Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
POTRET – Tanggal 25 November 2025 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) telah 79 tahun merayakan hari ulang tahun. Artinya, organisasi guru yang pertama dan terbesar di Nusantara ini berulang tahun yang ke 79. Dalam rangka ulang tahun PGRI para pengurus PGRI telah  sibuk menyusun acara dalam rangka memeriahkan acara milad organisasi itu. Seperti biasanya, selebrasi yang  seremonial berupa kegiatan mengenang jasa guru, misalnya acara ziarah, jalan santai dan mungkin ada acara-acara lomba yang sifatnya just for fun.Selain itu, karena kita berada di era digital, dimana penggunaan gadget sudah semakin lumrah, seperti ada momentum hari-hari besar, kita sudah terbiasa dan membiasakan diri mengirimkan ucapan selamat lewat pesan singkat (SMS), whatsapp, dan bahkan di media social seperti facebook, twitter dan bisa juga lewat instagram dan lain-lain. Pengiriman ucapan selamat sebagai tanda bahwa kita adalah bangsa yang menghormati dan menghargai guru. Apalagi ketika merayakan hari ulang tahun PGRI itu, sekaligus merayakan Hari Guru Nasional (HGN). Kita doakan PGRI semakin Berjaya dan menjadi perekat bagi para guru yang katanya sebagai pemilik organisasi profesi ini.
Ya, idealnya memang menjadi perekat bagi para guru dalam membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang masih tertatih-tatih ini. Apalagi ulang tahun PGRI saat ini adalah ultah yang ke 79, usia yang sudah cukup matang. Dikatakan demikian, bila kita membandingkan usia manusia, usia 79 tahun itu adalah usia manusia usia lanjut (manula). Biasanya, pada masa usia 79 tahun tingkat produktivitasnya sudah sangat menurun, bahkan banyak yang sudah tidak mampu melakukan apa-apa. Ini, kalau kita bandingkan dengan manusia, namun bila kita melihat dari perspektif organisasi, maka usia 79 tahun ini adalah usia organisasi yang sudah matang, berpengalaman dan sangat kuat dan stabil. Bahkan ada yang mengatakan sudah berada pada zona aman. Walau banyak pula organisasi yang pada usia itu dalam siklus kehidupan organisasi juga sudah pada masa-masa yang sulit berubah. Lalu, seperti apa PGRI pada usia 79 tahun ini?
Untuk menjawab pertanyaan itu, para pengurus PGRI dan guru selayaknya melakukan refleksi, bercermin, melihat kembali apakah visi dan misi organisasi guru yang sudah 79 tahun ini masih sejalan atau relevan  dengan kondisi saat ini dan kondisi di masa depan? PGRI memang harus memotret diri, mengajak para guru untuk bercermin, apakah masih sesuai atau tidak, kemajuan apa yang sudah dibuat untuk memajukan pendidikan nasional.
Apalagi  dalam konteks kekinian, seiring dengan bermunculan berbagai organisasi guru di luar PGRI yang jumlahnya lumayan banyak itu, dimana guru-guru yang selama ini menjadi anggota PGRI daerah banyak yang ikut bergabung ke organisasi alternatif, seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) dan lain-lain hingga ke Aceh ada yang menamakan Kobar-GB, Asgu-NAD dan lain. Organisasi guru alternatif ini malah selama ini sangat aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang responsive terhadap guru. Dalam konteks Aceh saja, kita melihat bagaimana getolnya Kobar GB melakukan advokasi terhadap guru-guru di Aceh yang bukan saja menyangkut nasib guru PNS, tetapi juga guru-guru non PNS. Begitu juga dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang terus bergerilya melakukan upaya peningkatan kapasitas guru lewat sejumlah kegiatan yang sangat memberdayakan guru, meningkatkan kapasitas guru lewat program literasi, melatih guru menulis hingga melahir guru-guru penulis buku. Sementara PGRI menjadi organisasi guru yang semakin tidak kreatif, tidak produktif dan tidak advokatif terhadap anggotanya. PGRI sepertinya udah masuk pada stadium stagnan, sudah mentok. Mungkin karena sudah merasa mapan, sehingga tidak produktif lagi. Biasanya, kalau  sudah enak berada di zona aman, kepedulian, kreativitas dan produktivitas sering mati.
📚 Artikel Terkait
Nah, ketika PGRI tampil semakin gemulai, maka selama ini banyak guru, terutama yang ingin berkembang memilih bergabung ke organisasi guru alternatif tersebut. Bila semakin banyak guru bergabung ke organisasi guru alternative tersebut, pertanyaan kita adalah apakah PGRI masih diperlukan? Pertanyaan ini penting dijawab, karena banyak peran yang seharusnya dilakukan atau dilaksanakan oleh PGRI kini malah dilakukan oleh organisasi guru alternatif,misalnya peningkatan kapasitas guru di bidang menulis, literasi dan lain-lain. PGRI sendiri kelihatan vakum, tanpa ada kegiatan yang memberdayakan anggotanya.Selayaknya di hari ulang tahun ke 79 ini PGRI berkaca diri.
Selain itu, ada masalah klasik yang hingga kini masih belum selesai. Sebuah pertanyaan reflektif yang selalu ditanyakan oleh anggota PGRI yang memiliki kepedulian dan sikap kritis. Sebuah pertanyaan yang sudah lama dialamatkan kepada PGRI. Pertanyaannya adalah milik siapakah  PGRI itu? Mungkin, terasa aneh pertanyaan ini dilemparkan lagi, karena dilihat dari namanya adalah Persatuan Guru Republik Indonesia. Berarti organisasi ini adalah milik guru. Seharusnya sebagai organisasi guru, PGRI adalah milik guru dan dipimpin oleh guru. Namun, fakta sejarah hingga kini, organisasi besar ini tidak dipimpin oleh guru, tetapi oleh pejabat yang masih aktif di pemerintahan, mulai di tingkat pusat hingga ke daerah-daerah. Cobalah lihat dan ingat nama-nama pejabat yang memimpin PGRI di tingkat Pusat. Kita akan menemukan nama Sulistyo yang juga seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2009-2014. Lalu, sebelumnya PGRI dikomandani oleh Bapak Prof. Dr. Mohamad Surya, juga seorang anggota DPD periode 2004-2009. Di tingkat daerah seperti di Aceh, ketua PGRI juga dijabat oleh pejabat, bukan guru. Posisi guru hanya sebagai anggota. Seharusnya, kalau para pejabat Dinas mau menjadi ketua, bentuk saja organisasi penjabat sendiri. Bisa membuat nama baru, misalnya, Persatuan Pejabat Republik Indonesia (PPRI), bukan PGRI.
Sudah saatnya PGRI membenah diri dan mendelegasikan tampuk kepemimpinnya kepada guru. Selama ini para guru tidak mendapatkan kemerdekaan dalam mengurus organisasi profesinya sendiri. Saatnya para pejabat yang mempimpin PGRI selama ini dengan cara legowo menyiapkan kader-kader dari kalangan guru untuk menjadi pemimpin. Bukan malah sebaliknya rangkap jabatan yang kesannya, rakus terhadap jabatan itu. Hari ini, yang juga dirayakan sebagai Hari Guru Nasional yang mengangkat tema “Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru”, selayaknya kita memberikan penghargaan kepada guru, bukan penghargaanmaterial seperti sertifikat, plakat dan sejenis lainnya saja, tetapi memberikan kepercayaan, penghormatan dan penghargaan kepada guru untuk menjadi pemimpin di kalangan guru itu sendiri. Berikan mereka kesempatan dan kepercayaan. Pasti ada di antara mereka yang memiliki kemampuan untuk memimpin.
Jangan ada lagi seperti selama ini ketika ketua PGRI yang berstatus pejabat tersebut, tidak dapat menjalankan tugasnya, karena sesuatu hal, peralihan pucuk pimpinan PGRI juga diserahkan kepada pejabat yang masih aktif. Jadi, pertanyaannya lagi adalah kapan PGRI itu diserahkan kepada guru yang menjadi pemilik organisasi tersebut? Apakah guru memang tidak layak memimpin organisasi guru, karena tidak memiliki kapasitas kepemimpinan untuk memimpin PGRI?
Terlalu naif bila tidak ada guru yang mampu mengurus organisasi guru. Yakinlah, banyak guru yang mampu. Masalahnya adalah karena selama tidak ada kerelaan, tidak kepercayaan dari para pejabat yang mengurus guru untuk memberikan kepercayaan itu kepada guru. Ada baiknya dilihat kasus-kasus pola relasi antara para guru dengan pemimpin atau pengurus PGRI selama ini. Disadari atau tidak, ketika PGRI dipegang oleh pejabat, banyak hambatan dan kendala yang dirasakan guru dalam menyampaikan aspirasimereka. Salah satu kondisi buruknya adalah, apabila ada pendapat guru yang berbeda, maka berhadapan dengan pejabat yang risikonya tinggi. Bisa saja gaji ditahan, pangkat ditahan dan lain sebagainya. Kondisi semacam ini jelas tidak bisa membuat para guru di negeri ini, bisa muncul sebagai dirinya dan sebagai guru yang harus diteladani. Tentu banyak hal lain yang bisa digali, namun tidak mungkin semua termuat dalam satu tulisan singkat ini. Mari kita mengambil pelajaran. Selamat Hari Guru Nasional (HGN), mari kita membenah diri dan menjadi teladan bagi semua orang. Semoga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






