Puisi

Momentum Bola dan Demokrasi

Juli 2026
Oleh: Redaksi

Oleh Istiqomah, S.Si

(Fisikawan Demokrasi/Alumnus Fisika Universitas Airlangga Surabaya)

Lampu stadion menyalakan langit
Di tengah sorak dan kibaran bendera,
sebuah bola bergulir dari kaki ke kaki,
membawa harapan, strategi, dan keberanian


Malam itu dunia kembali belajar
bahwa momentum adalah napas permainan

Tak ada bola yang diciptakan
untuk diam terlalu lama di satu kaki
Ia hidup ketika bergerak,
ketika dioper, disambut, lalu dilepaskan lagi


Dalam setiap sentuhan ada peluang,
dalam setiap perpindahan ada masa depan

Sejak para pemikir berbicara tentang gerak,
dan ilmu pengetahuan menegaskan bahwa energi tak pernah hilang,


manusia memahami satu hal sederhana:
yang bertahan bukanlah yang membeku,
melainkan yang terus bergerak dengan arah yang benar
Begitulah bola, dan begitulah demokrasi.

Sebab demokrasi pun bukan milik satu tangan.
Ia bukan trofi yang diwariskan,
bukan singgasana yang dipagari nama keluarga,
melainkan ruang bersama
tempat setiap warga berhak mengoper gagasan,
mengambil peran, dan menentukan arah permainan.

Bayangkan bila pertandingan telah ditentukan sejak awal,
kapten tak boleh berganti,
wasit tunduk pada satu kubu,
dan bola hanya berputar di lingkaran yang sama.
Stadion mungkin tetap berdiri,
tetapi semangat permainan akan mati sebelum peluit akhir.

Demokrasi yang kehilangan momentum
tak jauh berbeda dari bola yang berhenti bergulir.
Ia tampak hidup dari luar,
namun di dalamnya mengeras menjadi kebiasaan,
menjadi rutinitas tanpa kejutan,
menjadi kekuasaan yang enggan berpindah.

Padahal bangsa ini lahir
dari kaki-kaki yang berlari di tanah sendiri,
dari peluh petani, buruh, guru, nelayan,
dari suara mahasiswa, doa ibu,
dan keberanian rakyat yang tak mau hanya menjadi penonton
di lapangan sejarahnya sendiri.

Robert Dahl mengingatkan pentingnya partisipasi.
Pareto menegaskan bahwa elite tak boleh membatu.
Winters memperingatkan bahaya oligarki yang mengunci pintu.
Dan bola, dengan kesederhanaannya,
mengajarkan bahwa kemenangan hanya lahir
ketika permainan tetap terbuka bagi semua.

Demokrasi tidak meminta para pemain lama
untuk meninggalkan lapangan.
Ia hanya menuntut kebesaran hati
untuk mengoper bola pada waktunya,
agar generasi baru, perempuan, anak muda,
dan seluruh warga bangsa mendapat giliran mencetak sejarah.

Maka mari kita jaga momentum itu.
Jadilah pemain yang jujur, wasit yang adil,
penonton yang kritis, dan warga yang berani.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang menggenggam bola selamanya,
melainkan bangsa yang tahu kapan harus mengoper,
kapan memberi ruang,
dan kapan percaya pada kekuatan bersama.
Demokrasi, seperti bola,
hidup karena bergerak dari satu tangan ke tangan yang lain,
hingga kemenangan benar-benar menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Puisi, 22 Juli 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir