Membongkar Ilusi Akademia:

Jalan Keluar dari Pabrik Metrik dan Kultus Produktivitas
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Universitas modern telah berubah menjadi mesin raksasa yang menggilas intelektualnya sendiri. Di dalamnya, akademisi dipaksa berlari tanpa henti, mengejar angka, indeks, dan sertifikat, seolah-olah kualitas pemikiran dapat diukur dengan kalkulator birokrasi.
Sistem metrik akademik—yang menjanjikan objektivitas—sebenarnya adalah alat penjinakan intelektual. Para pemikir yang jernih telah lama melihat kerusakan ini dan menawarkan jalan keluar yang tidak hanya radikal, tetapi juga sinis terhadap absurditas dunia akademik hari ini.
Maggie Berg dan Barbara Seeber, dalam The Slow Professor, menyatakan bahwa akademia telah terjebak dalam “budaya kecepatan yang mematikan pemikiran” (Berg & Seeber, 2016: 3). Mereka menolak gagasan bahwa produktivitas adalah ukuran kualitas intelektual.
Bagi mereka, universitas telah menjadi tempat di mana “waktu untuk berpikir dianggap sebagai kemewahan yang tidak efisien” (hal. 12). Gerakan slow scholarship adalah bentuk perlawanan terhadap logika industrialisasi pengetahuan: sebuah ajakan untuk kembali pada kontemplasi, kreativitas, dan tulisan yang lahir dari pergulatan intelektual, bukan dari tenggat KUM.
Michael Burawoy, melalui esainya “For Public Sociology,” menampar keras akademisi yang hanya menulis untuk jurnal yang tidak pernah dibaca publik. Burawoy menulis bahwa akademisi telah “berbicara hanya kepada diri mereka sendiri dalam ruang gema yang steril” (Burawoy, 2005: 7).
Ia menyerukan agar akademisi kembali menulis untuk publik, bukan untuk birokrasi. Pengetahuan, katanya, hanya bermakna ketika ia “berinteraksi dengan masyarakat yang membutuhkannya” (hal. 9).
Dalam dunia yang terobsesi pada indeks sitasi, gagasan Burawoy terdengar hampir subversif: bahwa intelektual seharusnya berbicara kepada manusia, bukan kepada metrik.
Derek Bok, dalam Universities in the Marketplace, menunjukkan bagaimana universitas telah berubah menjadi institusi yang mengejar insentif finansial dan metrik. Bok menulis bahwa universitas kini “lebih sibuk mencari pendapatan daripada mencari kebenaran” (Bok, 2003: 18).
Ia menggambarkan bagaimana logika pasar merembes ke dalam setiap aspek kehidupan akademik, termasuk penilaian kinerja dosen. Publish or perish bukan lagi peringatan, tetapi ancaman yang membentuk seluruh ekosistem akademia.
Bok melihat universitas sebagai organisasi yang telah kehilangan kompas moralnya, digantikan oleh spreadsheet dan laporan kinerja.
Di tingkat global, DORA Declaration menjadi dokumen yang secara terang-terangan menyatakan bahwa penilaian akademik berbasis metrik publikasi adalah cacat sejak lahir. DORA menegaskan bahwa “jumlah publikasi tidak dapat dijadikan indikator kualitas penelitian” (DORA, 2012: 1).
Dokumen ini adalah bentuk pengakuan internasional bahwa sistem metrik telah merusak integritas akademik. Ironisnya, banyak universitas menandatangani DORA dengan penuh semangat, lalu kembali menggunakan metrik yang sama pada hari berikutnya. DORA menjadi semacam moralitas simbolik: semua orang mengakuinya, tetapi sedikit yang mengikutinya.
Keempat gagasan ini menunjukkan bahwa jalan keluar dari sistem metrik akademik bukanlah reformasi kecil, tetapi perubahan paradigma. Akademia harus berhenti berpura-pura bahwa angka dapat menggantikan penilaian intelektual.
Ia harus berhenti menganggap produktivitas sebagai kebajikan. Ia harus berhenti menilai kualitas pemikiran berdasarkan berapa banyak jurnal yang dapat dihasilkan seseorang dalam setahun.
Gerakan slow scholarship mengajarkan bahwa berpikir membutuhkan waktu. Public scholarshipmengingatkan bahwa pengetahuan harus kembali kepada publik. Kritik terhadap publish or perishmenunjukkan bahwa universitas telah kehilangan arah. DORA menegaskan bahwa metrik bukanlah penilaian.
Jika universitas ingin kembali menjadi tempat lahirnya gagasan besar, ia harus berani menghancurkan berhala metrik yang selama ini disembah. Jalan keluar dari krisis akademia bukanlah lebih banyak angka, tetapi lebih banyak pemikiran. Bukan lebih banyak publikasi, tetapi lebih banyak keberanian intelektual. Bukan lebih banyak insentif, tetapi lebih banyak integritas.
Universitas hanya akan hidup kembali ketika ia berhenti menjadi pabrik dan kembali menjadi tempat berpikir.
Bibliografi
Berg, M., & Seeber, B. (2016). The Slow Professor: Challenging the Culture of Speed in the Academy. University of Toronto Press.
Bok, D. (2003). Universities in the Marketplace: The Commercialization of Higher Education. Princeton University Press.
Burawoy, M. (2005). For public sociology. American Sociological Review, 70(1), 4–28.
DORA. (2012). San Francisco Declaration on Research Assessment.












