Memandang dan Membaca Miami Dari Lantai 13 Riande Continental Hotel

Oleh Tabrani Yunis
Sore itu, setelah perjalanan panjang yang melelahkan,dan usai melintasi langit dua benua, dan transit di tiga bandara internasional, Incheon Busan, Narita Jepang dan Detroit, dan tiba di bandara Miami, dan dijemput dan dibawa ke hotel Continental Hotel (Riande Continental Bayside Hotel) , 146 Biscayne Blvd, di sekitar Bayside Market place, Miami. Hotel yang dikenal sebagai Riande Continental Bayside hotel dan casino ini menjadi salah satu titik pandang utama ke Miami Bay dan Bayside Marketplace, sangat cocok bagi para pendatang untuk meneropong serta menikmati panorama laut dan pusat hiburan kota. Karena lokasinya tepat di tepi laut, dekat port of Miami. Sehingga bisa pula menikmati suasan ramainya orang atau pengunjung yang menyaksikan konser music, bar dan juga restoran.
Penulis mendapat kamar untuk sendiri di lantai 13. Cukup tinggi dan menarik. Dari lantai 13 itu penulis mulai meneropong ke segala arah. Teropongan itu diikuti oleh kegiatan membaca Miami. Yang diawali dengan membaca suasana di sekitar hotel dekat pantai itu. Sejauh mata memandang, segala apa yang dilihat dan dirasa disimpan dalam memori di kepala dan juga catatan perjalanan. Sebab, sangatlah rugi ketika kita berpergian tidak mencatat paling kurang hal-hal yang menarik dan tak terlupakan, walaupun saat kita berpergian tidak tidak sempat menulis sebuah artikel atau esai atau cerita perjalanan yang bis akita bagikan di media cetak,maupun media online atau lewat blog yang kita punya. Simpan saja, karena suatu saat kitab isa membuka Kembali lembaran catatan itu. Ya, seperti tulisan ini.
Berada di lantai 13 Riande Continental hotel, penulis bisa merasakan sensasi tersendiri. Ya, penulis mulai membaca situasi dan suasana Miami dari ketinggian. Posisi kamar yang tinggi memungkinkan penulis bisa meneropong lebih jauh. Memandang wajah kota Miami dengan berbagai persepsi dan kemampuan memandang dan memahi. Sebagai pendatang yang datang dari negara yang sedang berkembang dan menyaksikan Pembangunan dan kemajuan negara maju, maka banyak rekaman amatan yang berusaha membanding-bandingkan kemajuan di negeri maju dengan negeri yang sedang berkembang.
Ya, menatap Miami dari jendela hotel Continental itu memberikan kesan atau impresi sendiri. Rasa takjub pertama kali adalah kala memandang Miami yang menyuguhkan begitu banyak downtown skyline, gedung-gedung tinggi menjulang yang mendominasi saat itu. Rasa kagum juga mencuat tatkala mata tertuju pada panorama Marina yang begitu hidup karena sering adanya konser terbuka, disibukan dengan kapal-kapal wisata dan skyline yang saat itu sedang berkembang. Betapa hebatnya perkembangan negara maju saat itu, yang membuat kita merasa takjub dan berujar dengan kata wow, kala melihat wajah Miami yang penuh dengan energi tropis dan budaya hiburan itu.
Nah, berada di Miami pada bulan Juni, memberikan pengetahuan baru bahwa pada bulan Juni 2007 itu, kondisi cuaca di Miami berada pada kondisi cuaca musim panas. Saat itu suhu rata-rata tinggi sekitar 31- 34 derajat celcius yang juga diikuti dengan hujan musiman khas Florida. Kala musim panas itu, ketika mata hari puncak kepala, kita merasakan betapa panasnya. Namun, kadang ada hal yang aneh, di musim panas ini juga penuh dengan hujan deras singkat yang diikuti oleh badai petir di sore hari. Jadi jangan kaget ketika sedang berada di lantai hotel yang tinggi kilatan petir seakan menyambar hotel dan gemuruh gelegar guntur, seakan mengguncang dada dan membuat hati terasa menggelegar dan cemas. Namun, itu adalah hal yang biasa bagi masyarakat kota Miami ini. Tentu berbeda dengan penulis yang kala itu belum mengenal jauh kondisi Miami, dan apalagi menempati kamar di lantai 34. Terasa cemas juga kalau disambar petir.
Apa yang menarik untuk kita ketahui tentang Miami yang kaya dengan pantai yang indah dan eksotik. Ya, Miami dikenal dengan potensi pantai dan arsitekturnya yang sudah maju. Tentu tidak banyak dan tidak mungkin semua mampu direkam dalam memori penulis yang masih terbatas dan sangat sedikit informasi yang baru terserap dan dikumpulkan.
Yang jelas, kala itu penulis menyaksikan wajah kota Miami dengan pengetahuan yang masih minim dan terbatas, maka dari ketinggian di lantai 13 itu ada beberapa catatan yang kala itu terdokumentasi. Selama satu bulan berada di Continental Hotel ini, penulis sempat menikmati keindahan pemandangan kota Miami dan juga sempat mengarahkan pandangan ke Miami Bay yang letaknya di bagian depan Continental hotel. Kota nan indah tertata rapi dan tertib, karena dibangun dengan teknologi dan peradaban modern dan tentu karena ini adalah negara maju yang kita kenal negara adi kuasa.
Jendela hotel di lantai 13 membantu penulis mengenal Miami dan kotanya, serta Pantai di sekitarnya. Lantai 13 ini pula menjadi saksi kehadiran penulis, para pembimbing dan 16 siswa yang berasal dari Indonesia. Sangat beralasan, karena di hotel ini, selama sebulan lamanya kami menginap. Sebuah hotel yang menjulang tinggi, berada di Miami Bay. Bisa bayangkan berapa biaya hotel untuk satu malam di Miami, bukan? Apalagi ini selama satu bulan. Maka, bagi penulis,dari lantai 13 itu penulis mencatat banyak hal, mengamati segala fenomena kehidupan masyarakat Miami sertta segala dinamika kehidupan, di Tengah riuh rendahnya suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, depan hotel tersebut.
Sekali lagi bahwa, berada di lantai 13 hotel Continental yang terletak di sekitar Bayside, Downtown Miami, tampaknya memang selalu memukau. Sebab, ada satu kecil kecil yang menarik Hotel Continental Bayside (yang dulu juga dikenal sebagai Riande Continental Bayside di 146 Biscayne Blvd) kitab isa menikmati banyak hal, karena sedang berdiri di sebuah lantai tinggi yang menghadap langsung ke arah Bayside Marketplace dan Teluk Biscayne. Mata penulis terasa dimanjakan oleh indahnya pemadangan Bayside, Kita bisa menikmati lanskap yang ikonik seperti lanskap teluk dan kesibukan kapal pesiar (Port of Miami). Di sini boleh dikatana. Sebagai dunia Kapal Pesiar (Cruise Capital). Bukan bhanya itu, dari jendela lantai 13 penulis juga bisa melihat jembatan Port Boulevard yang menghubungkan daratan dengan Dodge Island (Pelabuhan Miami). Kemudian, di tempat ini di akhir pekan di bulan Juni 2007 itu juga bisa mengamati kapal-kapal pesiar raksasa milik Carnival, Royal Caribbean, atau Norwegian Cruise Line yang sedang bersandar atau mulai bergerak keluar menuju Karibia saat matahari terbenam.
Ya, Bayside Marketplace & Marina yang terlihat dari hotel itu merupkan kompleks perbelanjaan terbuka Bayside Marketplace yang beratap kubah merah dipenuhi turis. Dio situ juga penulis sempat melihat perahu-perahu wisata (seperti kapal bajak laut El Loro atau Island Queen) yang keluar-masuk marina untuk mengantar turis tur melihat rumah-rumah selebriti di Star Island.
Pemandangan dan tempat yang menarik untuk kita kunjung dan memang tidak kalah menarik adalah landmark Iconic Miami kala itu. Di sana ada American Airlines Arena, konon kini berubah menjadi Kaseya Center), yang letaknya sedikit ke arah utara di sepanjang Biscayne Boulevard. Dan konon pada Juni 2007 adalah momen yang sedikit sepi di arena ini karena sang juara bertahan NBA, Miami Heat (yang dipimpin Dwyane Wade dan Shaquille O’Neal), baru saja tersingkir di babak pertama playoff dua bulan sebelumnya. Sehingga tidak ada pawai kemenangan seperti Juni 2006.
Pemandangan yang paling dekat ditatap mata dari lantai 13 hotel itu dengan melihat ke bawah, kita langsung bisa melihat dan bahkan turun untuk melihat Freedom Tower, sebuah bangunan bersejarah bergaya Mediterranean Revival dengan menara tingginya yang kuning ikonik berdiri megah di seberang jalan, kontras dengan gedung-gedung kaca modern di sekitarnya. Lalu satu lagi, penulis dan kawan-kawan juga berjalan ke sebelah utara hotel, melihat Bicentennial Park (Kini Maurice A. Ferré Park ) di mana kita masih melihat lahan hijau terbuka yang luas. Apalagi pada tahun 2007, taman ini belum dibangun menjadi Perez Art Museum (PAMM) atau Frost Science Museum seperti sekarang—area ini masih sering menjadi tempat festival outdoor dan konser. Di sini pula penulis dan peserta program YLIP menyaksikan acara konser di malam ulang tahun kemerdekaan Amerika yang diwarnai dengan acara kembang api yang sangat meriah dan gelegar konser yang begitu menggairahkan kala itu. Itulah sekelumit hasil amatan dan tatapan di tahun 2007 dari hotel Continental, Bayside, Miami, United State of America (USA).
Selama sebulan berada di hotel ini, tentu masih banyak cerita yang tercipta dan dirasakan. Andai menggunakan uang sendiri, entah berapa tahun lamanya bisa mengantarkan penulis ke bumi Paman Sam ini, bisa jadi tidak mungkin bisa sampai, apalagi masa kegiatan berlangsung hingga satu bulan. Bukan hanya mahal di ongkos pesawat, tetapi juga hotel dan konsumsi selama sebulan di Miami, serta kunjungan ke banyak tempat menarik hingga ke Orlando. Oleh sebab itu, tak ada kata yang paling tinggi nilainya selian mengucapkan alhamdulilah.
Ya, Alhamduliah, sebagai orang yang dilahirkan di sebuah kampung kecil di kecamatan Manggeng, yang jauh dari kota Banda Aceh, penulis telah diberikan Rahmat oleh Allah untuk bisa menikmati denyut dan kedigantaraan kota dengan infrastruktur yang begitu bagus di tahun 2007 itu, Ini adalah pengamalan dan pengamatan yang tak terlupakan dan sangat mahal. Sehingga pengalaman ini dirasa lmemang layak untuk dibagikan kepada pembaca, sebagai bagian dari semangat berbagi dan membangun kebiasaan menulis cerita perjalanan. Ini adalah pengalaman pertama dan terakhir berkunjung dan belajar di Bumi Florida, Amerika Serikat.
Nantikan lanjutan ceritanya












