Artikel · Potret Online

Menyingkap Wajah Manusia di Balik Kemuliaannya 

Penulis Suko Wahyudi
Juni 6, 2026
5 menit baca 18
d2371aa0-62e8-4f4b-b6f9-fe3cd3fdb22c
Foto / IlustrasiMenyingkap Wajah Manusia di Balik Kemuliaannya 
Disunting Oleh

Oleh: Suko Wahyudi*

Manusia sering dipuji sebagai puncak penciptaan. Ia diberi akal, bahasa, kesadaran, dan kemampuan membangun dunia simbolik yang tidak dimiliki makhluk lain. Dari kemampuan itulah lahir negara, hukum, ilmu pengetahuan, dan berbagai bangunan kebudayaan yang kemudian disebut sebagai peradaban.

Namun di balik seluruh kemegahan itu, tersimpan sebuah pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab: apakah peradaban telah mengubah hakikat manusia, ataukah ia hanya menjadi pakaian yang menutupi wajah aslinya?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kehidupan modern justru memperlihatkan paradoks yang semakin nyata. Semakin tinggi tingkat pendidikan manusia, tidak otomatis semakin tinggi pula kebijaksanaannya. Semakin maju teknologi, tidak selalu semakin kuat rasa kemanusiaannya.

Di tengah berbagai kemajuan yang dibanggakan, manusia tetap menghadirkan perang, penindasan, korupsi, eksploitasi, dan berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama kebenaran, agama, bangsa, bahkan atas nama kemanusiaan itu sendiri.

Dalam konteks demikian, peradaban dapat dibaca sebagai sebuah selimut yang membungkus tubuh manusia. Selimut itu diperlukan agar kehidupan bersama dapat berlangsung dengan tertib.

Melalui hukum, norma, adat, dan etika, manusia belajar mengendalikan dorongan-dorongan naluriah yang hidup dalam dirinya. Akan tetapi, sebagaimana selimut yang hanya menutupi tubuh tanpa mengubah bentuk tubuh itu sendiri, peradaban sering kali hanya menutupi kecenderungan dasar manusia tanpa benar-benar menghilangkannya.

Karena itu tidak mengherankan apabila dalam situasi tertentu manusia yang tampak santun dapat berubah menjadi kasar, manusia yang tampak religius dapat menjadi kejam, dan manusia yang berbicara tentang keadilan dapat menjadi pelaku ketidakadilan.

Peradaban ternyata tidak selalu berhasil menghapus sisi gelap manusia. Ia lebih sering berfungsi sebagai mekanisme pengendalian daripada transformasi yang tuntas.

Di sinilah kita menemukan salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan manusia. Ia adalah makhluk yang paling sering berbicara tentang moralitas, tetapi juga makhluk yang paling sering melanggarnya. Ia membangun berbagai teori tentang kemanusiaan, tetapi pada saat yang sama tidak jarang mengabaikan penderitaan sesamanya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia sering kali hidup dalam jarak antara apa yang diucapkan dan apa yang dijalankan.

Jarak itulah yang melahirkan apa yang disebut sebagai kemunafikan sosial. Kemunafikan bukan sekadar persoalan moral individual, melainkan bagian dari struktur kehidupan bersama. Banyak orang terpaksa memainkan peran-peran tertentu demi memperoleh pengakuan sosial. Mereka mengenakan pakaian kesalehan, kebangsaan, intelektualitas, atau moralitas agar diterima dalam lingkungan sosialnya. Akibatnya, kehidupan publik sering kali lebih dipenuhi pertunjukan citra daripada kejujuran eksistensial.

Dalam keadaan demikian, harga diri menjadi kebutuhan yang hampir tidak pernah selesai dipenuhi. Manusia tidak sekadar ingin hidup, tetapi juga ingin dihormati. Ia ingin dianggap penting, berharga, dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Keinginan tersebut sesungguhnya wajar. Namun persoalan muncul ketika penghormatan terhadap diri sendiri dibangun melalui perendahan terhadap orang lain.

Dari titik inilah berbagai stigma sosial memperoleh ruang hidupnya. Kelompok tertentu dianggap lebih mulia, sementara kelompok lain diposisikan sebagai warga kelas dua. Orang miskin dipandang gagal, mereka yang berbeda dianggap ancaman, dan yang tidak sesuai dengan standar dominan sering kali ditempatkan di pinggir kehidupan sosial. Dengan cara seperti itu, sebagian manusia memperoleh kepuasan psikologis karena merasa lebih tinggi dibandingkan sesamanya.

Ironisnya, proses tersebut sering berlangsung atas nama peradaban. Bahasa yang digunakan terdengar sopan dan rasional, tetapi substansinya tetap sama: menciptakan batas antara “kami” dan “mereka”. Padahal dalam banyak hal, batas-batas itu merupakan hasil konstruksi sosial yang diciptakan manusia sendiri. Kategori tentang siapa yang dianggap mulia dan siapa yang dianggap rendah tidak lahir dari langit. Ia lahir dari sejarah, kekuasaan, dan kepentingan yang bekerja dalam masyarakat.

Karena itu, hitam dan putih kehidupan sesungguhnya lebih banyak merupakan produk tafsir manusia daripada kenyataan yang sepenuhnya objektif. Manusia menciptakan ukuran-ukuran tertentu, lalu memperlakukannya seolah-olah sebagai kebenaran yang mutlak. Ketika ukuran itu diterima secara luas, ia berubah menjadi norma yang mengatur kehidupan sosial. Padahal norma tersebut sering kali mencerminkan kepentingan kelompok tertentu yang berhasil mendominasi ruang publik.

Dalam perspektif ini, peradaban bukan hanya ruang kemajuan, tetapi juga ruang perebutan makna. Di dalamnya berlangsung pertarungan antara berbagai tafsir tentang kebaikan, keadilan, dan kemuliaan manusia. Mereka yang memiliki kekuasaan lebih besar biasanya memiliki kemampuan lebih besar pula untuk menentukan standar tentang apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah.

Namun demikian, akan terlalu sederhana jika manusia hanya dipahami sebagai makhluk munafik atau makhluk yang sepenuhnya dikuasai naluri kebinatangan. Sebab di dalam diri manusia juga hidup kemampuan untuk mengkritik dirinya sendiri. Ia dapat merasa malu, menyesal, dan mempertanyakan tindakannya. Kemampuan reflektif inilah yang memungkinkan manusia terus memperbaiki kehidupannya.

Peradaban karena itu tidak seharusnya dipahami sebagai bukti kesempurnaan manusia. Peradaban justru lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar sempurna. Hukum dibentuk karena manusia memiliki kecenderungan melanggar. Pendidikan diselenggarakan karena manusia membutuhkan proses pembelajaran. Agama dihadirkan karena manusia sering kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya.

Dengan demikian, peradaban sesungguhnya merupakan pengakuan kolektif atas keterbatasan manusia. Ia bukan monumen kemenangan, melainkan catatan panjang tentang perjuangan manusia melawan dirinya sendiri. Di satu sisi terdapat dorongan untuk menguasai dan mendominasi. Di sisi lain terdapat kerinduan untuk hidup dalam keadilan dan kemanusiaan. Seluruh sejarah manusia dapat dibaca sebagai dialektika antara dua kecenderungan tersebut.

Karena itu, tugas terbesar manusia bukanlah mempertahankan citra dirinya sebagai makhluk yang paling mulia. Tugas yang jauh lebih penting adalah menjaga kejujuran untuk mengakui sisi gelap yang hidup dalam dirinya. Sebab hanya melalui pengakuan itulah peradaban dapat memperoleh makna yang sejati. Peradaban bukanlah pakaian yang membuat manusia tampak baik, melainkan kesediaan untuk terus menerus memperbaiki dirinya agar menjadi lebih manusiawi.

Pada akhirnya, manusia memang mungkin masih menyimpan naluri yang diwariskan oleh sejarah biologisnya. Akan tetapi, manusia juga memiliki kemampuan untuk melampaui naluri tersebut melalui kesadaran, refleksi, dan tanggung jawab moral. Di antara kebinatangan dan kemanusiaan itulah manusia menjalani seluruh perjalanan hidupnya. Dan mungkin, justru di dalam pergulatan yang tidak pernah selesai itu, makna terdalam dari peradaban menemukan rumahnya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Suko Wahyudi
*Pegiat literasi, penulis artikel sosial, pendidikan, demokrasi, dan pemikiran kebangsaan. Aktif menulis esai yang mengaitkan nilai-nilai Pancasila, Agama, pendidikan, dan problem sosial kontemporer. Tinggal di Kota Yogyakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...