Yang Beruntung Terbang Serba Gratis ke Miami, Amerika Serikat

Oleh Tabrani Yunis
Kesempatan itu hanya datang satu kali. Sebuah ungkapan yang sering kita dengar di tengah masyarakat kita. Ungkapan itu bukan lah ungkapan kosong, tetapi penuh makna dan memberikan petuah kepada kita agar kita tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Sebab, pada umumnya peluang besar dalam hidup sering datang hanya satu kali. Artinya kesempatan besar atau kesempatan yang sama jarang terulang kembali.
Dalam konteks kesempatan duniawi, bisa kita tarik kesimpulan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, atau peluang usaha, sering muncul hanya satu kali. Oleh sebab itu menunda atau merasa ragu dengan kesempatan itu, dapat membuat kesempatan atau peluang itu hilang. Sehingga bisa berakhir dengan kata, menyesal atau andai dulu saya ambil, pasti saya bisa begitu atau begini. Tapi sayang, kadang nasi telah jadi bubur, yang berlalu, tetap berlalu.
Penulis masih sangat ingat dengan kesepakatan emas yang penulis dapatkan pada tahun 2007 lalu. Sehingga ungkapan itu menjadi pelajaran berharga bagi penulis. Pelajaran itu kiranya layak untuk dibagikan kepada siapa saja. Apalagi tanpa harus mengeluarkan dana dari tabungan sendiri .Kesempatan emas yang pernah penulis dapatkan di tahun 2007 lalu. Yang pasti adalah kesempatan yang sangat mahal nilainya.
Jujur saja, kalaulah menggunakan dana sendiri. Apalagi ini bukan dilatarbelakangi budaya flexing, ke luar negeri pakai dana APBN atau APBD yang bersumber dari keringat dan air mata rakyat. Ini adalah perjalanan yang dibiayai pihak lain untuk belajar bersama para siswa SMA yang telah diseleksi sesuai dengan standardisasi yang diberlakukan.
Perjalanan ini bukan hanya menjadi kebahagiaan penulis, mungkin juga kebanyakan orang, termasuk 16 orang siswa dan 4 pendamping yang mendapat kesempatan mengikuti program Youth Leadership Indonesian program (YLIP) di Miami, Amerika Serikat pada tahun 2007 lalu.
Penulis adalah satu di antara mereka yang berangkat dan tinggal di Miami selama satu bulan di bulan Juni 2007 yang lalu. Really, I was the one who could grab the golden opportunity to fly to Miami with 16 students.
Kini menunggu kesempatan kedua untuk pergi lagi ke Miami, tidak pernah ada lagi. Mungkin hanya bisa membayangkan dan meraba-raba perubahan apa yang telah terjadi selama lebih 19 tahun berlalu. Bayangkan ya, bagaimana pembangunan di negara maju, tidak seperti kita, saluran di pinggir jalan saja, hingga bertahun-tahun digenangi air hujan dan menyulitkan masyarakat lalu lalang.
Maka, benar sekali ungkapan itu. Kalau pun punya uang sendiri untuk kembali ke Miami, harus berpikir dan berhitung berkali-kali dengan hasil pikir berkata, tidak mungkin, karena berbagai alasan. Bahkan tak perlu dihitung lagi, sebab memang tak mampu.
Nah, lewat jalur program YLIP itu bayangan itu berubah menjadi kenyataan. Bagaimana bisa ya? Ceritanya begini. Kala itu, bulan Juni 2007, baru tiga bulan penulis pulang dari Helsinki, lalu mendapat kesempatan ke Miami, Florida, USA menjadi satu dari 4 pendamping siswa ke Florida, USA.
Program Kepemimpinan Remaja Indonesia yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Youth Leadership for Indonesia Program (YLIP), adalah sebuah kursus kepemimpinan dan Community Development di Florida International University (FIU), Miami. Belajar bersama di sebuah universitas terkemuka di Miami. Sangatlah menyenangkan, sebab program itu memberikan kesempatan bagi kami selama satu bulan tinggal di Miami, belajar bersama, kunjungan lapangan dan juga hiburan dan liburan.
Bayangkan, sebuah kesempatan luar biasa, tinggal di hotel di Miami selama satu bulan, belajar bersama di universitas besar yang bernama Florida Internasional University. Tidak salah kalau penulis katakan I was one of the luckiest people who got the golden opportunity saat itu.
Jujur saja ya, impian ke Amerika itu pernah muncul dalam pikiran kala pertama kali belajar bahasa Inggris di SMP Negeri Manggeng, Aceh Barat Daya di tahun 1970 an. Kala itu sering mendengar siaran radio Voice of America ( VOA). It is amazing. Really amazing. Membuat hati ingin ke Amerika suatu saat. Lalu, tahun 2007, My dream came true. Allah opened the way anytime we want struggle and study harder.
Jadi, program ini merupakan program kerjasama The Education and Culture affairs Department of US State Departments, Florida International University dan in country partners sebagai mitra Indonesia, yakni American Corner UGM di Jogjakarta dan Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh yang penulis pimpin. Ini pula lah yang menjadi salah satu faktor keberuntungan penulis, selain karena kemampuan berbahasa Inggris, pengalaman di LSM, sehingga terbuka jalan ke Miami.
Lalu, apa yang sangat menarik dari perjalanan ini? Sungguh sarat pengetahuan dan sarat pengalaman selama program ini berlangsung. Ya, para peserta banyak mendapat pengetahuan dan pengalaman langsung di lapangan dalam budaya dan peradaban yang berbeda. Dalam kegiatan ini juga para peserta program telah bisa menguji coba kemampuan berbahasa Inggris dengan native speaker dalam berbagai konteks dan lingkungannya.
Bukan hanya itu, dengan status mereka yang saat itu masih sebagai siswa SMA, mereka bisa menikmati suasana belajar di kampus atau perguruan tinggi luar negeri, sekelas Florida International University di Miami, Amerika Serikat. Semakin menarik dan penting adalah para peserta dilibatkan dalam berbagai acara yang bersifat bertukar pikiran dan belajar tentang kepemimpinan dan pengembangan masyarakat (community development) di Florida International University, di Miami, Amerika Serikat, yang dikenal sebagai wilayah yang juga multikultural itu.
Sungguh ini adalah pengalaman internasional yang mahal dan berharga dari berbagai aspek atau dimensi. Pokoknya sangatlah beruntung mereka yang telah diberikan kesempatan emas ini. Pengalaman yang tak pernah dapat terulang. Mengapa demikian?
Jawabannya, tak dapat dimungkiri bahwa bagi penulis sendiri kegiatan ini sangat bermanfaat, sejalan dengan pengalaman penulis dalam melakukan kegiatan program pemberdayaan perempuan dan anak di CCDE. Sehingga kegiatan Pengembangan masyarakat ( Community Development), diskusi-diskusi mengenai resolusi konflik, memahami kehidupan orang-orang marginal seperti kaum disabilitas, isu lingkungan, isu Perempuan dan lain-lain sangat relevan.
Sejumlah kegiatan belajar bersama dengan berbagai komunitas di Miami, yang sangat sarat dengan hal-hal baru bagi peserta yang sedang dilatih kepemimpinan di dunia global, menjadi sebuah kekuatan. Betapa tidak, peserta dan pembimbing banyak melakukan pula aktivitas pertemuan dan diskusi dengan komunitas remaja, seperti African American Youth Group, melakukan aksi bersama dalam proyek penanaman pohon di pantai utara Miami. Juga belajar volunterisme dari para volunter di Habitat for Humanity yang sedang membangun rumah layak huni saat itu.
Bukan hanya itu, untuk membangun kesadaran dan pemahaman mengenai keberagaman dan pluralisme, para peserta belajar bersama HAYO ( Haitian Youth Group) serta dengan EnFamilia Youth of Centro Compesino.
Wah, rasanya masa satu bulan di Miami, tak cukup belajar sebanyak-banyaknya, karena banyak sekali hal yang bisa menjadi pembelajaran bagi para pendamping dan para peserta yang harusnya bisa dipetik. Sehingga, juga tidak cukup waktu untuk menceritakan kunjungan sebulan di Miami itu.
Bayangkan saja, banyak pengalaman menarik lain diperoleh, misalnya ketika ikut berpartisipasi dalam kemah musim panas di Youth Pride of Centro cempesino. Juga ketika mengunjungi Biscayne Nature Center Everglade National Park, Jubilee Community Development Corporation, Syamsuddin Islamic Center Mosque, dan Cammilus House yang merupakan shelter dan klinik buat para homeless.
Semakin kaya lagi, setelah berkunjung ke Kendall Soccer field, serta ke Jackson Memorial Hospital, rumah sakit untuk orang miskin. Dua tempat lain yang juga sangat menakjubkan adalah mendapat kesempatan masuk ke Federal Reserve Bank of Atlanta, di mana para peserta diperkenalkan dengan uang dolar dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Di bank ini kita menyaksikan tumpukan uang dolar yang menggunung, seperti bukit barisan. Tidak kurang pula pengalaman dari Florida Foster Care Review Board Offices.
Jadi sangat beruntung lah penulis dan 16 siswa serta pendamping lain yang meraih emas perjalanan dan pembelajaran dari negeri Paman Sam, pada tahun 2007 itu. Tidak ada lagi kata yang paling tepat untuk dikatakan, selain rasa syukur Alhamdulillah. Para pembaca ingin meraih golden ticket ke luar negeri?
Tentu selalu ada banyak jalan, oleh sebab itu tetaplah selalu aktif dan bangun jembatan dengan bekerja di tengah masyarakat, khususnya masyarakat yang terpinggirkan.
Berlanjut












