Artikel · Potret Online

Pasar Bebas, Kapitalisme, dan Pergulatan Keadilan Sosial dalam The Making of a New World: Between Business and Empire

Penulis  Novita Sari Yahya
Agustus 2, 2026
7 menit baca 10
IMG_2417
Foto / IlustrasiPasar Bebas, Kapitalisme, dan Pergulatan Keadilan Sosial dalam The Making of a New World: Between Business and Empire
Disunting Oleh

Pasar Bebas, Kapitalisme, dan Pergulatan Keadilan Sosial dalam The Making of a New World: Between Business and Empire

Oleh: Novita Sari Yahya

  • Ketika Kebebasan Ekonomi Berhadapan dengan Tantangan Keadilan Sosial

Dalam perjalanan sejarah dunia modern, pasar bebas dan kapitalisme sering dipandang sebagai kekuatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi, perdagangan internasional, dan kebebasan individu. Sistem ekonomi berbasis pasar memberikan ruang bagi manusia untuk membuka usaha, melakukan investasi, mengembangkan kreativitas, serta menentukan pilihan ekonomi berdasarkan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya.

Para pendukung kebebasan ekonomi berpendapat bahwa masyarakat akan berkembang apabila individu diberikan ruang yang luas untuk berusaha tanpa terlalu banyak pembatasan. Dalam perspektif ini, hak untuk memiliki usaha dan melakukan aktivitas ekonomi dianggap sebagai bagian dari kebebasan manusia.

Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa kebebasan pasar tidak selalu menghasilkan kesejahteraan yang merata. Ketika mekanisme pasar berjalan tanpa keseimbangan regulasi, perlindungan sosial, dan pengawasan terhadap konsentrasi kekuatan ekonomi, maka keuntungan ekonomi dapat lebih mudah terkumpul pada kelompok yang memiliki modal, teknologi, dan akses terbesar.

Persoalannya bukan terletak pada perdagangan atau aktivitas bisnis itu sendiri. Perdagangan telah menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban manusia. Masalah muncul ketika hubungan ekonomi menciptakan ketimpangan kekuasaan yang membuat sebagian kelompok memiliki kemampuan besar untuk menentukan arah ekonomi, sementara kelompok lain hanya memiliki posisi sebagai penyedia tenaga kerja.

Mereka yang memiliki perusahaan, modal, jaringan bisnis, dan sumber daya memiliki posisi yang berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan tenaga dan waktu untuk bertahan hidup.

Kondisi inilah yang sering disebut sebagai kemiskinan struktural, yaitu keadaan ketika keterbatasan ekonomi tidak hanya disebabkan oleh pilihan individu, tetapi juga oleh struktur sosial, akses pendidikan, kesempatan ekonomi, dan sistem perlindungan yang belum memadai.

Karena itu, keberhasilan seseorang dalam sistem ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kerja keras pribadi, tetapi juga oleh lingkungan sosial dan kesempatan yang tersedia.

San Francisco Awal Abad ke-20: Antara Kemajuan Industri dan Realitas Buruh

Dalam novel sejarah The Making of a New World: Between Business and Empire, Novita Sari Yahya menggambarkan San Francisco sebagai kota yang berada dalam masa perubahan besar akibat perkembangan industri, perdagangan internasional, dan ekspansi ekonomi Amerika Serikat.

Pada awal abad ke-20, San Francisco merupakan salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Pasifik. Pelabuhan menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan: perusahaan besar, pedagang internasional, pekerja migran, pelaut, dan buruh industri.

Kemajuan ekonomi kota tersebut melahirkan perubahan besar. Perusahaan berkembang, jaringan perdagangan semakin luas, dan aktivitas bisnis meningkat. Namun di balik kemajuan itu terdapat ribuan pekerja yang menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi.

Para pekerja pelabuhan menghadapi pekerjaan berat dengan risiko kecelakaan, ketidakpastian pekerjaan, dan perlindungan tenaga kerja yang belum berkembang seperti masa modern.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika sosial Amerika pada era industrialisasi, ketika hubungan antara pemilik modal dan pekerja mengalami perubahan besar. Gerakan buruh berkembang bukan karena pekerja menolak kemajuan ekonomi, tetapi karena mereka menuntut agar manusia yang menjadi dasar produksi juga mendapatkan penghormatan dan perlindungan.

Melalui tokoh Wulan, pembaca melihat dua wajah San Francisco. Ia melihat dunia bisnis yang berbicara tentang investasi, perdagangan, dan perkembangan kota. Namun ia juga melihat dunia pekerja yang berbicara tentang tubuh, kelelahan, keselamatan, dan martabat.

Jack dan Kesadaran Baru Kaum Pekerja

Karakter Jack menggambarkan munculnya kesadaran bahwa pekerja bukan sekadar tenaga produksi, melainkan manusia yang memiliki hak.

Perjuangan buruh pada masa industri tidak hanya berkaitan dengan upah. Persoalannya juga menyangkut jam kerja, keselamatan, perlindungan keluarga, dan pengakuan bahwa manusia tidak dapat diperlakukan hanya sebagai alat produksi.

Jack memahami bahwa persoalan buruh bukan sekadar masalah individu. Ketika seorang pekerja mengalami kecelakaan tanpa perlindungan, ketika keluarga kehilangan sumber penghasilan, atau ketika seseorang tidak memiliki kekuatan untuk menyampaikan keberatan, maka persoalan tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam hubungan ekonomi.

Kesadaran kolektif kemudian menjadi dasar munculnya organisasi buruh. Para pekerja mulai memahami bahwa suara individu sering kali tidak cukup ketika berhadapan dengan kekuatan ekonomi yang besar.

Namun perjuangan buruh tidak berarti penolakan terhadap perdagangan atau kemajuan industri. Sebaliknya, banyak pekerja merupakan bagian utama dari pembangunan industri itu sendiri. Yang mereka perjuangkan adalah agar kemajuan ekonomi berjalan bersama nilai kemanusiaan.

Benturan Pandangan: Kebebasan Ekonomi dan Tanggung Jawab Sosial

Konflik antara dunia bisnis dan dunia pekerja menggambarkan perdebatan besar dalam sejarah ekonomi modern.

Para pemilik modal melihat kebebasan usaha sebagai faktor penting bagi kemajuan. Perusahaan membutuhkan ruang untuk berkembang, mengambil risiko, melakukan inovasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Pandangan tersebut memiliki dasar karena investasi dan kewirausahaan memang menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi.

Namun persoalan muncul apabila keuntungan ekonomi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Jika manusia hanya dipandang sebagai biaya produksi, maka pekerja kehilangan posisi sebagai individu yang memiliki hak dan martabat.

Wulan mulai memahami bahwa pertanyaan utama bukanlah apakah perdagangan harus dihentikan atau apakah bisnis harus dibatasi sepenuhnya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Bagaimana menciptakan sistem ekonomi yang tetap memberikan ruang bagi kebebasan berusaha, tetapi juga memastikan bahwa manusia tidak kehilangan hak dan martabatnya?

Ia menyadari bahwa kebebasan dalam teori tidak selalu sama dengan kebebasan dalam kenyataan.

Seseorang yang memiliki perusahaan besar, kapal, gudang, dan modal tentu memiliki pilihan yang berbeda dibandingkan seseorang yang hanya memiliki tenaga kerja.

Wulan sebagai Saksi Perubahan Dunia Modern

Wulan menjadi tokoh yang berada di antara dua dunia.

Ia memahami bahwa perdagangan membawa perubahan, membuka hubungan antarbangsa, dan menciptakan perkembangan ekonomi. Namun ia juga melihat bahwa kemajuan tersebut memiliki sisi lain ketika sebagian manusia yang menopang sistem ekonomi justru tidak memperoleh perlindungan yang memadai.

Ia melihat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh pemilik modal, pengusaha, atau investor.

Kota juga dibangun oleh pekerja pelabuhan, buruh angkut, pelaut, dan masyarakat biasa yang bekerja setiap hari agar roda ekonomi terus berjalan.

Di antara gedung tinggi, kapal besar, dan jaringan perdagangan internasional, terdapat tangan-tangan manusia yang sering tidak terlihat.

Keadilan Sosial sebagai Keseimbangan

Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat modern membutuhkan keseimbangan antara kebebasan ekonomi dan tanggung jawab sosial.

Negara tidak harus menghilangkan kebebasan pasar, tetapi memiliki peran untuk memastikan bahwa kebebasan tersebut tidak berubah menjadi dominasi kelompok tertentu terhadap kelompok lain.

Perlindungan tenaga kerja, pendidikan, akses kesehatan, jaminan sosial, dan regulasi ekonomi merupakan bagian dari usaha menciptakan kesempatan yang lebih adil.

Hak asasi manusia bukan hanya mencakup kebebasan untuk memiliki usaha dan bersaing, tetapi juga mencakup hak untuk hidup layak, mendapatkan perlakuan manusiawi, dan memiliki kesempatan berkembang.

Kesimpulan

The Making of a New World: Between Business and Empire menggambarkan perubahan dunia modern melalui hubungan yang kompleks antara modal, pekerja, perdagangan, dan perjuangan manusia mempertahankan martabat.

Kabut San Francisco menjadi simbol sebuah zaman yang sedang berubah. Di balik kemajuan industri terdapat pertanyaan besar mengenai hubungan antara kekayaan dan tanggung jawab, antara kebebasan dan keadilan, serta antara pertumbuhan ekonomi dan nilai kemanusiaan.

Pasar dapat menjadi kekuatan besar bagi kemajuan manusia, tetapi pasar membutuhkan keseimbangan agar manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Sebuah peradaban tidak hanya dinilai dari seberapa besar kekayaan yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari bagaimana manusia yang membangun kekayaan tersebut diperlakukan.

Daftar Referensi.

Cherny, Robert W. San Francisco, 1865–1932: Politics, Power, and Urban Development. Berkeley: University of California Press, 2011.

Davis, Mike. Prisoners of the American Dream: Politics and Economy in the History of the US  Working Class. London: Verso, 1986.

Foner, Eric. Give Me Liberty!: An American History. Edisi ke-6. New York: W. W. Norton & Company, 2019.

Hobsbawm, Eric. The Age of Empire: 1875–1914. London: Weidenfeld & Nicolson, 1987.

Marx, Karl. Capital: A Critique of Political Economy. Volume I. Diterjemahkan oleh Ben Fowkes. London: Penguin Classics, 1990.

Polanyi, Karl. The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Boston: Beacon Press, 1944.

Sen, Amartya. Development as Freedom. New York: Oxford University Press, 1999.

Stiglitz, Joseph E. The Price of Inequality: How Today’s Divided Society Endangers Our Future. New York: W. W. Norton & Company, 2012.

Yahya, Novita Sari. The Making of a New World: Between Empires and Industry – Wulandari & Jack. Manuskrip / Novel Sejarah, 2026.

Zinn, Howard. A People’s History of the United States. New York: Harper Perennial, 2005.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...