Boh Sen: Manis yang Tertinggal Di Ujung Zaman

Oleh Ira Susanti, SH
Pandangan mataku tertumbuk pada pucuk pohon rambutan di seberang Sungai Krueng Doe. Pagi ini suasana sangat sejuk. Segelas teh tanpa gula plus satu gelas bubur kacang hijau menambah syahdu suasana pagi ini.
Diskusi hangat kami bergerak dari tema judul skripsi sampai kuliner khas Aceh. Percayalah bahwa pembicaraan tentang kuliner menghabiskan waktu diskusi yang panjang. Puluhan jenis masakan dan aneka kue khas Aceh yang kukenal sepanjang hidup menjadi sebuah kekayaan budaya yang membanggakan.
Empat dekade lalu merupakan masa awal Aku mengenal kue tradisional Aceh dari tangan keriput nenekku, sosok elegan yang dari tangannya menghasilkan kue tradisional yang indah dan apik. Aku sendiri sering menawarkan diri membantu beliau, kadang diizinkan dan kadang hanya menjadi penonton santun saja.
Beberapa kegiatan mengadon dan membentuk acuan kusaksikan dari tangan beliau. Kue yang menarik bagiku adalah kue yang rasanya manis dan dibalur dengan tepung beras, lalu digoreng dalam minyak panas. Kue yang dikenal luas dengan nama Boh Sen.
Setiap hari pulang sekolah, Aku selalu menyambangi rumah nenek yang tinggal masih satu kampung dengan kami. Ternyata nenek sedang berkutat dengan tepung dan gula. Pandanganku langsung tertuju pada apa yang dilakukan nenek.
Aku takjub ketika buku-buku tangan nenek bergerak meratakan adonan di atas plastik bening di lantai nibong yang sebelumnya sudah dibentang karung goni agar rata mengimbangi struktur lantai yang bergelombang. Setelah diratakan, di sinilah sesi yang paling aku suka. Adonan menjadi mulus dan mengilap, berkaca-kaca disapu sinar terang yang datang dari pintu dapur. Adonan mengilap itu seakan permukaan air kolam yang siap untuk direnangi.
Berbagai macam kue tradisional pernah dibuat nenek. Namun yang paling Aku suka adalah kue boh sen. Kue ini sudah sangat jarang ditemukan. Gempuran kue modern dan kekinian semakin memperkecil peluang bagi boh sen untuk bertahan. Pengaruh lain dalam pelestarian boh sen menurut kami adalah pengaruh budaya itu sendiri.
Berbeda dengan beberapa kue tradisional seperti bhoi, bungong kayee(penajoh), dan kekarah. Ketiga jenis kue kering ini terus dibuat karena didukung adat, menjadi kue antaran dara baro. Hadir dalam talam-talam menyertai dara baro yang diterima di rumah linto. Sedangkan boh sen hanya kue kering biasa dan bukan penyerta adat selayaknya ketiga jenis kue di atas.
Boh sen sering dibuat menjelang hari raya sebagai pengisi toples di rumah-rumah. Menurut wawancara kami dengan seorang tetua kampung, boh sen juga dihadirkan dalam acara rewangmenjelang pesta perkawinan sebagai hidangan teman minum kopi atau teh di sela-sela memasak hidangan pesta. Boh sen kadang kala disediakan dalam toples sebagai camilan sehari-hari.
Kue kering yang berbentuk segitiga atau ada juga yang berbentuk bulan sabit ini rasanya manis gurih karena dibuat dari tepung beras, bersama santan dan gula pasir. Kelangkaan boh sen juga disebabkan banyak generasi Aceh yang tidak lagi mempraktikkan pembuatan boh sen. Hanya kalangan tertentu saja yang masih bisa membuat kue ini.
Padahal, kalau dilihat dari resep dan cara membuatnya, kue ini sederhana dan mudah dibuat. Bahannya gampang didapat, mencerminkan kekhasan tradisional karena semua bahannya bisa didapat di sekitar tempat tinggal.
Hanya perlu menyediakan tepung beras, santan, telur, dan gula. Pada masa yang lalu, dari keempat bahan ini hanya gula yang perlu dibeli di warung, sedangkan bahan lain semua tersedia dan hanya perlu disiapkan saja.
Tepung beras diperoleh hanya dengan menumbuk beras, santan diambil dari kelapa yang kadang tumbuh di sekitar rumah, dan telur langsung diambil dari sangkar ayam (eumpung manok) yang dipelihara di samping rumah. Bahan langsung diperoleh dari alam sekitar.
Pada masa sekarang kondisi kehidupan telah berubah. Bahkan di kampung kami, kegiatan menumbuk beras yang akan dijadikan tepung sudah sangat berkurang. Orang-orang lebih mudah membelinya saja di kedai sekitar kampung. Sudah banyak dijual dalam kemasan dengan merek tertentu. Hal-hal seperti ini hanya menggeser kebiasaan, tetapi bahan baku untuk membuat kue boh sen tetap dengan mudah bisa diperoleh.
Hanya saja sekarang perlu digalakkan dan dipopulerkan lagi kue yang enak dan gurih ini. Atau karena dia terlalu manis sehingga kurang dusukai? Menurutku itu tidak benar, lebih karena kurang dipopulerkan sehingga ia tidak sering hadir dalam ingatan untuk dijadikan kue lebaran di setiap rumah.
Saat ini, boh sen hanya ditemukan di rumah orang-orang tua saja. Kalau di rumah orang yang lebih muda, sering tidak ada. Menurut tetua kampung kami, mengapa boh sen jarang ditemukan dalam acara tertentu adalah karena tingkat kepraktisannya kurang. Dari adonan yang dibuat hanya sedikit hasil kue yang didapat, sedangkan jika membuat kue lain seperti kue kembang goyang atau penajoh (bungong kayee), hasilnya lebih banyak.
Pembuatannya tampak mudah, tetapi menurut sumber yang kami wawancarai, kadang kala terjadi problem juga pada saat pembuatannya. Kalau tidak pas dalam pengadonan, maka ketika digoreng boh sen tidak terbentuk dengan baik—akan meledak dan pecah berhamburan di dalam minyak. Gagal, pastinya. Perlu kehati-hatian yang tinggi pada saat membuat adonan. Jika terlalu banyak santan, otomatis akan menyerap banyak tepung. Hasilnya akan hambar karena tidak sebanding lagi dengan takaran gula yang ada.
Nah, sekarang pertanyaannya adalah, apa yang dapat kita lakukan agar kue manis ini tetap lestari dan kembali diminati masyarakat luas? Menurut penulis, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mempopulerkan kembali boh sen beserta resep dan cara pembuatannya.
Sekarang zamannya media sosial. Banyak makanan yang dulu hampir terlupakan kembali dikenal karena sering muncul dalam foto, video, atau cerita yang dibagikan orang-orang. Boh sen juga perlu diperkenalkan dengan cara seperti itu agar namanya kembali akrab di telinga generasi muda.
Namun penulis percaya, cara paling sederhana, namun paling efektif untuk menjaga boh sen tetap hidup adalah dengan kembali membuatnya di rumah. Seperti dahulu penulis mengenalnya dari tangan nenek, anak-anak hari ini pun perlu mengenalnya dari tangan ibu, nenek, atau anggota keluarga mereka.
Resep tradisional tidak cukup hanya disimpan dalam ingatan atau catatan lama, tetapi harus dipraktikkan secara nyata agar tetap hidup. Ketika orang tua dan kakek-nenek mengajarkan cara membuat boh sen kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka, sesungguhnya mereka sedang mewariskan bukan hanya sebuah resep, melainkan juga kenangan, nilai, dan identitas budaya yang berharga.
Pelestarian boh sen akan terjadi secara alami jika ada pelaku usaha yang memproduksi penganan khas ini secara berkesinambungan. Saat ini sangat sulit menemukan orang atau usaha yang secara khusus membuat boh sen, berbeda dengan beberapa kue tradisional Aceh lainnya yang masih relatif mudah dijumpai.
Kehadiran boh sen yang konsisten menjaga keberadaannya sekaligus memperkenalkan kepada generasi yang lebih muda.
Di samping itu, para penjual kue dan pelaku usaha kuliner dapat ikut berperan dengan memasarkan boh sen secara lebih luas, baik melalui cara-cara konvensional maupun melalui platform digital. Semakin mudah masyarakat menemukan dan membeli boh sen, semakin besar pula peluang kue tradisional ini untuk tetap bertahan.
Karena, jika bukan kita yang menyelamatkan dan menghidupkan kembali pusaka boga warisan indatu bernama boh sen ini, siapa lagi? Ketika ia tak dilestarikan secara bersengaja, percayalah kepunahan boh sen adalah keniscayaan.











