Oleh Juni Ahyar

Di singgasana kuasa,
sering kali kata-kata menjelma mahkota,
sementara telinga perlahan menutup pintu,
merasa diri telah paling tahu.
Prestasi memang mengangkat langkah,
pengalaman menegakkan bahu,
namun kesombongan diam-diam mengikis hati,
hingga nasihat dianggap duri.
Ada yang datang membawa cahaya,
tetapi dicurigai sebagai badai.
Ada yang mengulurkan kebenaran,
namun dibalas dengan ejekan dan prasangka.
Begitulah pemimpin yang lupa,
bahwa suara kecil dari bawah
kadang lebih jernih
daripada gemuruh tepuk tangan di sekelilingnya.
Ada yang mendengar sekadar formalitas,
mengangguk tanpa makna,
memberi harapan tanpa tindakan,
membiarkan kepercayaan layu sedikit demi sedikit.
Namun ada pula yang berhenti sejenak,
menimbang setiap kata,
mencari jalan tengah,
menyatukan perbedaan demi kemaslahatan.
Dan yang paling mulia,
adalah mereka yang mendengar dengan hati.
Tak sekadar menangkap suara,
tetapi juga luka, harapan, dan doa
yang tersembunyi di balik setiap ucapan.
Ia tak takut mengakui kekeliruan,
tak malu meminta maaf,
sebab baginya harga diri bukanlah gengsi,
melainkan keberanian memperbaiki diri.
Ia percaya,
lawan pendapat bukanlah musuh,
melainkan sahabat yang membantu
menemukan jalan yang lebih benar.
Sebab pemimpin sejati
bukan yang paling keras suaranya,
bukan yang selalu menang dalam perdebatan,
melainkan yang paling lapang dadanya
menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.
Kelak ketika jabatan telah usai,
ketika nama tinggal sejarah,
yang akan dikenang bukanlah kekuasaan,
melainkan ketulusan mendengar,
kerendahan hati menerima,
dan kebijaksanaan merangkul semua.
Karena sesungguhnya,
pemimpin terbaik bukan hanya pandai berbicara,
tetapi mampu mendengarkan
hingga setiap keputusan lahir
bukan dari ego,
melainkan dari nurani.
Diskusi