Artikel · Potret Online

Gelar Tinggi, Tinta Kering

Penulis Saiful Bahri
Juni 30, 2026
3 menit baca 10
9d96e58e-d637-41dd-a474-0f472d6db677
Foto / IlustrasiGelar Tinggi, Tinta Kering

Oleh Saiful Bahri

*”Jangan sampai gelar bikin tinta kering. KUM 40 poin jadi  berani, tapi takut pada 40 komentar netizen?”*

Ada pepatah mengatakan : “Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya”. Tapi kenapa banyak “pohon besar” alias Profesor, malah takut kena angin komentar? 

Tabrani Yunis baru menulis soal “Lingkaran Setan KUM”. Benar. Banyak dosen menulis jurnal 40 poin KUM dengan dada tegak. Tapi disuruh menulis kolom opini 500 kata di media, tangannya gemetar. 

Kenapa? Karena jurnal salah = revisi. Opini salah = dibully  banyak orang, kena mental.

*IParadoks KUM: Berani Salah di Jurnal, Takut Salah di Publik – 

Sistem KUM 40 poin itu “garam”. Dia bikin dosen tidak takut salah, karena ada tim reviewer, ada revisi, ada proses. 

Tapi begitu keluar dari “Dunia  akademik”, masuk ranah  publik… langsung ciut. Takut pendapatnya tidak umum. Takut dinilai “Prof abal-abal”.

,Padahal seorang  Profesor itu harusnya punya 1 senjata: *DATA*. Kalau beda pendapat, jawab pakai data ilmiah. Kalau salah, akui. Itu namanya ilmuan, bukan “tukang gelar”.

Penyakit “Gelar = Dinding 

Masalahnya: banyak yang merasa “sudah jadi Guru Besar, untuk apa menulis nulis lagi? Gelar jadi dinding pembatas, Dinding ego. 

Padahal Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tetap belajar sampai beliau wafat. Imam Syafi’i nulis kitab sampai akhir hayatnya. 

Gelar itu bukan “pensiun untuk menulis”. Gelar itu “tanggung jawab menulis”. Karena 1 tulisan Prof dibaca 1000 mahasiswa. 1 tulisan orang biasa  dibaca 10 orang. Begitulah  kira kira 

– Solusinya: “Nulis Kayak Jurnal, Tapi Bahasanya Kopi” – Artinya bahasa yang mudah dimengerti orang banyak, masyarakat umum. 

Jadi solusinya gampang: Menulis opini itu samakan seperti menulis jurnal dengan tetap:

1.  *Punya Data* tentunya  as. Kasih angka, berikan  rujukan, kasih QS. 

2.  *Siap Dikritik*: Jurnal saja direview 3 orang. Opini direview 3000 orang. Sama saja sebenarnya. 

3.  *Niatnya Beda*: Nulis jurnal karena KUM. Nulis opini karena “jariyah”. 

Karena tulisan opini itu “kopi”: bikin melek. Jurnal itu “obat”: bikin sembuh. Dua-duanya penting.

*Penutup – Pelajaran Buat Kita Semua 

Jadi buat para Profesor: Jangan takut menulis karena gelar sudah  tinggi. 

Buat para orang biasa(non gelar) : Jangan takut menulis karena gelar belum  tinggi.

Ingat kaidah tadi: *Tunzur ilal maqali wala tandzur ilal qaili*. 

Lihat isinya, bukan sampul gelarnya.

Karena di akhirat, Allah tidak  bertanya: “Kamu Profesor atau bukan?” 

Tapi Allah tanya: “Ilmu kamu, kamu tulis dan sebarkan tidak?”

SB

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Motivator berdomisili di Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...