Uroe Asyura di Desa Teuku Umar

Oleh Ir. Azhar, M.T.
Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung
Desa Teuku Umar (DTU) itu jangan dibayangkan sebagai sebuah desa benaran sebagaimana didefinisikan oleh pemerintah dalam UU Nomor 6 tahun 2014. DTU ini tidak memiliki Kepala Desa (Keuchik), tetapi ada wilayahnya. DTU ini terletak di Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar; yang terbentuk dari gabungan tiga gampong: Lampisang, Keuneu-eui, dan Beuradeun.
DTU itu sendiri terbentuk pada era 1970-an sebagai wujud persatuan dari tiga gampong itu terkhusus terkait dengan geliat olah raga sepak bola pada zamannya itu; hingga kemudiannya terbentuk “Kodestu” singkatan dari “Kesatuan Olahraga Desa Teuku Umar”.
Kodestu ini memiliki lapangan sepak bola yang terletak di kaki bukit yang merupakan gabungan dari beberapa petak sawah dan kebun. Di lapangan sepak bola Kodestu ini dulunya sering digelar turnamen sepak bola yang diikuti oleh sejumlah kesebelasan yang ada di daerah itu seperti Black Star (Lam Lhom), Sri Musim (Lampu’uk), Copsir (Simpang Rima), Persirawa (Leupung), dan beberapa klub lainnya di kawasan itu.
Sekarang lapangan Kodestu sudah tidak ada. Lapangan tersebut sudah berubah kembali menjadi kebun-kebun milik warga.
Sebetulnya, sebelum DTU hadir; tiga gampong tersebut tadi telah lebih dahulu mendeklarasikan dirinya sebagai “Mukim Beuradeun”, sebagai separatis dari Mukim Gurah dalam Kecamatan Peukan Bada.
Sebagaimana DTU, Mukim Beuradeun ini juga tidak terdapat dalam administrasi pemerintahan; namun eksistensinya tetap hidup dalam masyarakat tiga gampong tadi.
Dalam adat Aceh Lhee Sagoe (Aceh Besar sekarang), dalam satu mukim hanya boleh ada satu masjid. Konsekuensinya Mukim Beuradeun juga harus mendirikan masjid tersendiri, terpisah dari masjid Mukim Gurah. Penentuan lokasi masjid untuk Mukim Beuradeun ini, menurut cerita orang-orang tua zaman dahulu, adalah Teungku Imum dari Mukim Beuradeun di gampong Beuradeun berkata: “Pat nyang rhot tumbak nyo, I sinan tapeudong Meuseujid” (Di mana tombak ini jatuh, di situ kita dirikan Masjid).
Lalu, dari gampong Beuradeun itu dilemparkannyalah tombak itu dan jatuhlah tombak itu pula di lokasi masjid sekarang ini (tepat di perbatasan antara gampong Keuneu-eui dan gampong Lampisang) yang secara administratif pemerintahan masuk ke dalam wilayah gampong Keuneu-eui.
Masyarakat dari tiga gampong itu bergotong royong mencari kayu-kayu, menebang pohon di hutan sekitar kampung untuk bahan konstruksi hingga kemudian berdirilah masjid baru untuk Mukim Beuradeun. Gaya arsitektur masjid baru ini sangat mirip dengan Masjid Tua Indrapuri. Sekarang masjid untuk Mukim Beuradeun sudah berubah. Masjid yang dulunya berbahan konstruksi kayu telah dibongkar dan dibuat masjid baru berbahan beton. Masjid ini diberi nama “Masjid Baiturrahim”.
Dana pembangunannnya adalah dari “meuripee” setiap Kepala Keluarga yang ada di tiga gampong itu dalam bentuk uang, beras, dan cengkeh.
Begitulah gambaran sekilas tentang DTU dengan Mukim Beuradeun-nya. DTU ini jaraknya sekitar 8 kilometer dari Tugu Jam (Simpang Peut) Banda Aceh ke arah selatan menelusuri Jalan Teuku umar, Jalan Cut Nyak Dhien hingga ke jalan Banda Aceh – Meulaboh (melewati Lamteumen – Ajun – Simpang Rima – Rima Jeuneu) dan DTU (Lampisang – Keuneu-eui – Beuradeun). KM 8 itu tepat di gampong Keuneu-eui; sedangkan di gampong Lampisang sendiri (sedikit setelah KM 7) terdapat Rumah Cut Nyak Dhien, sebelah kiri jalan raya kalau dari Banda Aceh dan di gampong Beuradeun ada SPBU yang berbatasan dengan Kecamatan Lhok Nga.
Sekarang di Gampong Lampisang banyak warga yang berjualan oleh-oleh terutama Kuweh Boisebagai salah satu kekhasan lokal.
Apa yang penting kemudiannya dengan DTU (Mukim Beuradeun) ini? Di DTU ini ada adat berupa larangan untuk turun ke sawah dan berpergian ke kebun (lampoh) pada hari Jum’at. Ini dalam kerangka menghormati dan memuliakan hari Jum’at. Ini ibarat hari “suci” bagi warga DTU; mungkin mirip dengan hari Sabat (Sabtu) bagi warga Yahudi; yaitu untuk beristirahat dan beribadah pada hari Sabtu dan dilarang menangkap ikan pada hari tersebut.
Di DTU ini, mungkin karena masyarakatnya sangat terikat dengan keagamaan, ada banyak macam kenduri saban tahun. Mulai dari kenduri Maulid, Kenduri Blang, Kenduri Tamat Daruh (tamat tadarusan pada bulan puasa), Kenduri Jarat (biasanya di kuburan orang keramat), Kenduri Ulee Jurong (semacam ritual tolak bala), Kenduri Uroe Tujoh (tujuh hari orang meninggal); dan masih banyak lagi yang lain.
Mungkin kalau secara sastrawi bisa disebut “Desa 1000 Kenduri”, termasuk Kenduri “Uroe Asyura”; hingga kemudian ada pepatah dalam masyarakat DTU: “Udep nyoe beuglah Meuripee” (hidup ini harus mampu untuk urunan, patungan), untuk membuat kenduri demi kenduri.
Khusus untuk “Uroe Asyura”, di DTU kendurinya itu tidak secara meuripee, tetapi dilakukan per rumah atau per KK.
Pada Uroe Asyura di setiap rumah, ibu-ibu bersama anak perempuannya memasak makanan yang disebut “Ie Bu Asyura” atau “Bubur Asyura”. Biasanya (walaupun bukan meuripee), proses pemasakan bubur ini dilakukan bersama tetangga, mungkin untuk menghemat wajan dan kayu bakar. Setelah bubur selesai dibuatkan, bubur itu dibawa ke Meunasah dan di situlah warga ramai-ramai memakan bubur asyura itu.
Apa yang tampak dari prosesi hari Asyura dengan buburnya itu adalah kekompakan dan persatuan warga dalam ikatan kebersamaan.
Lantas apa isi pokok dari “Uroe Asyura” itu sendiri? Banyak pendapat yang menyatakan bahwa Kenduri Uroe Asyura itu sebagai wujud rasa syukur, yang bahwa menurut banyak catatan sejarah pada hari Asyura (hari ke sepuluh bulan Muharram) itu Nabi Musa a.s. selamat dari kejaran Fir’aun, Kapal Nabi Nuh berlabuh di atas puncak gunung, diterimanya taubat Nabi Adam a.s. , Nabi Yusuf a.s. dikeluarkan dari penjara, Nabi Ibrahim a.s. selamat dari siksa raja Namrud, Nabi Yunus a.s. keluar dari perut ikan, dan Nabi Ayyub a.s. sembuh dari penyakit yang menjijikkan.
Dalam konteks seperti itu pantas kalau “Uroe Asyura” dipandang sebagai hari rasa syukur. Tapi, apakah hari rasa syukur ini cocok untuk masyarakat Aceh secara umum atau untuk masyarakat DTU secara khusus?
Jika dicermati baik-baik nuansa ke-Islam-an di Aceh, pada mulanya Islam di Aceh lebih bercorakkan Islam versi Syi’ah. Dalam banyak catatan sejarah, termasuk naskah akademik, dikatakan bahwa paham atau aliran Syi’ah telah lebih dulu ada di Aceh.
Tari Seudati misalnya, diyakini sebagai tarian bernuansa perang yang memancarkan semangat perlawanan dan kepahlawanan. Kostum penari berwarna hitam sebagai simbol perkabungan, atau berwarna putih laksana kain kafan.
Kemudian ada banyak batu nisan di Aceh yang bercorak Syi’ah (Persia) yang berbentuk silinder atau bulat seperti di Kerajaan Lamuri (Aceh Besar), seperti terdapat di dekat gerbang Tol Kajhu, termasuk di DTU. Batu-batu nisan ini tanpa tulisan, berbeda dengan lainnya yang ada tulisan kaligrafi.
Selanjutnya, di DTU (atau Aceh secara umum) ada hikayat yang hidup dalam masyarakat yaitu “Hikayat Asan Usen” , yaitu karya sastra klasik Melayu dan Aceh yang menceritakan kisah kehidupan, kepahlawanan, dan kesyahidan cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Lebih dari itu, dalam adat dan budaya Aceh, untuk bulan Muharram pun dinamai “Buleun Asan-Usen”.
Artinya, Uroe Asyura bagi masyarakat DTU (atau Aceh secara umum), tidak terlepas dari Syi’ah dan secara khusus terkait dengan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husen, lebih khususnya lagi adalah dengan wafatnya Husen dalam tragedi Karbala pada 10 Muharram.
Dengan kata lain, Uroe Asyura bersama dengan “Ie Bu Asyura” bukanlah hari untuk mengungkapkan rasa syukur sebagaimana diyakini oleh banyak pihak, melainkan hari berkabung; ibarat kenduri Uroe Tujoh, bukan hari untuk bersyukur atas meninggalnya seseorang.
Dulu, di DTU pada Uroe Asyura itu selain memakan bubur bersama di Meunasah juga ada dibacakan syair-syair atau hikayat Asan-Usen oleh seorang syech. Warga mendengarkannya dengan penuh kekhusyukan, seakan larut dalam kesedihan yang menimpa cucu Rasulullah SAW itu. Bagaimana rasa sedih ini terbentuk bisa dibaca dalam buku “Hikayat Amir Hasan dan Amir Husen” yang dikarang oleh Ishak Petua Gam yang diangkatnya dari “Hikayat Hasan Husen” berbahasa Melayu.
Pelajaran terpenting dari Uroe Asyura ini adalah mengingat dan mengenang betapa suatu perjuangan dalam melawan kezaliman tak selamanya berjalan mulus bahkan bisa menelan korban jiwa. Semangat juang ini yang harus selalu terpelihara dan hidup dalam masyarakat kekinian di mana tantangan bertambah besar dan muncul dalam berbagai bentuknya.
Mengenang 10 Muharram berarti harus bertransformasi menjadi sebuah daya untuk terus berjuang dan mempertahankan aqidah di tengah gejolak zaman sekarang ini.
—*












