Pesijuek Woe Haji: Bukti Cinta atas Kesempurnaan Rukun Islam bagi Orang Muslim di Aceh

*Oleh: Kaipal Wahyudi*
*Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.*
Bagi masyarakat Aceh, kepulangan seorang jamaah haji bukan sekadar berakhirnya perjalanan dari Tanah Suci menuju kampung halaman. Momen itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada tibanya seseorang setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Kepulangan haji dipandang sebagai anugerah besar dari Allah SWT karena seorang Muslim telah berhasil menyempurnakan rukun Islam yang kelima, sebuah ibadah yang menjadi impian hampir setiap Muslim, tetapi tidak semua memperoleh kesempatan untuk menunaikannya.
Tidak sedikit orang Aceh yang mulai menabung ongkos haji sejak usia muda. Ada yang menyisihkan hasil panen, menjual ternak, mengumpulkan keuntungan dari kebun sedikit demi sedikit, bahkan rela menunggu belasan hingga puluhan tahun sebelum namanya dipanggil berangkat ke Tanah Suci.
Penantian itu dijalani dengan penuh kesabaran, disertai doa yang tidak pernah putus dan harapan agar suatu hari Allah SWT memberikan kesempatan menjadi tamu-Nya. Karena itulah, ketika seorang haji kembali ke kampung halaman, yang pulang sesungguhnya bukan hanya dirinya, tetapi juga seluruh harapan, doa, dan penantian panjang keluarganya.
Kebahagiaan itu kemudian dirasakan bersama oleh sanak saudara, tetangga, dan masyarakat gampong yang sejak awal ikut mengiringi perjalanan tersebut dengan doa.
Dari rasa syukur itulah lahir tradisi Peusijuek Woe Haji, sebuah warisan budaya Islam Aceh yang hingga hari ini tetap hidup dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi ini bukan sekadar seremoni penyambutan atau pelengkap acara kepulangan jamaah haji.
Lebih dari itu, peusijuek merupakan ungkapan syukur kepada Allah SWT, doa bersama agar jamaah memperoleh haji yang mabrur, sekaligus bentuk penghormatan kepada seseorang yang telah memenuhi panggilan Allah sebagai tamu-Nya di Tanah Suci.
Di Aceh, ibadah haji tidak pernah dipandang sebagai urusan pribadi semata. Memang haji merupakan ibadah yang dilaksanakan secara individual, tetapi pelaksanaannya selalu dirasakan sebagai kebahagiaan bersama.
Ketika seorang warga gampong berangkat ke Makkah, hampir seluruh masyarakat ikut mendoakan keselamatan dan kelancaran ibadahnya. Begitu pula ketika ia kembali, masyarakat datang berbondong-bondong untuk bersilaturahmi, mengucapkan selamat, mengikuti prosesi peusijuek, dan bersama-sama memanjatkan doa agar seluruh amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
Inilah salah satu wajah khas masyarakat Aceh yang masih bertahan hingga sekarang. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, masyarakat Aceh tetap mempertahankan tradisi yang memperkuat kebersamaan. Nilai gotong royong, silaturahmi, dan rasa memiliki terhadap sesama masih tampak jelas dalam setiap penyambutan jamaah haji.
Rumah yang baru didatangi seorang haji biasanya tidak pernah sepi dari tamu. Kerabat, sahabat, tetangga, hingga masyarakat yang mungkin sudah lama tidak bertemu datang untuk bersalaman, mendoakan, sekaligus mendengarkan pengalaman selama berada di Tanah Suci.
Tradisi tersebut tidak lahir begitu saja. Peusijuek memiliki sejarah yang sangat panjang dalam perjalanan masyarakat Aceh. Para ahli kebudayaan menjelaskan bahwa masyarakat Aceh telah mengenal berbagai ritual penghormatan menggunakan unsur-unsur alam jauh sebelum Islam berkembang secara luas di wilayah ini.
Namun ketika Islam datang melalui dakwah para ulama, tradisi tersebut tidak dihapus. Para ulama memilih jalan yang bijaksana dengan melakukan penyelarasan budaya sehingga seluruh unsur yang bertentangan dengan akidah perlahan ditinggalkan, sementara nilai-nilai yang baik dipertahankan dan diberi makna baru sesuai dengan ajaran Islam.
Mantra-mantra yang dahulu digunakan diganti dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, zikir, selawat, dan doa yang sepenuhnya di panjatkan kepada Allah SWT. Dari proses panjang itulah lahir bentuk peusijuek yang dikenal masyarakat Aceh hingga hari ini.
Proses tersebut menunjukkan bahwa Islam berkembang di Aceh melalui pendekatan yang damai dan penuh hikmah. Budaya tidak dimusuhi, tetapi diarahkan agar menjadi media dakwah dan penguat nilai-nilai keislaman.
Karena itu, masyarakat Aceh sejak dahulu memegang teguh falsafah yang sangat terkenal, yaitu hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut. Hukum dan adat dipandang seperti zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan. Falsafah tersebut bukan sekadar ungkapan, melainkan menjadi pedoman hidup yang tercermin dalam berbagai tradisi masyarakat, termasuk Peusijuek Woe Haji.
Selama adat tidak bertentangan dengan syariat, maka adat menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memperkuat kehidupan beragama.
Dalam pandangan masyarakat Aceh, peusijuek bukan ritual yang memiliki kekuatan gaib. Inti utamanya adalah doa yang dipanjatkan bersama. Semua simbol yang digunakan hanyalah pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang baik. Oleh sebab itu, setiap prosesi selalu dipimpin oleh teungku, imam gampong, atau tokoh agama yang dihormati agar seluruh rangkaian acara tetap berada dalam koridor syariat Islam.
Prosesi biasanya diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, selawat kepada Nabi Muhammad SAW, zikir, dan doa keselamatan. Suasana yang semula dipenuhi kegembiraan berubah menjadi khusyuk ketika doa dipanjatkan.
Tidak sedikit keluarga yang menitikkan air mata karena teringat perjuangan panjang yang telah dilalui hingga akhirnya dapat berkumpul kembali dalam keadaan sehat.
Setelah itu dilaksanakan prosesi peusijuek dengan menggunakan berbagai perlengkapan adat yang diwariskan turun-temurun. Setiap perlengkapan memiliki makna filosofis yang begitu dalam dan sarat dengan pesan moral.
Breuh padee atau padi menjadi salah satu simbol utama. Dalam masyarakat Aceh, padi tidak hanya melambangkan kemakmuran, tetapi juga kerendahan hati. Filosofi yang sering disampaikan para orang tua masih sangat relevan hingga kini, yakni semakin berisi padi, semakin merunduk. Begitu pula seorang haji.
Setelah memperoleh pengalaman spiritual yang sangat berharga di Tanah Suci, ia diharapkan semakin rendah hati, semakin bijaksana, dan semakin dekat dengan Tuhan dan sesama manusia. Gelar haji bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan amanah agar menjadi teladan dalam akhlak dan kehidupan sehari-hari.
Air tepung tawar yang dipercikkan kepada jamaah juga memiliki makna yang mendalam. Kata peusijuek sendiri berasal dari kata sijuek yang berarti sejuk atau dingin. Kesejukan yang dimaksud bukanlah kesejukan fisik, melainkan kesejukan hati dan jiwa.
Melalui doa yang dipanjatkan, masyarakat berharap agar hati seorang haji tetap tenang setelah kembali dari Tanah Suci. Ia diharapkan mampu menjaga kesabaran, mengendalikan emosi, serta menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan hati yang lapang sebagaimana ketenangan yang dirasakan saat beribadah di Makkah dan Madinah.
Air tepung tawar tersebut biasanya dipercikkan menggunakan ikatan dedaunan tertentu seperti on seunijuek, naleung sambo, on manek manou, atau dedaunan lain yang dikenal dalam tradisi Aceh. Dedaunan itu bukan sekadar pelengkap prosesi. Ikatan berbagai jenis daun melambangkan kebersamaan, persatuan, dan kekuatan.
Masyarakat Aceh ingin mengingatkan bahwa manusia tidak pernah dapat hidup sendiri. Kehidupan akan terasa lebih ringan apabila dijalani bersama keluarga, sahabat, dan masyarakat yang saling mendukung dalam kebaikan.
Prosesi berikutnya dilanjutkan dengan penggunaan bu leukat atau nasi ketan. Teksturnya yang lengket mengandung pesan yang sangat sederhana, tetapi begitu mendalam. Hubungan silaturahmi diharapkan tetap erat sebagaimana lengketnya ketan.
Setelah berhaji, seseorang jangan sampai menjauh dari masyarakat atau merasa lebih mulia daripada orang lain. Justru sebaliknya, kemabruran haji harus terlihat dari semakin kuatnya hubungan persaudaraan, kepedulian terhadap sesama, serta semangat untuk membantu orang-orang di sekitarnya.
Tidak jarang prosesi tersebut diakhiri dengan pemberian teumutuek, berupa sejumlah uang atau bingkisan sederhana sebagai simbol penghormatan, kasih sayang, dan rasa syukur. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih berharga. Tradisi ini mengajarkan bahwa penghormatan tidak selalu diukur dengan materi, melainkan dengan ketulusan hati dan niat baik kepada sesama.
Seluruh rangkaian peusijuek mengandung satu pesan besar, yakni bahwa perjalanan haji belum benar-benar selesai ketika seseorang meninggalkan Makkah. Justru perjalanan yang sesungguhnya dimulai setelah ia kembali ke tengah masyarakat. Predikat haji mabrur harus tercermin dalam sikap, ucapan, dan perbuatan sehari-hari. Ia diharapkan menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli terhadap sesama, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan tempat ia hidup.
Perjalanan panjang itu pula yang membuat masyarakat Aceh sejak dahulu memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada orang yang telah kembali dari Tanah Suci. Penghormatan tersebut bukan karena status sosial yang melekat pada gelar haji, melainkan karena mereka telah menunaikan salah satu kewajiban terbesar dalam ajaran Islam.
Dalam pandangan masyarakat Aceh, seseorang yang baru pulang dari Makkah telah melewati rangkaian ibadah yang menguras tenaga, kesabaran, dan keikhlasan. Ia pernah berdiri di Padang Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, mengelilingi Ka’bah, bersa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, serta menjadi saksi jutaan umat Islam berkumpul dalam satu tujuan yang sama, yaitu memenuhi panggilan Allah SWT.
Hubungan masyarakat Aceh dengan Tanah Suci sesungguhnya telah terjalin sejak berabad-abad silam. Sejarah mencatat bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pintu utama keberangkatan jamaah haji dari Nusantara.
Para ulama Aceh tidak hanya berangkat untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga menetap bertahun-tahun di Makkah untuk menuntut ilmu sebelum kembali membangun dayah dan menyebarkan ilmu agama di berbagai pelosok Aceh. Kedekatan sejarah inilah yang kemudian membuat Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah, sebuah julukan yang tidak hanya menunjukkan letak geografis, tetapi juga menggambarkan kuatnya hubungan spiritual masyarakat Aceh dengan pusat peradaban Islam.
Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui keberadaan Wakaf Baitul Asyi di Makkah. Wakaf yang didirikan oleh seorang dermawan asal Aceh pada abad ke-19 tersebut hingga kini masih memberikan manfaat kepada jamaah haji asal Aceh.
Setiap musim haji, ribuan jamaah memperoleh bantuan dari hasil pengelolaan aset wakaf tersebut. Bagi masyarakat Aceh, keberadaan Wakaf Baitul Asyi bukan sekadar bantuan ekonomi, tetapi juga menjadi simbol bahwa hubungan antara Aceh dan Tanah Suci telah terjalin sangat lama dan terus hidup hingga sekarang.
Sejarah juga mencatat keberadaan Pulau Rubiah di Sabang yang pernah menjadi tempat karantina jamaah haji pada masa kolonial Belanda. Ketika perjalanan menuju Makkah masih menggunakan kapal laut, para jamaah harus menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan berbagai risiko.
Sebelum diberangkatkan maupun setelah kembali, mereka diwajibkan menjalani masa karantina. Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjalanan haji orang Aceh pada masa lalu tidak pernah mudah. Mereka harus menghadapi gelombang laut, cuaca yang tidak menentu, ancaman penyakit, hingga perjalanan yang sangat panjang. Karena itulah kepulangan seorang haji selalu disambut dengan rasa syukur yang begitu mendalam.
Tradisi menyambut jamaah haji kemudian tidak berhenti pada prosesi peusijuek. Di banyak daerah di Aceh, keluarga juga mengadakan kenduri syukuran sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada Allah SWT. Kenduri bukan sekadar jamuan makan bersama, melainkan ruang untuk mempererat kembali hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
Rumah jamaah yang baru pulang biasanya dipenuhi tamu yang datang silih berganti. Mereka tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga berbagi cerita, saling mendoakan, dan mendengarkan pengalaman spiritual selama berada di Tanah Suci.
Setiap daerah di Aceh memiliki kekhasan tersendiri dalam menyajikan hidangan kenduri. Di Aceh Besar dan Banda Aceh misalnya, Kuah Beulangong hampir selalu menjadi menu utama. Di kawasan Barat Selatan Aceh terdapat Kuah Pliek U, Asam Drien, Keumamah, dan Sie Masak Mirah. Sementara di Pantai Utara dan Pantai Timur Aceh, Ayam Tangkap, Gulee Asam Keueng, Bu Kulah, Timphan, dan Bhoi menjadi hidangan yang lazim disajikan.
Adapun di dataran tinggi Gayo, masyarakat menyuguhkan Gutel, Lepat Gayo, Masam Jing, Pengat, serta berbagai kuliner tradisional lainnya. Keragaman kuliner tersebut menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki cara sendiri dalam mengungkapkan rasa syukur, tetapi semuanya bermuara pada nilai yang sama, yaitu memuliakan tamu Allah yang telah kembali ke kampung halaman.
Di balik seluruh rangkaian itu, Peusijuek Woe Haji sesungguhnya mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Tradisi ini mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang dalam menunaikan ibadah tidak boleh menjadikannya terpisah dari masyarakat.
Justru setelah berhaji, seseorang diharapkan semakin aktif membangun silaturahmi, menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, serta menghadirkan kesejukan di tengah lingkungan tempat ia tinggal. Kemabruran haji tidak cukup dibuktikan melalui gelar yang melekat di depan nama, tetapi harus tampak dalam sikap yang lebih santun, kejujuran yang semakin kuat, kepedulian terhadap sesama, dan semangat untuk terus menebarkan kebaikan.
Nilai-nilai seperti itulah yang membuat Peusijuek Woe Haji tetap bertahan hingga sekarang. Meskipun masyarakat Aceh telah memasuki era digital dan kehidupan terus berubah, tradisi ini tidak kehilangan maknanya.
Bahkan media sosial menjadi ruang baru untuk memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada generasi muda. Foto dan video prosesi peusijuek yang dibagikan setiap musim haji memperlihatkan bahwa masyarakat Aceh masih memiliki kebanggaan terhadap identitas budayanya.
Bagi generasi muda Aceh, Peusijuek Woe Haji mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak semestinya dirayakan dengan kemewahan atau kebanggaan yang berlebihan, tetapi dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan doa bersama. Haji bukanlah akhir dari perjalanan seorang Muslim, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar.
Seseorang yang telah memperoleh kesempatan menjadi tamu Allah dituntut untuk menjaga akhlak, memperkuat ibadah, serta menjadi contoh yang baik bagi keluarga dan masyarakat.
Pada akhirnya, Peusijuek Woe Haji bukan sekadar tradisi penyambutan jamaah yang pulang dari Tanah Suci. Ia merupakan cerminan cara masyarakat Aceh memaknai ibadah haji sebagai peristiwa yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, budaya, dan kemanusiaan. Di dalamnya terdapat ungkapan cinta kepada sesama Muslim, penghormatan kepada tamu Allah, rasa syukur atas nikmat yang diberikan, sekaligus doa agar kemabruran haji terus mewarnai kehidupan sehari-hari.
Di tengah dunia yang semakin modern dan serba cepat, masyarakat Aceh sesungguhnya memiliki kekayaan yang tidak dimiliki semua daerah, yakni kemampuan merawat adat tanpa meninggalkan syariat. Peusijuek Woe Haji adalah salah satu buktinya. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebesaran seorang haji bukan diukur dari gelar yang disandang, melainkan dari akhlak yang semakin baik setelah kembali dari Tanah Suci. Selama pesan itu tetap hidup, Peusijuek Woe Haji akan terus menjadi wajah Islam Aceh yang khas, penuh syukur, dan menguatkan persaudaraan.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa adat dan syariat dapat berjalan beriringan ketika dibangun di atas nilai-nilai tauhid. Peusijuek Woe Haji memperlihatkan bagaimana masyarakat Aceh berhasil menjaga warisan budaya tanpa meninggalkan ajaran Islam. Di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat, tradisi ini tetap hidup sebagai penanda jati diri masyarakat Aceh yang religius, menjunjung tinggi persaudaraan, serta menghormati setiap ikhtiar menuju kesempurnaan ibadah.
Selama nilai-nilai itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, Peusijuek Woe Haji akan tetap menjadi salah satu warisan budaya Islam Aceh yang tidak hanya indah untuk dipertahankan, tetapi juga kaya makna untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat Aceh.












