Artikel · Potret Online

Memandang dan Membaca Miami Dari Lantai 13 Riande Continental Hotel

Penulis  Tabrani Yunis
Juni 11, 2026
8 menit baca 59
DSC00400
Foto / IlustrasiMemandang dan Membaca Miami Dari Lantai 13 Riande Continental Hotel

Oleh Tabrani Yunis

Sore itu, setelah perjalanan panjang yang melelahkan,dan  usai melintasi langit dua benua, dan transit di tiga bandara internasional, Incheon Busan, Narita Jepang dan Detroit, dan tiba di bandara Miami, dan dijemput dan dibawa  ke  hotel Continental Hotel (Riande Continental Bayside Hotel) , 146 Biscayne Blvd, di sekitar Bayside Market place, Miami. Hotel yang dikenal sebagai Riande Continental Bayside hotel dan casino ini menjadi salah satu titik pandang utama ke Miami Bay dan Bayside Marketplace, sangat cocok bagi para pendatang untuk meneropong serta menikmati panorama laut dan pusat hiburan kota. Karena lokasinya tepat di tepi laut, dekat port of Miami. Sehingga bisa pula menikmati suasan ramainya  orang atau pengunjung yang menyaksikan konser music, bar dan juga restoran. 

Penulis mendapat kamar untuk sendiri di lantai 13. Cukup tinggi dan menarik. Dari lantai 13 itu penulis mulai meneropong ke segala arah. Teropongan itu diikuti oleh kegiatan membaca Miami. Yang diawali dengan membaca suasana di sekitar hotel dekat pantai itu. Sejauh mata memandang, segala apa yang dilihat dan dirasa disimpan dalam memori di kepala dan juga catatan perjalanan. Sebab, sangatlah rugi ketika kita berpergian tidak mencatat paling kurang hal-hal yang menarik dan tak terlupakan, walaupun saat kita berpergian tidak tidak sempat menulis sebuah artikel atau esai atau cerita perjalanan yang bis akita bagikan di media cetak,maupun media online atau lewat blog yang kita punya. Simpan saja, karena suatu saat kitab isa membuka Kembali lembaran catatan itu. Ya, seperti tulisan ini.

Berada di lantai 13 Riande Continental hotel, penulis bisa merasakan sensasi tersendiri. Ya, penulis mulai membaca situasi dan suasana Miami dari ketinggian. Posisi kamar yang tinggi memungkinkan penulis bisa meneropong lebih jauh. Memandang wajah kota Miami dengan berbagai persepsi dan kemampuan memandang dan memahi. Sebagai pendatang yang datang dari negara yang sedang berkembang dan menyaksikan Pembangunan dan kemajuan negara maju, maka banyak rekaman amatan yang berusaha membanding-bandingkan kemajuan di negeri maju dengan negeri yang sedang berkembang. 

Ya, menatap Miami dari jendela hotel Continental itu memberikan kesan atau impresi sendiri. Rasa takjub pertama kali adalah kala memandang Miami yang menyuguhkan begitu banyak downtown skyline, gedung-gedung tinggi menjulang yang mendominasi saat itu. Rasa kagum juga mencuat tatkala mata tertuju pada panorama Marina yang begitu hidup karena  sering adanya konser terbuka, disibukan dengan kapal-kapal wisata dan skyline yang saat itu sedang berkembang. Betapa hebatnya perkembangan negara maju saat itu, yang membuat kita merasa takjub dan berujar dengan kata wow, kala melihat  wajah Miami yang penuh dengan energi tropis dan budaya hiburan itu.

Nah, berada di Miami pada bulan Juni, memberikan pengetahuan baru bahwa pada bulan Juni 2007 itu, kondisi cuaca di Miami berada pada kondisi cuaca musim panas. Saat itu suhu rata-rata tinggi sekitar 31- 34 derajat celcius yang juga diikuti dengan hujan musiman khas Florida. Kala musim panas itu, ketika mata hari puncak kepala, kita merasakan betapa panasnya. Namun, kadang ada hal yang aneh,  di musim panas ini juga penuh dengan hujan deras singkat yang  diikuti oleh  badai petir di sore hari. Jadi jangan kaget ketika sedang berada di lantai hotel yang tinggi kilatan petir seakan menyambar hotel dan gemuruh gelegar guntur, seakan mengguncang dada dan membuat hati terasa menggelegar dan cemas. Namun, itu adalah hal yang biasa bagi masyarakat kota Miami ini. Tentu berbeda dengan  penulis yang kala itu belum mengenal jauh kondisi Miami, dan apalagi  menempati kamar di lantai 34. Terasa cemas  juga kalau disambar petir.

Apa yang menarik untuk kita ketahui tentang Miami yang kaya dengan pantai yang indah dan eksotik. Ya, Miami dikenal dengan potensi pantai dan arsitekturnya yang sudah maju. Tentu tidak banyak dan tidak mungkin semua mampu direkam dalam memori penulis yang masih terbatas dan sangat sedikit informasi yang baru terserap dan dikumpulkan.

Yang jelas, kala itu penulis menyaksikan wajah kota Miami dengan pengetahuan yang masih minim dan terbatas, maka  dari ketinggian di lantai 13 itu ada beberapa catatan yang kala itu terdokumentasi. Selama satu bulan berada di Continental Hotel ini, penulis  sempat menikmati keindahan pemandangan kota Miami dan juga sempat mengarahkan pandangan ke  Miami Bay yang letaknya di bagian depan Continental  hotel. Kota nan indah  tertata rapi dan tertib, karena dibangun dengan teknologi dan peradaban modern dan tentu karena ini adalah negara maju yang kita kenal negara adi kuasa.

Jendela hotel di lantai 13 membantu penulis mengenal Miami dan kotanya, serta Pantai di sekitarnya. Lantai 13 ini pula  menjadi saksi kehadiran penulis, para pembimbing  dan 16 siswa yang berasal dari Indonesia. Sangat beralasan, karena di hotel ini, selama sebulan lamanya kami  menginap. Sebuah hotel yang menjulang tinggi,  berada di Miami Bay. Bisa bayangkan berapa biaya hotel untuk satu malam di Miami, bukan? Apalagi ini selama satu bulan. Maka, bagi penulis,dari  lantai 13 itu penulis mencatat banyak hal, mengamati segala fenomena kehidupan masyarakat Miami  sertta segala dinamika kehidupan, di Tengah riuh rendahnya suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, depan hotel tersebut.

Sekali lagi bahwa, berada di lantai 13 hotel Continental yang terletak di sekitar Bayside, Downtown Miami, tampaknya  memang selalu memukau. Sebab,  ada satu kecil kecil yang menarik  Hotel Continental Bayside (yang dulu juga dikenal sebagai Riande Continental Bayside di 146 Biscayne Blvd) kitab isa menikmati banyak hal, karena  sedang berdiri di sebuah lantai tinggi yang menghadap langsung ke arah Bayside Marketplace dan Teluk Biscayne. Mata penulis  terasa dimanjakan oleh indahnya pemadangan  Bayside, Kita bisa menikmati lanskap yang ikonik seperti lanskap teluk dan kesibukan kapal pesiar (Port of Miami). Di sini boleh dikatana. Sebagai dunia Kapal Pesiar (Cruise Capital).  Bukan bhanya itu, dari jendela lantai 13 penulis juga bisa   melihat jembatan Port Boulevard yang menghubungkan daratan dengan Dodge Island (Pelabuhan Miami). Kemudian, di tempat ini di akhir pekan di bulan Juni 2007 itu juga bisa mengamati kapal-kapal pesiar raksasa milik Carnival, Royal Caribbean, atau Norwegian Cruise Line yang sedang bersandar atau mulai bergerak keluar menuju Karibia saat matahari terbenam.

Ya, Bayside Marketplace & Marina yang terlihat dari hotel itu merupkan kompleks perbelanjaan terbuka Bayside Marketplace yang beratap kubah merah dipenuhi turis. Dio situ juga penulis sempat  melihat perahu-perahu wisata (seperti kapal bajak laut El Loro atau Island Queen) yang keluar-masuk marina untuk mengantar turis tur melihat rumah-rumah selebriti di Star Island.

Pemandangan  dan tempat yang menarik untuk kita kunjung dan memang  tidak kalah menarik adalah landmark Iconic Miami kala itu. Di sana ada American Airlines Arena, konon kini berubah menjadi  Kaseya Center), yang letaknya sedikit ke arah utara di sepanjang Biscayne Boulevard. Dan konon pada Juni 2007 adalah momen yang sedikit sepi di arena ini karena sang juara bertahan NBA, Miami Heat (yang dipimpin Dwyane Wade dan Shaquille O’Neal), baru saja tersingkir di babak pertama playoff dua bulan sebelumnya. Sehingga tidak ada pawai kemenangan seperti Juni 2006.

Pemandangan yang paling dekat ditatap mata dari lantai 13 hotel itu dengan melihat ke bawah, kita langsung bisa melihat dan bahkan turun untuk melihat Freedom Tower, sebuah  bangunan bersejarah bergaya Mediterranean Revival dengan menara tingginya yang kuning ikonik berdiri megah di seberang jalan, kontras dengan gedung-gedung kaca modern di sekitarnya. Lalu satu lagi, penulis dan kawan-kawan juga berjalan ke sebelah utara hotel, melihat  Bicentennial Park (Kini Maurice A. Ferré Park ) di mana kita  masih melihat lahan hijau terbuka yang luas. Apalagi pada tahun 2007, taman ini belum dibangun menjadi Perez Art Museum (PAMM) atau Frost Science Museum seperti sekarang—area ini masih sering menjadi tempat festival outdoor dan konser. Di sini pula penulis dan peserta program YLIP menyaksikan acara konser di malam ulang tahun kemerdekaan Amerika yang diwarnai dengan acara kembang api yang sangat meriah dan gelegar konser yang begitu menggairahkan kala itu. Itulah sekelumit hasil amatan dan tatapan di tahun 2007 dari hotel Continental, Bayside, Miami, United State of  America (USA).

Selama sebulan berada di hotel ini, tentu masih banyak cerita yang tercipta dan dirasakan. Andai menggunakan uang sendiri, entah berapa tahun lamanya bisa mengantarkan penulis ke bumi Paman Sam ini,  bisa jadi tidak mungkin bisa sampai, apalagi masa kegiatan berlangsung hingga satu bulan. Bukan hanya mahal di ongkos pesawat, tetapi juga hotel dan konsumsi selama sebulan di Miami, serta kunjungan ke banyak tempat menarik hingga ke Orlando. Oleh sebab itu, tak ada kata yang paling tinggi nilainya selian mengucapkan alhamdulilah.

Ya, Alhamduliah, sebagai orang yang dilahirkan di sebuah kampung kecil di kecamatan Manggeng, yang jauh dari kota Banda Aceh, penulis telah diberikan Rahmat oleh Allah untuk bisa menikmati denyut dan kedigantaraan kota dengan infrastruktur yang begitu bagus di tahun 2007 itu, Ini adalah pengamalan dan pengamatan yang tak terlupakan dan sangat mahal. Sehingga  pengalaman ini dirasa lmemang layak untuk dibagikan kepada pembaca, sebagai bagian dari semangat berbagi dan membangun kebiasaan menulis cerita perjalanan. Ini adalah pengalaman pertama dan terakhir berkunjung dan belajar di Bumi Florida, Amerika Serikat.

Nantikan lanjutan ceritanya

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...