Kumur-Kumur Pagi Hari

Oleh: Novita Sari Yahya
Kumur-kumur pagi hari
Pidatomu berapi-api
Seolah seluruh persoalan negeri selesai
Hanya dengan retorika dan janji
Orasimu menembus dinding kekuasaan
Seakan dirimu pahlawan reformasi
Namun utang terus bertambah
Dan rupiah terus terbanting
Inlander gemar berpolitik
Demikian Rosihan Anwar pernah menulis
Hipokrisi tumbuh dalam tekanan
Sebagaimana Mochtar Lubis mengkritik
Sutan Sjahrir menginginkan rakyat terdidik
Agar tidak mudah menjadi amuk massa
Tan Malaka mengingatkan bahaya dogma
Dan takhayul yang membelenggu nalar bangsa
Jadilah Indonesier yang terhormat
Demikian seruan Jahja Datoek Kajo dahulu
Jadilah Indonesia yang Trisakti
Demikian Bung Karno berseru lantang
Namun perut lapar lebih nyaring daripada pidato
Empat bungkus mi instan dan sekilo gula
Sekaleng sarden dan amplop seratus ribu
Sering kali cukup membeli hormat dan suara
Aku tidak terluka oleh retorika
Yang selesai dengan kumur dan ludah kekuasaan
Aku memilih pembuktian daripada pidato
Agar rakyat berdiri tegak dengan akal dan kehormatan
Bogor, 31 Mei 2026












