Gelar Tinggi, Tinta Kering

Oleh Saiful Bahri
*”Jangan sampai gelar bikin tinta kering. KUM 40 poin jadi berani, tapi takut pada 40 komentar netizen?”*
Ada pepatah mengatakan : “Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya”. Tapi kenapa banyak “pohon besar” alias Profesor, malah takut kena angin komentar?
Tabrani Yunis baru menulis soal “Lingkaran Setan KUM”. Benar. Banyak dosen menulis jurnal 40 poin KUM dengan dada tegak. Tapi disuruh menulis kolom opini 500 kata di media, tangannya gemetar.
Kenapa? Karena jurnal salah = revisi. Opini salah = dibully banyak orang, kena mental.
*IParadoks KUM: Berani Salah di Jurnal, Takut Salah di Publik –
Sistem KUM 40 poin itu “garam”. Dia bikin dosen tidak takut salah, karena ada tim reviewer, ada revisi, ada proses.
Tapi begitu keluar dari “Dunia akademik”, masuk ranah publik… langsung ciut. Takut pendapatnya tidak umum. Takut dinilai “Prof abal-abal”.
,Padahal seorang Profesor itu harusnya punya 1 senjata: *DATA*. Kalau beda pendapat, jawab pakai data ilmiah. Kalau salah, akui. Itu namanya ilmuan, bukan “tukang gelar”.
Penyakit “Gelar = Dinding
Masalahnya: banyak yang merasa “sudah jadi Guru Besar, untuk apa menulis nulis lagi? Gelar jadi dinding pembatas, Dinding ego.
Padahal Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tetap belajar sampai beliau wafat. Imam Syafi’i nulis kitab sampai akhir hayatnya.
Gelar itu bukan “pensiun untuk menulis”. Gelar itu “tanggung jawab menulis”. Karena 1 tulisan Prof dibaca 1000 mahasiswa. 1 tulisan orang biasa dibaca 10 orang. Begitulah kira kira
– Solusinya: “Nulis Kayak Jurnal, Tapi Bahasanya Kopi” – Artinya bahasa yang mudah dimengerti orang banyak, masyarakat umum.
Jadi solusinya gampang: Menulis opini itu samakan seperti menulis jurnal dengan tetap:
1. *Punya Data* tentunya as. Kasih angka, berikan rujukan, kasih QS.
2. *Siap Dikritik*: Jurnal saja direview 3 orang. Opini direview 3000 orang. Sama saja sebenarnya.
3. *Niatnya Beda*: Nulis jurnal karena KUM. Nulis opini karena “jariyah”.
Karena tulisan opini itu “kopi”: bikin melek. Jurnal itu “obat”: bikin sembuh. Dua-duanya penting.
*Penutup – Pelajaran Buat Kita Semua
Jadi buat para Profesor: Jangan takut menulis karena gelar sudah tinggi.
Buat para orang biasa(non gelar) : Jangan takut menulis karena gelar belum tinggi.
Ingat kaidah tadi: *Tunzur ilal maqali wala tandzur ilal qaili*.
Lihat isinya, bukan sampul gelarnya.
Karena di akhirat, Allah tidak bertanya: “Kamu Profesor atau bukan?”
Tapi Allah tanya: “Ilmu kamu, kamu tulis dan sebarkan tidak?”
SB












