Artikel · Potret Online

Buku Di Antara Duniaku yang Berisik

Penulis  Yani Andoko
Juli 3, 2026
7 menit baca 9
IMG_1937
Foto / IlustrasiBuku Di Antara Duniaku yang Berisik

Oleh Yani Andoko

Bisikan Di Tengah Konser

Ada ajakan yang berserakan di sudut-sudut kota. Di balik jendela toko buku kecil yang lampunya masih menyala meski larut, di rak-rak dinding kafe yang bersaing dengan hiruk-pikuk pesanan kopi, atau di poster perpustakaan keliling yang parkir di pinggir jalan. 

Ajakan itu sederhana: “Kembalilah ke buku.”

Namun akhir-akhir ini, ajakan itu terasa seperti bisikan di tengah konser rock. Kita mendengarnya samar, tapi adakah ruang di kepala kita untuk benar-benar menjawabnya?

Saya sering bertanya-tanya. Bukan karena saya ragu akan manfaatnya, tapi karena saya merasakan sendiri betapa sulitnya duduk tenang dengan sebuah buku di pangkuan, tanpa setengah menit pun tangan reflek meraih ponsel. Dan saya yakin, banyak dari kita mengalami hal yang sama.

Angka Yang Tak Bisa Dibantah: Literasi Kita di Persimpangan

Mari kita mulai dengan fakta. Data UNESCO mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang benar-benar memiliki minat baca tinggi. 

Dalam peringkat literasi dunia, Indonesia berada di posisi 99 dari sekitar 200 negara. Data lain dari Programme for International Student Assessment (PISA) menempatkan skor membaca Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara yang disurvei, dengan nilai literasi membaca sebesar 359.

Angka-angka ini memang memprihatinkan. Namun, ada juga kabar baik. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional tahun 2024 mencapai skor 73,52, melampaui target 71,4 dan meningkat dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar 69,42. Indeks kegemaran membaca juga meningkat dari 66,70 menjadi 72,44 pada 2024. Ini menunjukkan bahwa ada gerakan, meski perlahan.

Tapi pertanyaannya: mengapa, di tengah peningkatan indeks, masih begitu sulit bagi kita untuk benar-benar duduk dan membaca?

Bukan Malas, Tapi Atensi Dirampok

Mari kita luruskan satu hal: masalahnya bukanlah kemalasan.

Coba perhatikan: orang-orang yang sama yang “malas” membaca buku bisa menghabiskan 3 jam tanpa jeda untuk scroll media sosial, atau menonton 6 episode serial dalam semalam. Mereka tidak malas. Mereka justru sangat rajin hanya saja fokus mereka sedang diarahkan ke ladang yang lain.

Penelitian menunjukkan bahwa setelah aktif menggunakan TikTok, 90,4% responden melaporkan penurunan motivasi membaca, dengan 57,1% jarang membaca buku di luar jam sekolah, dan 60% mengalami kesulitan konsentrasi setelah menggunakan aplikasi tersebut. 

Batas konsentrasi terhadap bacaan (attention span) semakin menipis karena pergeseran kebiasaan membaca. Akibatnya, orang menjadi lebih tidak sabar saat membaca karena otak telah dilatih untuk konsumsi konten bacaan yang instan.

Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows (2010) mengingatkan bahwa internet dan media digital membentuk ulang otak kita untuk menikmati kepuasan instan. Hyperlink, tab berlapis, dan arsitektur web menyebabkan kita “melompat-lompat” alih-alih membaca secara linear. Carr menyebutnya shallow reading membaca cepat, sekilas, tanpa refleksi. Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam.

Setiap scroll memberi kita dopamine kecil. Setiap notifikasi adalah hadiah. Di sisi lain, membaca buku adalah aktivitas slow burn. Ia butuh 5–10 menit pertama hanya untuk masuk ke dalam alur. Ia butuh kesabaran. Di dunia yang serba cepat, 10 menit itu terasa seperti kemewahan yang mahal.

Deep Reading: Ketika Otak Berlatih Menyelam

Maryanne Wolf, ilmuwan otak yang mempelajari proses membaca, dalam bukunya Reader, Come Home (2018) memperkenalkan konsep deep reading kemampuan membaca yang melibatkan empati, kemampuan menarik kesimpulan, pemikiran kritis, dan wawasan analitis. 

Deep reading adalah kebalikan dari shallow reading yang didorong oleh internet.

Wolf memperingatkan bahwa ketika kita tidak menggunakan jalur-jalur saraf untuk deep reading, jalur tersebut akan menyusut (atrophy). Otak kita, seperti otot, akan kehilangan kemampuannya jika tidak dilatih. Dan latihan itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara: membaca secara mendalam dan reflektif.

Namun, deep reading bukanlah kemampuan yang datang dengan sendirinya. Ia adalah keterampilan yang dibangun. Ketika kita membaca novel, kita tidak sekadar menyerap informasi kita hidup di dalam kepala tokoh lain, merasakan konflik mereka, memahami motivasi yang tidak pernah kita alami sendiri. 

Inilah yang membuat membaca sastra berbeda dari membaca status media sosial. Ia melatih empati, kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia yang semakin terpolarisasi.

Sepuluh Menit yang Mengubah Segalanya

Lalu, apakah kita harus membaca 200 halaman sekaligus agar disebut “kembali ke buku”?

Tidak. Ajakan “kembali ke buku” bukanlah tuntutan untuk menyelesaikan satu novel tebal dalam semalam. Ajakan itu adalah undangan untuk memilih meski hanya 10 menit untuk mendengarkan satu suara yang bukan suara kita sendiri.

Penelitian dari University of Sussex membuktikan bahwa membaca selama 6 menit saja dapat menurunkan tingkat stres hingga 68%. Penelitian lain menunjukkan bahwa membaca 10 menit sehari melatih daya konsentrasi, memperkuat daya ingat, serta membantu otak tetap aktif. Bahkan membaca artikel ringan atau cerita pendek selama 10 menit mampu memberikan efek relaksasi yang membuat suasana hati lebih tenang dan fokus kembali.

Cambridge University juga menemukan bahwa membaca 30 menit setiap hari, jika dilakukan secara konsisten, dapat secara signifikan menurunkan risiko depresi dan kecemasan. Membaca membangun empati, memperkaya kosakata, meningkatkan kualitas tidur, mengurangi kecemasan, dan memperkuat otak. 

Ia juga melatih kita untuk melakukan monotasking fokus pada satu hal dalam satu waktu yang membangun kemampuan berkonsentrasi dan mengurangi rasa kewalahan.

Sepuluh menit. Itu adalah waktu yang kita habiskan untuk menunggu kopi, untuk scroll Instagram sebelum tidur, atau untuk menonton satu video pendek. Jika kita bisa mengalihkan 10 menit itu untuk membaca, keajaiban kecil apa yang akan terjadi?

Keajaiban Kecil Yang Sunyi

Saya menyebutnya keajaiban kecil. Bukan keajaiban yang spektakuler dengan petir atau cahaya menyilaukan. Ia datang dengan sangat sunyi.

Kadang, keajaiban itu berupa sebuah kalimat yang terasa ditulis khusus untuk keadaanmu hari ini. Seolah-olah penulis yang sudah mati 50 tahun lalu itu tahu persis apa yang sedang kau rasakan.

Kadang, ia berupa pertemuan dengan tokoh fiksi yang kompleks, dan tanpa sadar kita menemukan potret diri kita sendiri di dalam dirinya. Tiba-tiba kita sadar: “Oh, selama ini aku seperti ini rupanya.” Itulah yang disebut kesadaran baru.

Saya ingin membedakan dua hal: Pengetahuan baru dan Kesadaran baru.

Pengetahuan baru menambah data di kepalamu. Contoh: “Oh, ternyata suhu rata-rata bumi naik 1,5 derajat.” Ia mengisi, tapi tak mengubah cara pandangmu.

Kesadaran baru mengubah rel kereta pikiranmu. Contoh: “Oh, ternyata aku selama ini takut gagal bukan karena takut jatuh, tapi karena takut kehilangan muka di depan orang lain.”

Buku memberi kita kesadaran baru karena ia adalah cermin yang jujur. Dalam literasi, deep reading memungkinkan kita menangkap nuansa, empati, dan perspektif lain yang tidak bisa diajarkan oleh teks-teks pendek di layar.

Gerakan Dari Bawah: Taman Bacaan Dan Sukarelawan Literasi

Di tengah angka-angka yang memprihatinkan, ada harapan yang tumbuh dari akar rumput. Gerakan Indonesia Membaca, misalnya, dilaksanakan melalui program Sepekan 1Buku lomba resensi yang berkesinambungan dengan memanfaatkan situs Perpustakaan Nasional.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tersebar di berbagai daerah, berfungsi tidak hanya sebagai tempat peminjaman buku, tetapi juga sebagai pusat penguatan literasi informasi di era digital. 

Pesta Literasi Indonesia 2024 bahkan menghadirkan 100 penulis dan melakukan donasi buku kepada 100 komunitas taman baca di seluruh Indonesia.

Survei oleh majalah Ceoworld pada 2024 menempatkan Indonesia di peringkat ke-31 dari daftar negara dengan penduduk paling rajin membaca buku sebuah peringkat yang mungkin mengejutkan jika dibandingkan dengan data UNESCO. 

Ini menunjukkan bahwa ada dua sisi mata uang: di satu sisi, minat baca masih rendah; di sisi lain, ada segmen masyarakat yang cukup aktif membaca.

Namun, tantangan tetap berat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tanpa budaya membaca dan menulis, mustahil Indonesia dapat menjadi bangsa maju. 

Masalah budaya baca adalah hubungan kausalitas rendahnya kebiasaan membaca disebabkan berbagai faktor dari hulu hingga ke hilir. Pembangunan perpustakaan desa dan TBM sangat krusial untuk menumbuhkan budaya membaca warga.

Harga Ruang Sunyi

Maka, jika ajakan di sudut kota itu terasa serius, itu karena ia memang serius. Ia adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang terus meminta perhatian kita, menyediakan ruang sunyi untuk satu cerita panjang adalah tindakan menjaga jiwa.

Keajaiban kecil yang datang setelah 10 menit membaca tidak akan mengubah seluruh hidupmu dalam sekejap. Tapi ia akan mengubah caramu memandang hidupmu selama beberapa jam ke depan. Dan perlahan, dari kumpulan 10 menit yang terus terjaga, ia akan mengubah cara kamu bertemu hari-hari selanjutnya.

Maryanne Wolf, dalam Reader, Come Home, menawarkan saran yang jelas tentang bagaimana merevitalisasi dan mempertahankan keterampilan deep reading. Salah satunya adalah dengan kembali memilih memilih untuk membaca, meski hanya sebentar. Karena deep engagement dengan teks bukan hanya mungkin dicapai, tapi juga esensial untuk mengembangkan pemikiran kritis, empati, dan wawasan.

Jadi, malam ini atau bahkan sore ini ketika ajakan itu kembali berbisik dari sudut kota, apakah kau akan memberinya 10 menit?

Sebelum layar ponsel kembali menyala dan kebisingan dunia kembali memanggil, cobalah. Bukalah satu halaman. Dengarkan satu suara asing. Karena di sanalah, di antara sunyi yang kita pilih sendiri, keajaiban kecil itu menunggu.

“Kembali ke buku” bukan sekadar nostalgia. Ia adalah perlawanan sunyi terhadap dunia yang tak pernah berhenti berisik.

                   Batu, 18 Mei 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...