Oleh Juni Ahyar
Kita hanyalah pengembara yang berjalan pelan,
menyusuri lorong waktu menuju satu titik persinggahan.
Tak memandang usia, tak menatap harta yang tergenggam,
semua melangkah ke muara yang sama, dalam senyap yang temaram.
Mengapa harus lelah menghitung cela milik sesama,
jika raga sendiri masih dipenuhi noda dan luka?
Mengapa membiarkan dendam mengikis ruang di dada,
padahal hidup hanya sekelebat bayang yang sebentar saja?
Subuh tadi tawa itu masih terdengar riang di meja makan,
namun senja membawanya pergi menjadi sebaris kenangan.
Semalam rincian esok disusun dengan penuh cita,
namun takdir menutup buku tanpa permisi dan kata.
Maka berseluncurlah dalam kebaikan selagi napas masih milik kita.
Ucapkan maaf, lapangkan dada untuk memaafkan sesama.
Sebab tatkala seruan pulang itu akhirnya bergema, seisi dunia tertinggal,
tak ada satu detik pun yang bisa ditawar manusia.
Semoga sebelum giliran itu benar-benar tiba,
Tuhan melembutkan hati yang keras dan mengampuni dosa.
Agar kelak di penghujung jalan yang sunyi ini,
kita menyambut-Nya dengan jiwa yang pasrah dan suci.
Diskusi