Senin, April 20, 2026

Kemerdekaan Hanya Sebuah Seremoni: Kita Masih Dijajah oleh Bangsa Sendiri”

Kemerdekaan Hanya Sebuah Seremoni: Kita Masih Dijajah oleh Bangsa Sendiri” - e3d17ca9 87b6 4251 91e9 4ed2c4ece080 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Kemerdekaan Hanya Sebuah Seremoni: Kita Masih Dijajah oleh Bangsa Sendiri”

Oleh Rivaldi

Setiap tahun, sangsaka merah putih berkibar megah. Lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema di berbagai pelosok negeri. Upacara sakral digelar, penuh dengan rasa haru dan kebanggaan. Tapi setelah itu, apa? Apakah kita benar-benar merdeka?

Kemerdekaan seolah hanya menjadi rutinitas tahunan. Sebuah seremoni simbolik tanpa makna yang benar-benar membumi. Kita menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, tetapi tak sedikit rakyat yang masih hidup dalam keterpurukan—miskin, terpinggirkan, dan tak dianggap.

Kita bilang sudah tidak dijajah bangsa asing, tapi banyak di antara kita masih dijajah oleh sistem yang dibangun oleh bangsa sendiri—oleh birokrasi yang korup, hukum yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah, pendidikan yang mahal, lapangan kerja yang sempit, hingga pelayanan publik yang diskriminatif.

Kita dijajah oleh janji-janji kosong para elite, oleh regulasi yang hanya menguntungkan segelintir orang, oleh kapitalisme yang membunuh keadilan sosial. Bahkan suara rakyat pun sering kali dibungkam atas nama stabilitas dan keamanan.

Bukankah itu bentuk penjajahan? Hanya saja kali ini bukan dengan senjata, tapi dengan kebijakan. Bukan oleh orang asing, tapi oleh bangsa sendiri.

Jika begitu, untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini? Apakah kemerdekaan hanya milik mereka yang punya jabatan dan uang? Apakah rakyat kecil hanya diminta untuk berdiri tegak dan di jemur di dalam teriknya matahari di setiap 17 Agustus tanpa pernah benar-benar merasakan arti merdeka?

Maka, selagi rakyat masih tertindas oleh ketidakadilan sistemik, kemerdekaan sejati belum kita miliki. Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan fisik, tapi juga tentang keberpihakan negara kepada rakyatnya sendiri.

Dan selama itu belum terwujud, 17 Agustus hanyalah seremoni. Sebuah pertunjukan tahunan yang menutupi luka-luka yang belum sembuh.

Kami tidak anti dengan nasionelisme tapi miris melihat umur indonesia yang hampir masuk 80 tahun kemerdekaan itu hanya sebatas janji dan omongan kosong, dengan segala bukti dan rakyat yang masih berhampuran lapar dan tempat tinggal yang belum layak, maka bagi kami negri ini belum merdeka, negri ini masih dalam nuansa penjajahan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist