Dekan Bukan Sekadar Administrator, Tetapi Arsitek Peradaban Aceh

Merespons Gagasan Prof. Apridar tentang Profesionalisme Calon Dekan USK
Oleh : Teuku Muhammad Jamil** *
Gagasan Prof. Apridar melalui tulisan *”Calon Dekan USK Ke depan Harus Profesional”* (Harian Rakyat Aceh, 31 Mei 2026) patut diapresiasi sebagai pemantik diskusi. Profesionalisme memang syarat mutlak di era kompetisi global.
Namun, kita harus jujur dan berani melihat realitas yang lebih dalam: **profesional dan ahli saja jauh dari kata cukup.** Memimpin sebuah lembaga pendidikan tinggi tanpa integritas dan rasa keadilan yang kokoh hanya akan melahirkan “teknokrat tak berjiwa”.
Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan hari ini adalah: *profesionalisme semacam apa yang sebetulnya dibutuhkan USK saat ini?*
Jika profesionalisme hanya dikebiri dalam makna administratif—seperti kepatuhan buta pada birokrasi—maka itu jelas gagal menjawab krisis multidimensi yang sedang dihadapi Aceh dan USK.
Universitas Syiah Kuala hari ini tidak sedang dalam kondisi “baik-baik saja” yang bisa dikelola dengan rutinitas biasa. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), USK berada di persimpangan sejarah. USK dituntut menjadi motor perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan peradaban Aceh.
Maka, USK sama sekali tidak butuh dekan yang sekadar jago mengelola surat-menyurat, mahir menyusun anggaran formalitas, atau sibuk dari satu rapat seremonial ke rapat lainnya.
USK butuh dekan yang mampu membaca perubahan dunia, menyelaraskan langkah dengan kebijakan Rektor baru, sekaligus merespons denyut nadi kebutuhan masyarakat Aceh.
Sudah saatnya kita menguburkan gaya kepemimpinan sektoral, picik, “kampungan”, dan hanya mementingkan klik atau kelompoknya sendiri. Jika budaya primitif ini terus dipelihara, sebutan USK sebagai *Kampus Jantoeng Hatee Rakyat Aceh* hanya akan menjadi slogan usang tanpa makna.
*Lima Karakter Krusial Dekan USK Masa Depan*
Pemilihan dekan—yang secara administratif akan berakhir pada 13 Juli 2026—bukanlah ritual lima tahunan bagi-bagi kursi kekuasaan struktural. Dekan adalah posisi strategis yang menentukan hidup-matinya kualitas akademik fakultas. Dana alokasi fakultas tidak boleh lagi mengalir berdasarkan kedekatan personal, melainkan wajib tepat sasaran demi kemajuan ilmiah.
Oleh karena itu, ada lima karakter utama yang wajib dimiliki oleh dekan USK ke depan:
*Eksekutor Visi Rektor, Bukan Pembuat Sekat Sektoral*
Terpilihnya Prof. Dr. Mirza Tabrani, SE, MBA membawa angin segar bagi transformasi USK yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing global. Namun, visi besar Rektor akan mati di tengah jalan jika diredam oleh ego sektoral para dekan di tingkat fakultas.
Jika Rektor berteriak tentang internasionalisasi, dekan jangan sibuk bermain di zona nyaman lokal; mereka harus mampu menghadirkan kolaborasi global nyata.
Jika Rektor menuntut hilirisasi riset, dekan harus meruntuhkan dinding pembatas dan membangun ekosistem inovasi yang aplikatif.
Jika Rektor mengomandoi transformasi digital, dekan wajib memotong birokrasi berbelit dan memodernisasi budaya kerja fakultas.
Visioner Berani, Bukan Budak Rutinitas
Penyakit kronis akut di banyak perguruan tinggi Indonesia adalah lahirnya para pemimpin yang tenggelam dalam rutinitas birokrasi, namun miskin gagasan besar. Mereka gagap menghadapi disrupsi.
Saat *Artificial Intelligence*, digitalisasi, dan revolusi industri berbasis data mengubah lanskap global. Fakultas tidak boleh dikelola dengan pola pikir dua dekade lalu.
Jika ini terus dibiarkan, **kita sedang mencetak lulusan yang didesain untuk menjadi pengangguran intelektual dan penonton di negeri sendiri.** USK butuh dekan yang progresif, futuristik, dan berani mendobrak status quo.
*Pemecah Masalah Aceh, Bukan Penghuni Menara Gading*
Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang angkuh dan terasing dari jeritan realitas sosial. Aceh hari ini masih didera kemiskinan yang tinggi, kualitas pendidikan yang tertinggal, kelangkaan lapangan kerja, serta ketergantungan kronis pada dana pemerintah.
Fakultas-fakultas di USK harus menjadi laboratorium solusi. **Riset dengan anggaran besar tidak boleh hanya berakhir sebagai pajangan berdebu di jurnal ilmiah atau pemuas syahwat politik sesaat.** Pengabdian masyarakat bukan sekadar laporan SPJ administratif. Kehadiran fakultas harus berdampak langsung pada isi piring dan kesejahteraan rakyat Aceh.
*Berintegritas Tinggi dan Bersih dari Penyakit “Nepotisme Kelompok*
Profesionalisme tanpa integritas hanya melahirkan birokrat kampus yang pintar secara teknis, tetapi miskin keteladanan moral. **Kampus sama sekali bukan arena transaksi kekuasaan atau panggung balas jasa politik.** Praktik pengelompokan berdasarkan “kedekatan personal” atau klik tertentu harus dihentikan.
Dekan adalah pemimpin akademik yang berdiri di atas semua golongan, bukan kaki tangan atau representasi kelompok elit tertentu. USK butuh figur yang disegani karena kapasitas ilmiah dan integritas moralnya, bukan karena kelihaiannya membangun jaringan politik praktis.
*Penggerak Estafet Kepemimpinan, Bukan “Penguasa Abadi”*
Salah satu dosa besar dalam manajemen institusi saat ini adalah macetnya regenerasi. Terlalu banyak posisi yang hanya berputar pada lingkaran nama yang itu-itu saja, seolah-olah kampus ini kehabisan kader berkualitas. Jangan sampai kita terjebak pada pemikiran sesat: *”Tiap masa ada orangnya, dan tiap orang bermasa-masa”* untuk melegitimasi keserakahan jabatan.
Budaya feodal seperti itu harus dipangkas. Dekan masa depan adalah mereka yang berjiwa besar membuka ruang bagi dosen muda, peneliti muda, dan talenta baru untuk tumbuh dan memimpin bersama. Kampus yang besar tidak dibangun oleh kediktatoran satu generasi, melainkan oleh estafet kepemimpinan yang sehat dan transparan.
*Jabatan Dekan Bukan Panggung Prestise*
Akhir kata, saya ingin menegaskan dengan benderang: **jabatan dekan bukanlah simbol kehormatan, bukan hadiah hiburan, dan bukan pula penghargaan akademik untuk gagah-gagahan.**
Dekan adalah amanah intelektual yang teramat berat. Di pundak seorangan dekankah nasib masa depan ribuan mahasiswa, ratusan dosen, dan potret peradaban Aceh dipertaruhkan.
Oleh karena itu, proses pemilihan dekan di lingkungan Universitas Syiah Kuala kali ini harus melahirkan figur yang tidak sekadar profesional di atas kertas. Kita butuh sosok yang visioner, berintegritas, senafas dengan visi Rektor, peka terhadap penderitaan Aceh, serta bernyali besar melakukan transformasi. Di sinilah kearifan Rektor diuji untuk memilih yang terbaik dari yang baik.
> **Sebab, USK hari ini tidak sedang mencari seorang administrator fakultas yang penakut. USK sedang mencari para arsitek masa depan peradaban Aceh!**
—
*) **












