Kali Ini Giliran Profesor Dikandangin KPK, Terima Suap Rp17 Miliar

Oleh Rosadi Jamani
Kenapa koruptor tak ada habis-habisnya? Kali ini termasuk koruptor spesies baru, seorang profesor, eks Sekjend MPR RI. Gelarnya berderet, saya angkat tangan mau menyainginya. Akibat tak pernah seruput Koptagul, matanya hijau lihat duit, dan akhirnya dikandangin KPK. Mari kita kenalan dengan profesor ini sambil seruput Koptagul, wak!
Namanya Prof Dr Ma’ruf Cahyono SH MH. Bisa dikatakan ia sang Superman Banyumas yang lahir 29 April 1967. Sarjana Hukum Unsoed yang jenius, Magister dari IBLAM, Doktor dari Universitas Jayabaya, Profesor Kehormatan Unissula Semarang, dosen kampus-kampus keren yang mengajarkan etika hukum tatanegara sambil ngopi di panggung tertinggi MPR.
Kariernya lebih mulus dari selai kacang. Mulai dari Kepala Pusat Pengkajian Sekjen MPR, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, lalu naik jadi Sekjen MPR RI periode 2016-2023 di era Zulkifli Hasan sampai Bambang Soesatyo. Asetnya? Rp6,08 miliar di LHKPN terakhir Maret 2023. Lengkap dengan 19 bidang tanah dan bangunan mewah tersebar di Banyumas, Depok, dan Jakarta Selatan, plus koleksi lima mobil gahar seperti Toyota Camry, Honda HRV, Honda Jazz, Avanza, dan Livina. Istri tercinta Djuwarijah pensiunan ASN, dua putri cantik Nurani Arimbi Cahyono (karyawan swasta) dan Nurma Indah H. Cahyono (ASN). Hampir saja jadi Bupati Banyumas, didukung partai besar!
Ini orang suci, wak! Panutan bangsa, intelek kelas wahid, teladan moral seharusnya diabadikan dalam patung emas setinggi Monas, buku pelajaran SD, bahkan dijadikan film biopik. Mahasiswa pasti berebut jadi anak didiknya, karena siapa yang nggak mau belajar hukum dari sosok sehebat, sebersih, dan sesempurna ini?
Tapi… plot twist lebih seru dari Prancis vs Maroko pukul 03.00 subuh ini.
Ternyata profesor agung yang katanya super cerdas ini cuma profesor gratifikasi kelas kakap! Diduga ngantongi Rp17 miliar sampai Rp30 miliar dari fee 10 persen proyek pengadaan barang dan jasa di MPR. “Uang assalamualaikum” katanya, duit haram dari distribusi buku, bahan cetakan, dan logistik ke daerah. Dari 2019-2021, saat dia jadi raja absolut pengadaan, duit negara mengalir deras ke rekening pribadi seperti demo mak-mak pendukung MBG.
Nuan bayangkan. Pagi-pagi ngajarin mahasiswa soal kejujuran dan integritas, siang tanda tangan kontrak sambil bisik-bisik “berapa persen buat saya ya?”, malam pulang ke rumah mewah sambil peluk istri dan anak sambil hitung-hitung cuan yang menggunung. Gelar doktornya nggak bisa nolong. Aset miliaran nggak bisa beli kebebasan. Keluarga yang dulu bangga, sekarang pasti lagi mikir “Bapak kok bisa sih main gini?” “Bapak bikin malu, mau taruh di mana muka ni.”
Sekarang? Dikandangin KPK hari ini, Kamis 9 Juli 2026. Itu setelah pemeriksaan panjang 6 jam. Dari ruang sidang MPR yang ber-AC dingin dan kursi empuk, langsung ke rutan yang panas, sempit, dan penuh kenangan pahit. Dari profesor yang dipuji-puji, jadi bahan meme “Profesor Gaji Buta” yang bikin netizen ngakak sambil mual.
Rakyat kecil yang tiap hari kerja keras bayar pajak cuma bisa geleng-geleng kepala sambil muak setengah mati. Selamat menikmati menu tahanan yang jauh lebih sederhana dari rumah-rumah mewah Bapak Profesor! Semoga di balik jeruji sempat merenung panjang. Buat apa jadi profesor kalau otaknya cuma dipakai buat nyari celah korupsi recehan negara?
Negeri ini emang luar biasa. Profesor saja akhirnya jadi penghuni tetap KPK. Luar biasa banget, sampai bikin kita semua ngakak getir.
“Bang, kadang rasa bosan juga, negeri ini selalu dihiasi wajah-wajah koruptor. Coba wajah abang saja yang nongol di televisi, jangan wajah tikus got gorong-goreng terus.”
“Waduh, jangan wajah saya, wak! Khawatir ramai yang klepek-klepek.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar













