Rabu, April 29, 2026

Sebuah Nama yang Tenggelam Bersama Janji

Sebuah Nama yang Tenggelam Bersama Janji

Oleh: Nurul Hikmah

Di sebuah masa, hiduplah sebuah keluarga tua yang sangat kaya. Mereka bukan hanya memiliki rumah besar dan tanah yang luas, tetapi juga sebuah jalur emas—sebuah jalan yang menjadi urat nadi perdagangan. Siapa pun yang melewati jalur itu akan membawa keuntungan besar, sebab letaknya sangat strategis dan menjadi pintu keluar masuk banyak negeri.

Meski kaya, keluarga itu hidup sederhana. Mereka dikenal ramah, religius, dan memiliki harga diri yang tinggi. Mereka tidak mudah tunduk kepada siapa pun, tetapi jika melihat orang tertindas, mereka akan membuka pintu dan memberi pertolongan.

Di seberang sana, hiduplah sebuah keluarga besar lain yang sedang berjuang melawan penjajah. Mereka miskin, tercerai-berai, dan nyaris kehilangan rumah mereka sendiri. Dalam keadaan terdesak, mereka datang meminta bantuan kepada keluarga tua yang kaya itu.

Mereka tidak datang sebagai saudara, melainkan sebagai tetangga yang mengaku sedang sekarat. Mereka tahu keluarga tua itu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, sehingga mereka mencari jalan masuk melalui seseorang yang tinggal paling dekat dengan pagar rumah itu—bukan anggota inti keluarga, hanya seseorang yang dipercaya menjaga batas. Dengan janji manis dan kisah penderitaan, mereka memohon agar pintu dibuka.

Karena iba, merekapun diizinkan masuk.

Keluarga tua itu membantu sepenuh hati. Mereka memberikan tempat berlindung, dukungan, kekuatan, bahkan menyerahkan akses kepada jalur emas yang selama ini mereka jaga turun-temurun.

Perjuangan berhasil. Penjajah pergi. Keluarga besar itu akhirnya berdiri tegak sebagai tuan atas rumah barunya. Namun setelah kemenangan datang, janji mulai berubah.

Sedikit demi sedikit, keluarga besar itu melupakan siapa yang pertama kali membuka pintu untuk mereka. Jalur emas yang dahulu hanya dipinjam untuk perjuangan, perlahan mereka klaim sebagai milik penuh mereka sendiri.

Mereka menyewakannya kepada orang-orang asing dari negeri jauh—para saudagar besar yang datang membawa kontrak, bendera internasional, dan kekuasaan yang tak terlihat. Jalur itu dijadikan mesin uang raksasa. 

Keuntungan mengalir deras setiap tahun, tetapi hanya sedikit yang kembali kepada keluarga besar itu sendiri. Sebagian besar justru mengalir ke kantong para pemodal asing, para penjaga bersenjata, dan para elit yang rela tutup mulut demi bagian kecil dari hasil rampasan. Yang paling menyakitkan, keluarga tua yang dahulu membuka pintu tidak mendapat apa-apa.

Bahkan nama mereka perlahan dihapus dari cerita. Seolah-olah jalur emas itu sejak awal bukan milik mereka. Seolah-olah mereka hanya penonton di tanah sendiri.

Rumah mereka tetap berdiri, tetapi martabat mereka dirampas. Mereka melihat kapal-kapal besar lalu lalang setiap hari, membawa kekayaan tak terhitung jumlahnya, sementara anak-anak mereka sendiri hidup dalam kekurangan.

Awalnya, semua itu disebut hanya sementara. Sebuah kerja sama. Sebuah pinjam pakai demi masa depan bersama. Namun puluhan tahun berlalu. Tujuh puluh tahun berubah menjadi delapan puluh. Generasi berganti. Janji tinggal cerita.

Hingga pada suatu masa, tabir mulai terbuka. Orang-orang mulai sadar bahwa jalur emas itu bukanlah milik mereka yang berteriak paling keras, melainkan milik keluarga tua yang sejak awal hanya terlalu baik untuk curiga.

Dan saat nama itu akhirnya disebut, semua orang terdiam. Bahwa jalur itu bukan sekadar jalan air. Bukan sekadar jalur perdagangan. Melainkan warisan, harga diri, dan luka sejarah yang panjang. Namanya adalah Selat Malaka.

Dan sebuah pertanyaan masih menggantung sampai hari ini: siapa sebenarnya empunya, dan siapa yang diam-diam menggadaikannya?

Sebuah catatan untuk Aceh tercinta.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist