Artikel · Potret Online

Beyond Technological Achievement: Ketika Pendidikan Terlalu Sibuk Mengejar Mesin dan Mulai Kehilangan Manusia

Penulis  Dayan Abdurrahman
Mei 17, 2026
6 menit baca 17
IMG_1196
Foto / IlustrasiBeyond Technological Achievement: Ketika Pendidikan Terlalu Sibuk Mengejar Mesin dan Mulai Kehilangan Manusia
Disunting Oleh

Oleh: Dayan Abdurrahman

Di banyak ruang pendidikan hari ini, kita sedang menyaksikan sebuah perlombaan besar bernama modernisasi. Sekolah berlomba membeli perangkat digital, memasang smart board, memperkenalkan artificial intelligence, membangun kelas virtual, hingga mempromosikan jargon-jargon revolusi industri 5.0. Anak-anak sekolah dasar diajarkan coding sebelum benar-benar memahami makna empati. Mereka diajarkan mengoperasikan aplikasi sebelum matang mengendalikan emosi. Bahkan dalam banyak kasus, kemampuan menggunakan teknologi mulai dianggap lebih penting dibanding kemampuan memahami diri sendiri sebagai manusia.

Kita seolah percaya bahwa semakin digital sebuah sekolah, semakin maju pula kualitas pendidikannya.

Namun pertanyaannya: benarkah demikian?

Atau jangan-jangan dunia pendidikan modern sedang terlalu sibuk membangun “manusia cepat”, tetapi perlahan gagal membangun “manusia kuat”?

Hari ini, anak-anak memang semakin pintar menggunakan teknologi. Tetapi di saat yang sama, dunia juga sedang menghadapi peningkatan kecemasan sosial, krisis kesehatan mental, cyberbullying, degradasi moral, hingga keterasingan emosional di kalangan generasi muda. Anak-anak semakin mudah terhubung dengan internet, tetapi semakin sulit terhubung secara mendalam dengan keluarga dan lingkungannya sendiri. Mereka mengenal dunia melalui layar, tetapi perlahan kehilangan kepekaan membaca manusia di hadapannya.

Ironisnya, semua ini terjadi justru ketika pendidikan global mengklaim dirinya sedang mengalami kemajuan luar biasa.

Inilah paradoks besar pendidikan modern.

Kita berhasil menciptakan sistem belajar yang cepat, tetapi belum tentu menciptakan manusia yang matang. Kita berhasil meningkatkan akses pengetahuan, tetapi belum tentu meningkatkan kebijaksanaan. Kita menghasilkan generasi yang sangat informatif, tetapi sering kali rapuh secara emosional dan spiritual.

Barangkali inilah yang mulai luput dari kesadaran banyak negara: pendidikan bukan sekadar proyek mencetak tenaga kerja digital, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.

Di sinilah problem mendasar mulai terlihat. Dunia pendidikan global terlalu lama terobsesi pada achievement metrics — ranking, skor, kompetisi, sertifikat, dan performa akademik. Negara-negara berlomba mengejar posisi dalam indeks pendidikan dunia, tetapi kadang lupa bertanya: setelah semua pencapaian itu, apakah anak-anak kita benar-benar lebih bahagia, lebih tenang, lebih manusiawi?

Tidak sedikit sekolah hari ini terlihat modern secara fasilitas, tetapi dingin secara kemanusiaan. Anak-anak duduk dengan tablet di tangan, tetapi kehilangan ruang dialog yang hangat dengan guru. Mereka mahir membuat presentasi digital, tetapi gagap memahami nilai hormat, kesabaran, dan tanggung jawab sosial.

Kita seperti sedang membangun generasi yang sangat terkoneksi dengan sistem, tetapi perlahan terputus dari akar kemanusiaannya sendiri.

Padahal sejarah membuktikan, peradaban besar tidak runtuh karena kekurangan teknologi. Ia runtuh ketika kehilangan moralitas dan keseimbangan nilai.

Lihatlah banyak negara maju hari ini. Mereka berhasil membangun teknologi kelas dunia, tetapi juga menghadapi masalah serius seperti individualisme ekstrem, krisis keluarga, depresi generasi muda, hingga keterasingan sosial. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi manusia justru semakin kesepian. Gedung-gedung pendidikan semakin canggih, tetapi hubungan emosional antara manusia semakin rapuh.

Maka pertanyaannya menjadi penting: apakah dunia sedang membutuhkan lebih banyak teknologi, atau justru lebih banyak nilai?

Dalam konteks ini, negara-negara seperti Indonesia sebenarnya memiliki sesuatu yang mulai langka di dunia modern: nilai sosial, spiritualitas, budaya kekeluargaan, dan kehidupan komunal yang masih hidup di tengah masyarakat. Memang tidak sempurna, tetapi masih ada ruang-ruang kemanusiaan yang belum sepenuhnya hilang.

Aceh, misalnya, memiliki pengalaman sosial yang menarik untuk direnungkan. Di banyak sekolah, sebelum pelajaran dimulai, anak-anak masih dibiasakan membaca Al-Qur’an, berdoa bersama, menghormati guru, menjaga sopan santun, serta membangun kedekatan sosial berbasis nilai agama dan budaya. Bagi sebagian kalangan modernis ekstrem, hal-hal seperti ini mungkin dianggap tidak terlalu penting dalam kompetisi global. Namun justru di tengah dunia yang semakin mekanistik, nilai-nilai sederhana itu bisa menjadi penyangga psikologis dan moral yang sangat besar bagi anak-anak.

Karena sesungguhnya, anak tidak hanya membutuhkan stimulasi intelektual. Mereka juga membutuhkan ketenangan jiwa.

Sayangnya, pendidikan modern sering kali terlalu fokus pada bagaimana anak menjadi “produktif”, tetapi kurang serius memikirkan bagaimana anak tetap menjadi manusia yang utuh. Kita mengukur keberhasilan pendidikan dari nilai ujian dan kecakapan digital, tetapi kurang memberi ruang pada ukuran seperti empati, kedewasaan emosional, kemampuan menghormati orang lain, dan ketahanan spiritual.

Padahal manusia bukan mesin pencetak prestasi.

Anak-anak bukan proyek industri yang hanya dinilai dari output akademik. Mereka adalah makhluk kompleks yang tumbuh melalui relasi sosial, kasih sayang, nilai moral, budaya, dan pengalaman spiritual.

Karena itu, teknologi seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu pendidikan, bukan pusat ideologi pendidikan itu sendiri.

Inilah titik penting yang mulai harus dipikirkan ulang oleh dunia akademik global. Pendidikan masa depan tidak cukup hanya berbicara tentang digital literacy, tetapi juga harus berbicara tentang moral literacy, emotional literacy, spiritual literacy, dan cultural literacy.

Jika tidak, kita mungkin berhasil menciptakan generasi yang sangat pintar menggunakan teknologi, tetapi gagal memahami makna hidup dan tanggung jawab kemanusiaan.

Di sinilah pentingnya membangun kurikulum yang lebih human-centered — kurikulum yang memadukan inovasi teknologi dengan nilai agama, kearifan lokal, dan perkembangan psikologis anak. Teknologi tetap dipakai, tetapi tidak menghapus identitas budaya dan nilai spiritual masyarakat.

Sebab kemajuan yang sehat bukanlah kemajuan yang mencabut manusia dari akarnya sendiri.

Aceh dan Indonesia sebenarnya dapat menawarkan perspektif alternatif bagi dunia. Bukan dengan menolak modernitas, tetapi dengan menunjukkan bahwa modernitas masih bisa berjalan berdampingan dengan nilai agama, budaya lokal, dan humanisme sosial. Dunia tidak hanya membutuhkan sekolah yang menghasilkan anak pintar, tetapi juga membutuhkan sekolah yang menghasilkan manusia yang tidak kehilangan nurani.

Dan ini bukan romantisme budaya semata.

Hari ini lembaga-lembaga internasional mulai berbicara tentang pentingnya socio-emotional learning, child wellbeing, ethical education, bahkan spiritual resilience dalam pendidikan anak. Artinya, dunia sendiri mulai menyadari bahwa pendekatan pendidikan yang terlalu teknokratis mulai melahirkan problem baru.

Karena itu, pengalaman-pengalaman lokal seperti di Aceh tidak seharusnya dipandang kecil atau pinggiran. Justru di tengah krisis kemanusiaan global, nilai-nilai lokal yang menjaga hubungan manusia dengan agama, keluarga, dan komunitas bisa menjadi sumber inspirasi baru.

Tentu saja, ini bukan berarti Aceh sudah sempurna. Tidak. Masih banyak persoalan pendidikan, kualitas SDM, ketimpangan fasilitas, hingga problem implementasi kurikulum. Namun setidaknya Aceh masih memiliki ruang spiritual dan sosial yang belum sepenuhnya hilang. Dan dalam dunia yang semakin kehilangan makna, hal seperti itu justru menjadi sangat berharga.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti memandang pendidikan hanya sebagai alat memenangkan kompetisi ekonomi global. Pendidikan harus kembali dilihat sebagai proses membentuk manusia yang mampu hidup dengan nilai, kesadaran moral, dan tanggung jawab sosial.

Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas membuat teknologi. Dunia juga membutuhkan generasi yang cukup bijak untuk memastikan teknologi tetap melayani kemanusiaan, bukan menghancurkannya.

Jika tidak, kita mungkin akan melahirkan generasi paling pintar sepanjang sejarah, tetapi sekaligus generasi paling kesepian, paling rapuh, dan paling kehilangan arah.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...