Menimbang Ulang Falsafah Tan Hana Dharma Mangruah Di Era Kebisingan Digital
Oleh Yani Andoko
Ketika Riuh Menggantikan Makna
Pernahkah Anda merasa lelah? Bukan lelah fisik setelah seharian bekerja, tetapi lelah batin setelah menggulir layar ponsel selama dua jam. Begitu banyak kabar: ada politikus berdebat, selebritas berseteru, tetangga pamer liburan, mantan menikah, dan di sudut lain, seseorang membagikan curahan hati yang memilukan. Semua datang bersamaan, semua menuntut reaksi, semua berteriak minta perhatian.
Di tengah riuh itu, Anda mungkin bertanya: apakah semua ini berarti?
Saya teringat pada sebuah falsafah kuno yang terukir dalam kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari abad ke-14. Kita hafal bagian pertamanya Bhinneka Tunggal Ika, “Berbeda-beda tetapi tetap satu.”
Tapi kalimat kedua sering luput dari perhatian: Tan Hana Dharma Mangrwa, yang berarti “Tidak ada kebenaran yang mendua” atau dalam tafsir lain, “Tiada dharma yang bermakna jika tak terwujud.”
Falsafah ini bukan sekadar semboyan kuno. Ia adalah cermin untuk membaca zaman kita. Di era di mana pikiran kita “bebas” dalam arti akses tak terbatas, justru kebenaran terasa semakin kabur. Kita ramai berdebat, tetapi jarang diam untuk merenung. Pikiran kita melanglang buana, tapi jiwa kita terasa sunyi.
Kita bebas berbicara, tetapi tidak bebas dari kecemasan. Kita kritis terhadap dunia, tetapi lupa mengkritisi diri sendiri.
Mari kita bongkar bersama: apa makna Tan Hana Dharma Mangruah bagi kita yang hidup di tengah gempuran algoritma, hoaks, dan informasi yang tak pernah berhenti?
Kebebasan Pikiran vs. Kemerdekaan Jiwa
A. Warisan Yunani: Kebebasan Berpikir Yang Melahirkan Peradaban
Filsafat Yunani kuno mengajarkan kita untuk mempertanyakan segala sesuatu. Aristoteles membangun logika dengan silogismenya yang elegan: “Semua manusia akan mati, Socrates adalah manusia, maka Socrates akan mati.” Socrates, dengan metode tanya-jawabnya, mengajak orang-orang Athena untuk berpikir kritis, menyingkap kebohongan di balik kepongahan, dan tidak menerima kebenaran begitu saja tanpa pemeriksaan rasional.
Dari tradisi ini, kita mewarisi semangat kebebasan berpikir yang kemudian melahirkan sains, demokrasi, dan hukum formal. Ini adalah pencapaian besar peradaban manusia. Manusia tidak lagi menjadi budak mitos dan takhayul. Kita belajar bahwa realitas bisa diukur, dianalisis, dan dipahami.
Namun hari ini, kebebasan berpikir seolah berubah menjadi kebebasan berteriak. Di media sosial, kebebasan berpendapat sering disalahartikan sebagai lisensi untuk menghakimi, merundung, dan membungkam siapa pun yang berbeda.
Fenomena herd mentality mentalitas kawanan menguasai. Cukup satu provokasi, ribuan orang langsung menyerbu tanpa benar-benar memahami apa yang mereka serang.
B. Sisi Gelap Kebebasan Tanpa Batas:
Hoaks, Algoritma, Dan Kebisingan
Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, mengingatkan kita untuk menghidupkan kembali nalar kritis di tengah derasnya hoaks dan disinformasi. “Kuncinya, jangan cepat percaya dengan informasi yang kelihatannya begitu mudah,” tegasnya. Namun tantangan kini lebih berat: kecerdasan buatan (AI) bisa menciptakan wajah manusia fiktif yang tak pernah ada, bahkan meniru tokoh agama untuk memicu kerusuhan di negara plural seperti Indonesia.
Coba bayangkan: seseorang bisa membuat video seorang ulama terkemuka mengucapkan kalimat yang tidak pernah ia ucapkan. Dengan teknologi deepfake, suara dan gerakannya begitu meyakinkan. Dalam hitungan jam, video itu viral. Ribuan orang marah.
Dua kelompok saling tuduh. Padahal, kebenarannya nol. Itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kode komputer.
Inilah yang saya sebut kebisingan: pikiran bebas secara teknis, tetapi tidak merdeka secara substansial. Kita bebas mengakses, tetapi tidak bebas memaknai. Kita bebas berbagi, tetapi tidak bebas dari jebakan algoritma yang dirancang untuk membuat kita tetap menggulir, tetap marah, tetap cemas.
C. Falsafah Jawa: Dharma Harus Berwujud
Di sinilah Tan Hana Dharma Mangruah berbicara dengan lantang. Falsafah Jawa tidak mengenal pemisahan antara pikiran dan tindakan. Dharma kebenaran, ajaran suci, atau kewajiban tidak akan mangruah (bermakna/berwujud nyata) jika tidak dilaksanakan dalam laku hidup sehari-hari.
Berbeda dengan filsafat Yunani yang sistematis dan logis, falsafah Jawa disampaikan lewat cerita, tembang, dan laku hidup. Ia tidak dipaparkan secara langsung dalam penuturan sistematis berdasarkan logika semata, melainkan dijelaskan dalam bentuk karya sastra yang mencakup keseluruhan hidup manusia berdasarkan cipta, rasa, dan karsa.
Cipta merujuk pada struktur logika untuk memperoleh nilai kebenaran. Ini adalah ranah pikiran. Rasa merujuk pada struktur estetika untuk memperoleh nilai keindahan. Ini adalah ranah batin.
Karsa merujuk pada struktur etika untuk memperoleh nilai kebaikan. Ini adalah ranah tindakan.
Ketiganya harus berjalan bersama. Pikiran yang bebas (cipta) tanpa jiwa yang bebas (rasa dan karsa) hanyalah kebisingan kosong. Sebaliknya, jiwa yang bebas tanpa pikiran yang bebas hanyalah kepasrahan buta.
D. Ketika Pikiran Dan Jiwa Sama-Sama Terikat
Saya teringat sebuah diskusi dengan seorang teman di sebuah kafe. Kami menghabiskan tiga jam berbicara tentang filsafat, politik, dan makna hidup. Di akhir percakapan, ia bertanya, “Apa yang paling sulit dibebaskan: pikiran atau jiwa?”
Saya terdiam. Lalu menjawab: sama.
Pikiran dan jiwa adalah dua sisi dari satu koin. Pikiran yang kacau adalah cermin jiwa yang gelisah. Jiwa yang terikat pada gengsi, ambisi, ketakutan, dan dendam akan mengaburkan pikiran. Kita bisa membaca buku filsafat setebal apa pun, tetapi jika hati masih dipenuhi iri dan kebencian, semua pengetahuan itu tak lebih dari gema kosong.
Di sinilah kritik sosial yang ditawarkan falsafah ini: kita terlalu sibuk membebaskan pikiran di ranah publik, tetapi mengabaikan pembebasan jiwa di ranah privat. Kita bebas berkomentar di media sosial, tetapi tidak bebas dari kecemasan dan FOMO (Fear of Missing Out). Kita kritis terhadap penguasa, tetapi tidak kritis terhadap diri sendiri. Kita hafal Pancasila, tetapi lupa bahwa Tan Hana Dharma Mangruah mengajarkan bahwa kebenaran itu tunggal tidak bisa ditawar-tawar demi popularitas atau kepentingan sesaat.
E. Cerita dari Dua Dunia: Pengalaman Empirik Yang Menggugah
Saya pernah bertemu dengan seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Ia memiliki segalanya: uang, jabatan, pengakuan. Ia juga sangat aktif di media sosial, setiap hari mengunggah pemikiran-pemikiran cerdas tentang bisnis dan kepemimpinan. Ribuan orang memberi pujian.
Suatu malam, di tengah percakapan santai, ia tiba-tiba berkata: “Saya merasa kosong, Mas. Setiap malam saya tidur dengan ponsel di tangan, membaca komentar, membalas pesan. Tapi paginya saya bangun dengan rasa hampa. Seperti ada yang hilang.”
Saya bertanya, “Apa yang hilang?”
Ia menatap saya lama, lalu menjawab: “Saya tidak tahu siapa saya di luar semua jabatan dan unggahan itu.”
Pengalaman ini bukanlah kisah tunggal.
Sebuah studi dari Universitas Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 78% generasi Z merasa realitas di media sosial tidak mencerminkan kehidupan sehari-hari. Kesenjangan ini memicu krisis kepercayaan dan kesehatan mental. Kita hidup di dua dunia: satu dunia di layar, satu dunia di nyata. Dan seringkali, kita lebih peduli pada dunia di layar.
Di sinilah falsafah Jawa mengingatkan kita: kembali pada rasa. Merasakan realitas secara utuh, bukan sekadar mengonsumsi narasi yang disaring algoritma. Menyentuh tanah, berbicara dengan tetangga, menatap mata anak, menikmati secangkir kopi tanpa ponsel. Itulah laku yang membuat dharma bermakna.
F. Kritik Sosial: Ketika Kebenaran Menjadi Komoditas
Ada fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan: kebenaran telah menjadi komoditas.
Di era digital, “kebenaran” dijual seperti sabun mandi. Setiap politisi memiliki “tim media” yang bertugas membingkai narasi agar menguntungkan. Setiap produk punya “influencer” yang bersumpah itu yang terbaik. Setiap agama punya “pendakwah” yang mengklaim hanya jalannya yang benar.
Akibatnya, publik bingung. Siapa yang bisa dipercaya? Di mana kebenaran berada?
Falsafah Tan Hana Dharma Mangruah menjawab: kebenaran tidak berada di mana pun jika tidak dipraktikkan. Kebenaran bukanlah klaim, melainkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Seorang pemimpin yang jujur tidak perlu mengaku-ngaku jujur; ia cukup tidak korup. Seorang pendakwah yang saleh tidak perlu mengklaim saleh; ia cukup tidak munafik.
Inilah kritik sosial yang tajam: kita kehilangan otoritas moral karena kita terlalu pandai berbicara, tetapi terlalu malas bertindak. Kita pintar membuat narasi, tetapi lemah dalam konsistensi.
G. Nilai-nilai Luhur Yang Ditawarkan
Apa yang bisa kita petik dari falsafah ini untuk kehidupan sehari-hari?
Kebenaran Harus Diwujudkan
Ngelmu iku kelakone kanthi laku ilmu itu harus dijalankan dengan tindakan. Bukan sekadar dihafal, bukan sekadar diucapkan. Dalam bahasa Jawa, “witing tresna jalaran saka kulina” (cinta tumbuh karena terbiasa). Kebajikan juga tumbuh karena terbiasa dipraktikkan.
2. Keseimbangan Cipta, Rasa, Dan Karsa
Jangan hanya mengembangkan pikiran dengan membaca, tetapi juga mengembangkan rasa dengan merenung dan mengembangkan karsa dengan bertindak. Manusia utuh adalah manusia yang seimbang.
3. Kesederhanaan Dan Kejujuran
Falsafah Jawa mengajarkan nrimo (menerima) bukan dalam arti pasrah, tetapi dalam arti mensyukuri apa yang ada sambil berikhtiar untuk yang lebih baik. Ini adalah antitesis dari budaya konsumsi dan pamer yang merajalela di media sosial.
4. Empati Dan Toleransi
Tan Hana Dharma Mangruah lahir dari semangat toleransi antara Hindu dan Buddha di Majapahit. Di zaman kita, toleransi bukan hanya antar-agama, tetapi juga antar pandangan politik, antargenerasi, dan antar-algoritma.
Sintesis: Menemukan Jalan Tengah
Dari Yunani ke Jawa: Sebuah Dialog Peradaban
Filsafat Yunani dan falsafah Jawa sebenarnya sedang mengerjakan proyek yang sama: membebaskan manusia dari belenggu. Yunani membebaskan pikiran dari mitos; Jawa membebaskan jiwa dari ego dan keterikatan.
Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan:
Aspek Filsafat Yunani Filsafat Jawa
Tujuan Objektivitas, kebenaran universal Keselarasan, kedamaian batin
Metode Logika, debat, analisis Laku, pengalaman, rasa
Kekuatan Melahirkan sains dan demokrasi Melahirkan ketahanan dan kebijaksanaan
Kelemahan Bisa jadi kering, egois, dan individualistis Bisa jadi fatalis, pasrah, dan kurang kritis
Ukuran kebenaran Koherensi logis Manfaat yang dirasakan
Keduanya tidak harus dipertentangkan. Sebaliknya, kita perlu sintesis: gunakan logika Yunani untuk membaca realitas, menganalisis kuasa, dan merancang masa depan; gunakan laku Jawa untuk menjaga hati agar tidak korup, tidak serakah, dan tidak kehilangan empati saat berkuasa.
Ki Hajar Dewantara: Teladan Sintesis
Tokoh yang berhasil menyatukan dua “pembebasan” ini adalah Ki Hajar Dewantara. Ia belajar logika Barat (Belanda), tetapi filosofi pendidikannya murni Jawa:
Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)
Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat)
Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)
Ini bukan sekadar teori pendidikan, tetapi laku kepemimpinan seumur hidup. Ki Hajar tidak hanya berbicara tentang pendidikan; ia mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat kecil, mempraktikkan apa yang ia ajarkan.
Menerapkan Falsafah di Era Digital
Bagaimana kita menerapkan Tan Hana Dharma Mangruah dalam kehidupan digital kita?
Pertama, berpikir sebelum mengunggah. Dr. Budi Irawanto dari UGM mengingatkan pentingnya menghormati privasi, menghindari perundungan siber, dan membedakan konten informatif dari konten provokatif. Setiap unggahan adalah dharma kecil yang bisa bermakna atau justru menjadi kebisingan.
Kedua, verifikasi sebelum membagikan. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang membuat marah itu pantas dimarahi. Berhentilah sejenak, tanyakan: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat?”
Ketiga, konsisten antara dunia maya dan dunia nyata. Jangan menjadi pribadi yang baik di media sosial tetapi kasar di dunia nyata. Jangan menjadi aktivis di Twitter tetapi diam di lingkungan sendiri.
Keempat, luangkan waktu untuk diam. Matikan notifikasi. Tinggalkan ponsel. Berjalanlah di taman, berbincang dengan keluarga, atau sekadar duduk diam memperhatikan langit. Di dalam keheningan itulah jiwa berbicara.
Sunyi Di Tengah Riuh, Makna Di Tengah Kebisingan
Mpu Tantular menulis Tan Hana Dharma Mangruah di abad ke-14 untuk mengajarkan toleransi antara Hindu dan Buddha di Majapahit. Ia mengajarkan bahwa meskipun berbeda jalan, kebenaran hakiki adalah satu. Di zaman kita, pesan itu tak kehilangan relevansi.
Yang berbeda bukan lagi agama, tetapi narasi, algoritma, dan kepentingan.
Kebenaran terpecah-belah menjadi “kebenaran versi saya” dan “kebenaran versi Anda.” Kita berdebat dengan amarah, bukan dengan argumen. Kita mencari pembenaran, bukan pemahaman.
Falsafah Jawa mengajak kita untuk diam sejenak. Bukan diam yang pasrah, tetapi diam yang merenung. Karena hanya dalam keheningan jiwa, kebenaran bisa terdengar dengan jernih.
Pikiran yang bebas tanpa jiwa yang bebas hanyalah kebisingan. Tapi jiwa yang bebas akan memandu pikiran untuk tidak sekadar berbicara, tetapi bermakna.
Seperti kata seorang bijak: “Urip iku mung mampir ngombe” hidup itu cuma singgah untuk minum. Singkat. Maka jangan sia-siakan dengan kebisingan yang tak berarti. Jadikan setiap pikiran, setiap kata, dan setiap tindakan sebagai dharma yang berwujud nyata.
Di akhir perjalanan, yang tersisa bukanlah berapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa banyak kita bermakna bagi kehidupan orang lain dan dunia ini.
Batu, 6 Juni 2026









