2022
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - IMG_9514 | Berbagi | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 5

Redaksi by Redaksi
Juli 23, 2022
in Berbagi, Biografi
Reading Time: 3 mins read
0
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - F67BFA9A EC61 4999 8463 D3AB4627A3E8 | Berbagi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Bussairi D. Nyak Diwa

Satu semester atau tepatnya enam bulan lamanya aku pergi-pulang dari rumah ke sekolah dalam proses menuntut ilmu di SMP Negeri di kota tepi pantai itu. Saat liburan semester pertama berlangsung, aku total berada di kampung dengan berbagai aktivitas yang melenakan.

Mandi di sungai bersama kawan-kawan sambil mencari udang di sepanjang aliran sungai yang deras, dalam, dan berbatu-batu. Bermain layang-layang di sawah yang terhampar luas usai para petani kampung kami memanen hasilnya. Pergi ke kaki gunung di pinggir kampung, lalu meretas getah ‘rambong’ dan mengoles ke daunnya yang lebar-lebar itu, kemudian menjemur, lalu membuat balon dan menggulung-gulungnya menjadi bola kasti atau bola kaki. Dengan bola-bola alami itulah sorenya kami bermain kasti, volly, atau sepak bola di sawah yang becek dan luas. Sungguh-sungguh mengasyikkan.

Kami juga sering membuat bubu-bubu kecil dari bambu dan dirangkai dengan rotan yang telah dihaluskan. Sore menjelang malam, bubu-bubu kecil itu kami bawa ke pematang sawah. Di antara pematang sawah yang airnya mengalir, kami pasang bubu-bubu itu. Biasanya kegiatan ini kami lakukan kala padi mulai berbunga. Ikan-ikan seperti lele, gabus, sepat, dan ikan-ikan kecil lainnya banyak berkeliaran di dalam sawah mengikuti arus air. Jika malamnya turun hujan, maka dipastikan banyak sekali ikan itu yang tersangkut di dalam bubu. Pagi-pagi sekali kami mengangkat bubu-bubu itu, lalu membawa pulang berbagai macam ikan ke rumah untuk kemudian dimasak oleh ibu menjadi lauk makan pagi. Begitulah melewati keseharian di kampung halaman selama liburan berlangsung.

Mengawali semester ke dua di kelas satu SMP, aku mulai sadar akan sesuatu. Waktu itu sudah lama mengaji di rumah seorang Teungku di kampung kami. Sudah bertahun-tahun aku mengaji pada teungku yang bernama Tgk. Abdullah itu dan seingatku sudah lima kali khatam. Suatu malam terbetik di pikiranku untuk melanjutkan mengaji ke tingkat yang lebih tinggi. Maka kukatakanlah niatku itu pada ibu, tapi aku bilang pada ibu bahwa aku ingin melanjutkan mengaji ke kota Bakongan, ibukota kecamatan. Di sana ada sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang ulama kharismatik dan sepuh yaitu Abuya Syech Haji Adnan Mahmud atau lebih akrab kami panggil Nek Abu. Pesantren itu bernama Ashabul Yamin. Ke sanalah maksud hatiku untuk mengaji. Saat kusampaikan maksudku itu pada ibu, ibu sangat setuju.

Tanpa kuduga Ibu menyampaikannya pada Ayah. Dan ternyata Ayah juga sangat setuju dan mendukung rencana Ibu. Maka bulatlah tekad, mulai pertengahan tahun atau permulaan tahun ajaran baru aku sudah boleh mengaji di sana dengan syarat aku harus mondok di pesantren itu.

Mengetahui bahwa Ayah sangat setuju, hatiku pun sangat senang dan berbunga-bunga. Ibu mempersiapkan bahan-bahan keperluanku untuk mondok. Sebuah ranjang solo terbuat dari besi warisan orang tua ibu, Beliau persiapkan untukku. Ada juga sebuah tong yang terbuat dari kayu meranti yang mengkilat meskipun sudah tua dimakan usia, Ibu bersihkan tempat menyimpan pakaianku. Selebihnya adalah sebilah parang yang sudah mengecil ujungnya, sebuah pisau dapur, dan sebuah ‘umpang’ yang khusus dianyam ibu dari daun ‘sikee’ tempat menyimpan buku-buku dan kitab untuk persiapan sekolah dan mengaji. Oh ya, hampir lupa, Ibu juga tak lupa menyelipkan dalam eumpang itu selembar sajadah yang kelihatan masih baru. Jika tak salah, sajadah itu adalah sajadah yang sering digunakan ibu saat menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Meskipun seingatku sajadah itu sudah berulang kali digunakan Ibu untuk shalat hari raya, namun dari fisiknya kelihatan bersih dan masih baru. Begitulah, aku menerima semua pemberian itu dengan hati yang sangat senang dan bahagia.

 

(Bersambung)

 

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 577DAFCA F51D 495D A0B8 54EE266AB292 scaled | Berbagi | Potret Online

Wisata Hari Raya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com