Ketika Bayi Itu Tumbuh Menjadi Penantang:Belajar dari Messi, Lamine Yamal, dan Kisah Fir’aun

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, M.A.
Dosen STAI Tapaktuan Aceh Selatan.
Saya berhenti cukup lama pada sebuah foto yang kembali ramai beredar di media sosial setelah Final Piala Dunia 2026. Foto itu bukan diambil di stadion megah, bukan pula ketika seseorang mengangkat trofi emas yang menjadi impian setiap pesepak bola. Justru sebaliknya, foto itu sangat sederhana. Lionel Messi tampak sedang memandikan seorang bayi dalam sebuah kegiatan amal yang diselenggarakan di Barcelona pada tahun 2007.
Bayi itu bernama Lamine Yamal.
Saat foto tersebut diambil, Messi baru mulai dikenal sebagai bintang muda Barcelona. Adapun Yamal bahkan belum mampu berdiri. Tidak ada yang mengira bahwa hampir dua puluh tahun kemudian bayi kecil itu akan menjadi salah satu pemain terbaik generasinya, bahkan berdiri sebagai lawan Messi di panggung sepak bola paling bergengsi di dunia.
Banyak orang melihat foto itu sebagai sebuah kebetulan yang unik. Namun, bagi saya, foto itu lebih dari sekadar kisah menarik. Ia seperti sedang mengingatkan kita bahwa kehidupan selalu bergerak dalam estafet.
Mereka yang hari ini dibimbing, suatu hari akan berdiri sejajar dengan pembimbingnya. Mereka yang hari ini belajar, kelak dapat menjadi pelaku utama sejarah pada zamannya sendiri. Tidak ada manusia yang selamanya berada di puncak, sebagaimana tidak ada generasi yang selamanya berada di belakang.
Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan hanya milik dunia olahraga. Seorang guru mengajari muridnya membaca huruf demi huruf, tanpa pernah mengetahui bahwa puluhan tahun kemudian murid itu mungkin menjadi profesor, menteri, atau pemimpin bangsa.
Seorang ayah membimbing anaknya melangkah untuk pertama kali, tetapi tidak pernah tahu sejauh mana langkah itu akan membawa manfaat bagi banyak orang. Demikian pula seorang ulama yang dengan sabar mendidik santri-santrinya. Kelak, para santri itulah yang akan meneruskan dakwah, bahkan mungkin menjangkau tempat-tempat yang belum pernah didatangi gurunya.
Ketika merenungkan foto Messi dan Yamal, ingatan saya justru melayang kepada sebuah kisah yang jauh lebih tua daripada sepak bola. Al-Qur’an mengabadikan kisah Fir’aun, seorang raja yang begitu takut kehilangan kekuasaan sehingga memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki dari Bani Israil. Ia percaya bahwa dengan memusnahkan semua bayi, ancaman terhadap kerajaannya akan berakhir. Baginya, masa depan bisa dikendalikan melalui kekuatan dan kekuasaan.
Namun Allah menunjukkan bahwa takdir tidak pernah tunduk kepada perhitungan manusia.
Atas kehendak-Nya, bayi Musa tidak hanya selamat dari pembantaian, tetapi justru tumbuh di lingkungan istana Fir’aun sendiri. Orang yang paling ditakuti itu dibesarkan dengan makanan dari dapur kerajaan, diasuh di bawah atap yang sama dengan penguasa yang ingin membunuhnya. Fir’aun mengira dirinya sedang menguasai keadaan, padahal tanpa disadari ia sedang menjadi bagian dari rencana Allah.
Di sinilah letak pelajaran yang begitu agung. Allah berfirman:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21).
Tentu, Messi bukan Fir’aun, dan Lamine Yamal bukan Nabi Musa. Perbandingan ini bukan pada sosok mereka, melainkan pada sunnatullah yang tampak dalam kehidupan. Manusia tidak pernah mengetahui bagaimana Allah sedang menyiapkan masa depan. Terkadang, orang yang hari ini berada di bawah bimbingan kita justru akan menjadi orang besar pada masa yang akan datang.
Bedanya, Fir’aun berusaha menghentikan lahirnya generasi penerus karena kesombongannya, sedangkan seorang legenda sejati akan dikenang karena mampu menginspirasi generasi sesudahnya.
Pelajaran ini sangat relevan bagi dunia pendidikan. Guru yang baik tidak pernah takut muridnya menjadi lebih pintar. Dosen yang ikhlas tidak pernah khawatir mahasiswanya menjadi profesor. Orang tua yang bijaksana tidak merasa terancam ketika anak-anaknya mencapai keberhasilan yang lebih tinggi.
Sebaliknya, keberhasilan generasi penerus adalah buah dari benih yang pernah mereka tanam. Tidak ada kehormatan yang lebih besar bagi seorang pendidik selain melihat muridnya melampaui dirinya dalam ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Sayangnya, dalam kehidupan kita masih sering menemukan sikap sebaliknya. Ada pemimpin yang enggan melahirkan kader karena takut kehilangan pengaruh. Ada atasan yang tidak ingin bawahannya berkembang karena khawatir tersaingi.
Bahkan ada orang tua yang tanpa sadar membatasi langkah anaknya karena merasa tidak siap melihat mereka lebih berhasil. Padahal, sejarah membuktikan bahwa peradaban selalu maju karena setiap generasi berhasil melahirkan generasi berikutnya yang lebih baik.
Foto Messi dan bayi Yamal akhirnya bukan sekadar potret yang mengundang senyum. Ia menjadi simbol bahwa waktu tidak pernah berhenti. Anak-anak akan tumbuh. Murid akan menjadi guru. Santri akan menjadi ulama. Pemain muda akan menjadi legenda. Dan para legenda, pada waktunya, akan menyerahkan tongkat estafet kepada generasi baru.
Mungkin hari ini kita sedang mengajar di sebuah ruang kelas yang sederhana. Mungkin kita sedang membimbing seorang mahasiswa yang tampak biasa saja. Mungkin kita sedang mendidik seorang anak yang masih belajar mengeja. Jangan pernah meremehkan mereka. Kita tidak pernah tahu siapa di antara mereka yang kelak akan membawa perubahan besar bagi masyarakat, bangsa, atau bahkan dunia.
Karena itu, jangan pernah takut melahirkan generasi yang lebih hebat daripada diri kita. Sebab ukuran kebesaran seseorang bukanlah berapa lama ia mampu bertahan di puncak, melainkan seberapa banyak orang yang berhasil ia antarkan menuju puncak yang lebih tinggi. Itulah hakikat estafet kehidupan. Itulah sunnatullah yang diajarkan Al-Qur’an.
Dan mungkin, itulah pesan paling indah yang tersembunyi di balik sebuah foto sederhana tentang seorang legenda yang pernah memandikan bayi kecil, yang kemudian tumbuh menjadi penantangnya di panggung dunia.












