POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

PGRI itu Milik Siapa?

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
January 25, 2025
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Tabrani Yunis

POTRET – Tanggal 25 November 2025 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) telah 79 tahun merayakan hari ulang tahun. Artinya, organisasi guru yang pertama dan terbesar di Nusantara ini berulang tahun yang ke 79. Dalam rangka ulang tahun PGRI para pengurus PGRI telah  sibuk menyusun acara dalam rangka memeriahkan acara milad organisasi itu. Seperti biasanya, selebrasi yang  seremonial berupa kegiatan mengenang jasa guru, misalnya acara ziarah, jalan santai dan mungkin ada acara-acara lomba yang sifatnya just for fun.Selain itu, karena kita berada di era digital, dimana penggunaan gadget sudah semakin lumrah, seperti ada momentum hari-hari besar, kita sudah terbiasa dan membiasakan diri mengirimkan ucapan selamat lewat pesan singkat (SMS), whatsapp, dan bahkan di media social seperti facebook, twitter dan bisa juga lewat instagram dan lain-lain. Pengiriman ucapan selamat sebagai tanda bahwa kita adalah bangsa yang menghormati dan menghargai guru. Apalagi ketika merayakan hari ulang tahun PGRI itu, sekaligus merayakan Hari Guru Nasional (HGN). Kita doakan PGRI semakin Berjaya dan menjadi perekat bagi para guru yang katanya sebagai pemilik organisasi profesi ini.

Ya, idealnya memang menjadi perekat bagi para guru dalam membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang masih tertatih-tatih ini. Apalagi ulang tahun PGRI saat ini adalah ultah yang ke 79, usia yang sudah cukup matang. Dikatakan demikian, bila kita membandingkan usia manusia, usia 79 tahun itu adalah usia manusia usia lanjut (manula). Biasanya, pada masa usia 79 tahun tingkat produktivitasnya sudah sangat menurun, bahkan banyak yang sudah tidak mampu melakukan apa-apa. Ini, kalau kita bandingkan dengan manusia, namun bila kita melihat dari perspektif organisasi, maka usia 79 tahun ini adalah usia organisasi yang sudah matang, berpengalaman dan sangat kuat dan stabil. Bahkan ada yang mengatakan sudah berada pada zona aman. Walau banyak pula organisasi yang pada usia itu dalam siklus kehidupan organisasi juga sudah pada masa-masa yang sulit berubah. Lalu, seperti apa PGRI pada usia 79 tahun ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, para pengurus PGRI dan guru selayaknya melakukan refleksi, bercermin, melihat kembali apakah visi dan misi organisasi guru yang sudah 79 tahun ini masih sejalan atau relevan  dengan kondisi saat ini dan kondisi di masa depan? PGRI memang harus memotret diri, mengajak para guru untuk bercermin, apakah masih sesuai atau tidak, kemajuan apa yang sudah dibuat untuk memajukan pendidikan nasional.

Apalagi  dalam konteks kekinian, seiring dengan bermunculan berbagai organisasi guru di luar PGRI yang jumlahnya lumayan banyak itu, dimana guru-guru yang selama ini menjadi anggota PGRI daerah banyak yang ikut bergabung ke organisasi alternatif, seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) dan lain-lain hingga ke Aceh ada yang menamakan Kobar-GB, Asgu-NAD dan lain. Organisasi guru alternatif ini malah selama ini sangat aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang responsive terhadap guru. Dalam konteks Aceh saja, kita melihat bagaimana getolnya Kobar GB melakukan advokasi terhadap guru-guru di Aceh yang bukan saja menyangkut nasib guru PNS, tetapi juga guru-guru non PNS. Begitu juga dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang terus bergerilya melakukan upaya peningkatan kapasitas guru lewat sejumlah kegiatan yang sangat memberdayakan guru, meningkatkan kapasitas guru lewat program literasi, melatih guru menulis hingga melahir guru-guru penulis buku. Sementara PGRI menjadi organisasi guru yang semakin tidak kreatif, tidak produktif dan tidak advokatif terhadap anggotanya. PGRI sepertinya udah masuk pada stadium stagnan, sudah mentok. Mungkin karena sudah merasa mapan, sehingga tidak produktif lagi. Biasanya, kalau  sudah enak berada di zona aman, kepedulian, kreativitas dan produktivitas sering mati.

📚 Artikel Terkait

Rintik Hujan

Selembar Mukena di Ujung Malam

Menerobos Waktu

Aceh Miskin?

Nah, ketika PGRI tampil semakin gemulai, maka selama ini banyak guru, terutama yang ingin berkembang memilih bergabung ke organisasi guru alternatif tersebut. Bila semakin banyak guru bergabung ke organisasi guru alternative tersebut, pertanyaan kita adalah apakah PGRI masih diperlukan? Pertanyaan ini penting dijawab, karena banyak peran yang seharusnya dilakukan atau dilaksanakan oleh PGRI kini malah dilakukan oleh organisasi guru alternatif,misalnya peningkatan kapasitas guru di bidang menulis, literasi dan lain-lain. PGRI sendiri kelihatan vakum, tanpa ada kegiatan yang memberdayakan anggotanya.Selayaknya di hari ulang tahun ke 79 ini PGRI berkaca diri.

Selain itu, ada masalah klasik yang hingga kini masih belum selesai. Sebuah pertanyaan reflektif yang selalu ditanyakan oleh anggota PGRI yang memiliki kepedulian dan sikap kritis. Sebuah pertanyaan yang sudah lama dialamatkan kepada PGRI. Pertanyaannya adalah milik siapakah  PGRI itu? Mungkin, terasa aneh pertanyaan ini dilemparkan lagi, karena dilihat dari namanya adalah Persatuan Guru Republik Indonesia. Berarti organisasi ini adalah milik guru. Seharusnya sebagai organisasi guru, PGRI adalah milik guru dan dipimpin oleh guru. Namun, fakta sejarah hingga kini, organisasi besar ini tidak dipimpin oleh guru, tetapi oleh pejabat yang masih aktif di pemerintahan, mulai di tingkat pusat hingga ke daerah-daerah. Cobalah lihat dan ingat nama-nama pejabat yang memimpin PGRI di tingkat Pusat. Kita akan menemukan nama Sulistyo yang juga seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2009-2014. Lalu, sebelumnya PGRI dikomandani oleh Bapak Prof. Dr. Mohamad Surya, juga seorang anggota DPD periode 2004-2009. Di tingkat daerah seperti di Aceh, ketua PGRI juga dijabat oleh pejabat, bukan guru. Posisi guru hanya sebagai anggota. Seharusnya, kalau para pejabat Dinas mau menjadi ketua, bentuk saja organisasi penjabat sendiri. Bisa membuat nama baru, misalnya, Persatuan Pejabat Republik Indonesia (PPRI), bukan PGRI.

Sudah saatnya PGRI membenah diri dan mendelegasikan tampuk kepemimpinnya kepada guru. Selama ini para guru tidak mendapatkan kemerdekaan dalam mengurus organisasi profesinya sendiri. Saatnya para pejabat yang mempimpin PGRI selama ini dengan cara legowo menyiapkan kader-kader dari kalangan guru untuk menjadi pemimpin. Bukan malah sebaliknya rangkap jabatan yang kesannya, rakus terhadap jabatan itu. Hari ini, yang juga dirayakan sebagai Hari Guru Nasional yang mengangkat tema “Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru”, selayaknya kita memberikan penghargaan kepada guru, bukan penghargaanmaterial seperti sertifikat, plakat dan sejenis lainnya saja, tetapi memberikan kepercayaan, penghormatan dan penghargaan kepada guru untuk menjadi pemimpin di kalangan guru itu sendiri. Berikan mereka kesempatan dan kepercayaan. Pasti ada di antara mereka yang memiliki kemampuan untuk memimpin.

Jangan ada lagi seperti selama ini ketika ketua PGRI yang berstatus pejabat tersebut, tidak dapat menjalankan tugasnya, karena sesuatu hal, peralihan pucuk pimpinan PGRI juga diserahkan kepada pejabat yang masih aktif. Jadi, pertanyaannya lagi adalah kapan PGRI itu diserahkan kepada guru yang menjadi pemilik organisasi tersebut? Apakah guru memang tidak layak memimpin organisasi guru, karena tidak memiliki kapasitas kepemimpinan untuk memimpin PGRI?

Terlalu naif bila tidak ada guru yang mampu mengurus organisasi guru. Yakinlah, banyak guru yang mampu. Masalahnya adalah karena selama tidak ada kerelaan, tidak kepercayaan dari para pejabat yang mengurus guru untuk memberikan kepercayaan itu kepada guru. Ada baiknya dilihat kasus-kasus pola relasi antara para guru dengan pemimpin atau pengurus PGRI selama ini. Disadari atau tidak, ketika PGRI dipegang oleh pejabat, banyak hambatan dan kendala yang dirasakan guru dalam menyampaikan aspirasimereka. Salah satu kondisi buruknya adalah, apabila ada pendapat guru yang berbeda, maka berhadapan dengan pejabat yang risikonya tinggi. Bisa saja gaji ditahan, pangkat ditahan dan lain sebagainya. Kondisi semacam ini jelas tidak bisa membuat para guru di negeri ini, bisa muncul sebagai dirinya dan sebagai guru yang harus diteladani. Tentu banyak hal lain yang bisa digali, namun tidak mungkin semua termuat dalam satu tulisan singkat ini. Mari kita mengambil pelajaran. Selamat Hari Guru Nasional (HGN), mari kita membenah diri dan menjadi teladan bagi semua orang. Semoga.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk

Model Korupsi Administrasi Tanda Ambruknya Fitrah Kemuliaan Manusia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00