Artikel · Potret Online

Amerika Serikat dan Bandar Kuala Batee dalam Catatan Sejarah dan Artefak Sejarah. Part 2 (Dampak Perang)

Penulis Assauti Wahid S. Hum., MA
Juni 1, 2026
6 menit baca 44
ff427891-4961-4c43-983e-8e30977df004
Foto / IlustrasiAmerika Serikat dan Bandar Kuala Batee dalam Catatan Sejarah dan Artefak Sejarah. Part 2 (Dampak Perang)
Disunting Oleh

Oleh: Assauti Wahid S. Hum., MA

Perang terbuka antara Amerika Serikat (didukung Israel) dan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026 membawa dampak kehancuran yang sangat masif. Efeknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara yang bertikai, melainkan menyebar cepat ke seluruh dunia melalui jalur pasokan energi dan logistik global. 

Tentu memiliki dampak yang sangat besar kedua belah pihak dan bahkan dunia internasional. Berawal dari di sini, Saya ingin melihat kepada masa lalu peristiwa penyerangan Amerika Serikat terhadap Bandar Kuala Batee. Bagaimana kah

dampak penyerangan atau perang bagi kedua pelah-pihak pada saat itu?

Berbagai referensi yang pernah penulis baca, sejak intervensi militer Amerika di Kuala Batee memberikan dampak yang berbeda di dua belah pihak atau di dua belahan dunia. Di Sumatra, Komodor Downes dan para pendukungnya yakin bahwa “pelajaran” telah berhasil diberikan. Menurut mereka, orang Aceh kini tidak lagi meragukan kekuatan Amerika dan menyadari bahwa kemenangan atas kapal Friendship hanyalah keberhasilan sementara. 

Keyakinan ini diperkuat oleh catatan sepanjang tahun 1832 yang menunjukkan tidak adanya laporan insiden baru, yang dianggap sebagai tanda ketakutan terhadap kemungkinan kembalinya fregat Amerika ke wilayah tersebut. Tapi ada pendapat lain, atau catatan sejarah lainnya. 

Sejarah ini memang menunjukkan betapa besarnya jurang pemisah antara persepsi perwira militer di lapangan dengan realitas politik yang sebenarnya terjadi, baik di Washington maupun di Sumatra sendiri. Serangan balasan yang dipimpin oleh Komodor John Downes menggunakan kapal USS Potomac pada Februari 1832 ke Kuala Batu (sekarang berada di wilayah Aceh Barat Daya), merupakan salah satu intervensi militer pertama Amerika Serikat di Asia Tenggara.

Jika kita membedah “dampak yang berbeda di dua belah pihak” baik itu Kuala Batee (Sumatra) dan pihak Amerikat Serikat. Menunjukkan ada atau menemukan dua persepsi yang berbeda dan kita akan menemukan juga dinamika yang sangat kontras:

Pertama, di sisi pihak Amerika Serikat,  ini merupakan “kemenangan” yang menuai kontroversi. Di satu sisi, Komodor Downes dan para pendukungnya di angkatan laut merasa misi punitif (hukuman) ini sukses besar. Mereka yakin taktik bumi hangus dan penghancuran benteng Kuala Batee telah memulihkan kehormatan Amerika Serikat setelah kapal dagang Friendship yang dirampok oleh warga lokal pada tahun 1831. 

Namun, di belahan dunia barat—tepatnya di Washington D.C.—tindakan Downes justru memicu kegemparan politik: Tanpa Izin Kongres: Presiden Andrew Jackson awalnya mengirim Downes hanya untuk menyelidiki insiden Friendship. Tindakan Downes yang langsung menyerang tanpa diplomasi terlebih dahulu dianggap melampaui wewenang. 

Dan datang kecaman publik. Ketika berita tentang hancurnya Kuala Batee dan tewasnya puluhan warga sipil (termasuk wanita dan anak-anak) sampai ke Amerika, koran-koran dan anggota Kongres mengecam keras tindakan tersebut sebagai aksi brutal yang tidak beradab.

Kedua, di sisi pihak Kuala Batee (Sumatera) ketenangan yang bersifat “sementara”. Keyakinan Downes bahwa tahun 1832 berjalan aman karena orang Aceh “takut” sebenarnya adalah salah satu miskalkulasi terbesar. “Pelajaran” yang dikira berhasil ditanamkan oleh Amerika Serikat ternyata tidak bertahan lama. Dikarenakan, Sentimen Anti-Asing. 

Alih-alih takut, serangan tersebut justru mempertebal rasa benci dan ketidakpercayaan para penguasa serta masyarakat lokal terhadap kapal-kapal asing, khususnya Amerika Serikat. Dan juga konflik lagi atau berulang. Diklaim bahwa tidak ada insiden baru terbukti keliru di kemudian hari. 

Pada tahun 1838, ketegangan kembali pecah ketika kapal dagang Amerika, Eclipse, dirampok lagi di wilayah dekat Kuala Betee. Sehingga terjadi peristiwa atau kejadian ini memaksa Angkatan Laut AS mengirimkan ekspedisi pembalasan kedua (Second Sumatran Expedition) di bawah pimpinan Komodor George C. Read untuk membom Kuala Batee lagi pada tahun 1839.

Pada akhirnya, apa yang dianggap Downes sebagai pencegahan yang efektif (deterrence) hanyalah jeda waktu sementara sebelum konflik serupa terulang kembali akibat pengabaian terhadap akar masalah perdagangan dan politik lokal di pesisir Sumatra. 

Nah, kronologi peristiwa pertempuran dan taktik militer yang digunakan oleh Komodor Downes saat menyerang Kuala Batee pada tahun 1832. Begini ceritanya.

Serangan terhadap Kuala Batee pada tanggal 6 Februari 1832 merupakan operasi militer yang dirancang dengan elemen kejutan yang sangat matang. Komodor John Downes sadar bahwa jika kapal fregatnya, USS Potomac, terlihat sebagai kapal perang dari jauh, para pejuang dan penduduk Kuala Batee akan langsung bersiap di benteng-benteng mereka atau melarikan diri ke pedalaman. 

Dan menggunakan taktik penyamaran (Deception). Sebelum mendekati pantai, Komodor Downes memerintahkan seluruh kru untuk menyamarkan USS Potomac agar terlihat seperti kapal dagang biasa 

Mengubah Tampilan Kapal:Lubang-lubang meriam (gun ports) ditutup dan dicat agar menyatu dengan lambung kapal. Tiang-tiang kapal diatur sedemikian rupa agar terlihat kurang rapi, meniru gaya kapal dagang yang kelelahan setelah perjalanan jauh.

Lalu menyembunyikan pasukan: diperkirakan sekitar 260 prajurit Marinir dan pelaut disembunyikan di dek bawah agar tidak terlihat dari teropong pantai Kuala Batee. Taktik ini berhasil total. Para penguasa lokal dan pengawal benteng di Kuala Batee mengira itu adalah kapal dagang kaya yang siap bertransaksi lada, sehingga mereka tidak menaruh curiga sama sekali. 

Pendaratan senyap dini hari. Pada malam hari tanggal 5 Februari, USS Potomac membuang sauh di posisi yang aman. Tepat pukul 02.00 dini hari tanggal 6 Februari, pasukan pendarat mulai diturunkan ke sekoci. Dan kekuatan pasukan: Downes menurunkan sekitar 250 hingga 260 personel yang dibagi menjadi beberapa divisi, dipimpin oleh Letnan Irvin Shubrick. 

Kemudian Mereka dilengkapi dengan senapan musket dan satu meriam ringan yang disebut 6-pounder.Pendaratan tanpa suara: Pasukan mendarat di pantai yang gelap sekitar 1,5 mil di utara Kuala Batee. Mereka bergerak cepat dalam senyap untuk mengepung kota sebelum matahari terbit. Penyerbuan tiga penjuru benteng Kuala Batee dilindungi oleh beberapa benteng tanah dan kayu (forts) yang kuat, yang dipimpin oleh para kepala wilayah (termasuk Po Mahomet). 

Pasukan Amerika Serikat membagi diri untuk menyerang tiga benteng utama secara simultan: Benteng Pertama (Benteng Po Mahomet):Pasukan Marinir di bawah Letnan Alvin Edson menyerbu benteng ini. Pertempuran sengit terjadi dengan menggunakan sangkur (bayonet) dan senjata tajam. 

Po Mahomet dan para pengawalnya menolak menyerah dan gugur di dalam benteng. Dan Benteng kedua dan ketiga, divisi lain menyerang benteng di bagian tengah dan selatan town. 

Orang-orang Aceh (Kuala Batee) memberikan perlawanan gigih menggunakan tombak, rencong, dan beberapa meriam kecil (lelo). Namun, disiplin militer dan keunggulan persenjataan Amerika Serikat berhasil menembus dinding benteng. 

Salah satu benteng sempat meledak karena amunisi bubuk mesiu di dalamnya terserang  api saat pertempuran berlangsung. Pemboman dari Laut (Naval Bombardment). Setelah kota berhasil dikuasai dan benteng-benteng dilumpuhkan oleh pasukan darat, sisa-sisa pejuang mundur ke benteng ke empat yang terletak agak ke dalam. 

Melihat situasi ini, Komodor Downes yang memantau dari kapal memerintahkan USS Potomacuntuk membuka penyamarannya. Lubang meriam dibuka, dan kapal perang tersebut mulai memuntahkan tembakan meriam berat ke arah kota dan benteng yang tersisa. 

Dentuman meriam dari laut ini menghancurkan moral pertahanan lokal. Dampak pertempuran berlangsung selama beberapa jam dan berakhir menjelang siang. Di pihak Kuala Batee, diperkirakan antara 80 hingga 150 orang tewas, termasuk beberapa kepala suku dan warga sipil yang terjebak dalam baku tembak. 

Di pihak Amerika Serikat, hanya 2 prajurit tewas dan beberapa belas lainnya luka-luka. Setelah merampas beberapa bendera dan meriam kecil sebagai trofi, pasukan Amerika Serikat membakar kota serta sisa-sisa benteng sebelum kembali ke kapal mereka dan berlayar meninggalkan Sumatra.  Begitu-lah peristiwa sejarah, meninggalkan kenangan yang menjadi pelajaran ke depannya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Assauti Wahid S. Hum., MA
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...