Oleh: Siti Hajar
Beureunuen adalah sebuah kota kecil di wilayah Kabupaten Pidie. Ia mungkin tidak sebesar kota-kota lain di Aceh, tetapi denyut kehidupannya terasa begitu kuat, terutama ketika hari Sabtu—yang merupakan hari pasar—tiba.
Keberadaannya di lintas jalan Banda Aceh Medan membuat orang yang melintasi jalan ini tidak jarang singgah di Pasar Beureunuen. Sementara warga lokal dari berbagai Gampong dan Kecamatan sekitar datang membawa hasil kebun, ternak, dan harapan. Riuh tawar-menawar bercampur dengan aroma rempah, bau khas pasar serta suara kendaraan seakan tiada jeda mengikuti irama saban hari terus berdenyut.
Beureunuen sebuah kota kecil dengan jiwa dagang yang besar. Namun, di tengah keramaian itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, tetapi menarik untuk direnungkan. Pasar yang begitu hidup ini berjalan tanpa kehadiran komunitas Tionghoa, yang di banyak tempat lain di Indonesia justru identik dengan aktivitas perdagangan. Tidak terlihat deretan toko milik mereka, tidak pula jejak kuat seperti yang biasa kita temukan di kota-kota besar atau pelabuhan niaga. Lalu, pertanyaannya mengemuka perlahan—mengapa?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana satu alasan. Ia teranyam dari sejarah panjang, karakter masyarakat, dan cara sebuah komunitas membangun dirinya sendiri.
Di Beureunuen, kekuatan itu terasa begitu nyata. Hampir setiap sudut pasar diisi oleh pedagang lokal. Mereka bukan sekadar penjual, tetapi juga penggerak utama roda perekonomian setempat.
Di banyak wilayah lain, peran ini sering diisi oleh komunitas Tionghoa yang memang memiliki tradisi panjang dalam dunia perdagangan. Namun di Pidie, peran itu seakan sudah diambil alih sepenuhnya oleh masyarakat setempat.
Ada kebanggaan tersendiri dalam kemandirian ini—bahwa mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengelola pasar, dan menghidupkan ekonomi tanpa bergantung pada kekuatan luar.
Beureunuen juga tumbuh dalam lingkungan budaya yang kuatdan religius.
Nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi keyakinan, tetapi juga membentuk cara hidup masyarakatnya. Ikatan sosial terasa erat, hubungan antar warga terjaga, dan aktivitas ekonomi pun berkembang dari dalam komunitas itu sendiri. Dalam suasana seperti ini, struktur sosial cenderung lebih homogen, dan ruang bagi masuknya kelompok luar menjadi lebih terbatas, bukan karena penolakan yang keras, tetapi karena sistem yang sudah berjalan dengan kuat dari dalam.
Jika ditarik lebih luas, kondisi ini juga berkaitan dengan sejarah Aceh secara keseluruhan. Berbeda dengan kota-kota pelabuhan besar yang sejak dulu menjadi titik temu berbagai bangsa, banyak wilayah di Pidie berkembang tanpa arus migrasi besar dari luar. Tidak ada kebutuhan mendesak yang membuka ruang kosong dalam sektor ekonomi, karena semuanya telah diisi oleh masyarakat lokal.
Jaringan dagang yang mereka bangun sudah begitu kokoh, saling terhubung, dan sulit ditembus oleh pendatang.
Beureunuen menjadi sebuah potret yang unik. Sebuah kota kecil dengan pasar yang ramai, tetapi dengan wajah yang sepenuhnya lokal. Tidak ada dominasi etnis luar, tidak pula ketergantungan pada komunitas tertentu. Semua bergerak dari dalam, tumbuh dari akar sendiri, dan berkembang dengan caranya sendiri.
Mungkin di situlah letak keistimewaannya. Beureunuen tidak hanya sekadar tempat berjual beli, tetapi juga cermin dari kemandirian sebuah masyarakat. Ia mengajarkan bahwa sebuah komunitas bisa membangun kekuatan ekonominya sendiri, menjaga identitasnya, dan tetap hidup dengan penuh warna, tanpa harus mengikuti pola yang sama seperti tempat-tempat lain.
Beureunuen seolah menceritakan tentang sejarah yang tidak tertulis, tetapi terasa dalam setiap langkah, setiap transaksi, dan setiap wajah yang datang dan pergi, denyut dagang yang tiada henti.
Kota Sigli sebagai Ibukota Kabupaten juga memiliki kotanya sendiri. Namun, entah mengapa warga Pidie lebih memilih Beureuneun sebagai tempat berbelanja. Mereka menganggap kota Beureuneun lebih lengkap ketersediaan barag dagang, selain kebutuhan dapur, peralatan rumah tangga, fashion-perlengkapan pakaian, tas dan sepatu juga ada pasar tradisional seperti tempat menjual dan membeli biji melinjo serta kerupuk emping hasil jadi dari biji melinjo yang merupakan komoditas besar perkebunan di Pidie.
Pasar hewan juga sangat hidup. Transaksi jual beli ternak lokal, ayam, kambing, kerbau dan sapi membuat geliat ekonomi masyarakat Pidie terus berdenyut tanpa henti.
Selain itu janeng– hasil dari olahan tanaman sejenis umbi yang tumbuh menjalar di hutan-hutan itu yang cukup langka pun adadi pasar Beureunuen. Ada pula beureunee-sagu juga ada di pasar tersebut. Daerah tersebut juga dikenal dengan produksi kerupuk kulit-kulit sapi dan kulit kerbau yang cukup banyak diminati oleh pengunjung yang singgah di pasar Beureuneun.
Kota Sigli dengan gedung-gedung pemerintahan berdiri, jalan-jalan utama tertata, dan aktivitas administratif berjalan sebagaimana mestinya. Namun, ada satu hal yang kerap terasa janggal sekaligus menarik untuk direnungkan.
Ketika urusan berbelanja, banyak warga Pidie justru melangkahkan kaki ke Beureunuen. Entah sejak kapan kebiasaan ini tumbuh, tetapi ia terasa begitu alami. Seolah ada kesepakatan di antara masyarakat bahwa jika ingin mencari sesuatu—apa pun itu—maka Beureunuen adalah jawabannya. Bukan karena Sigli tidak mampu menyediakan, melainkan karena Beureunuen terasa lebih “lengkap”, lebih hidup, dan lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Di sana, kebutuhan dapur tersaji tanpa perlu dicari lama. Sayur mayur segar, bumbu dapur, hingga hasil kebun lokal hadir dalam ragam yang seolah tidak habis. Beranjak sedikit, deretan peralatan rumah tangga memenuhi sisi-sisi toko, dari yang sederhana hingga yang lebih modern.
Lalu, di bagian lain, dunia kecil fashion terbentang. Pakaian, tas, sepatu, semua hadir dengan pilihan yang cukup untuk berbagai selera dan kemampuan.
Maka, tidak mengherankan jika Beureunuen menjadi pilihan utama. Ia bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi ruang hidup yang merangkum kebutuhan sekaligus kenangan.
Di sana, orang tidak hanya membeli barang, tetapi juga merasakan kedekatan—dengan tradisi, dengan sesama, dan dengan akar kehidupan mereka sendiri.
Barangkali, di situlah letak alasan yang tidak selalu terucap. Beureunuen bukan hanya lebih lengkap, tetapi juga lebih“hidup”. Dan dalam kehidupan yang terus berubah, manusia sering kali memilih tempat yang bukan hanya menyediakan, tetapi juga menghidupkan.
Masjid Abu Beureueh
Masjid Abu Beureueh menjadi salah satu penanda penting dalam lanskap sejarah dan spiritual Kota Beureunuen. Masjid ini berdiri berdampingan dengan pasar tradisional yang selalu ramai itu, seolah menyatukan dua denyut kehidupan masyarakat. Ibadah dan ekonomi.
Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan jejak panjang perjuangan dan pengabdian ulama besar Aceh.
Nama masjid ini diambil dari sosok ulama kharismatik Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureueh, (23 September 1896 – 10 Juni 1987) yang memiliki peran besar dalam sejarah keislaman dan perjuangan di Aceh. Ia dikenal sebagai tokoh pendidikan, pemimpin agama, sekaligus figur penting dalam dinamika sosial-politik Aceh pada masanya. Kehadirannya memberikan pengaruh kuat dalam membentuk karakter masyarakat yang religius, termasuk di wilayah Pidie.
Masjid ini juga memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan dakwah dan pendidikan Islam di kawasan tersebut. Pada masa lalu, kawasan Beureunuen berkembang sebagai pusat aktivitas keagamaan, di mana pengajian, diskusi keislaman, dan pendidikan berlangsung secara aktif di sekitar masjid. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masjid ini pernah menjadi salah satu titik penting dalam penyebaran nilai-nilai Islam yang membentuk identitas masyarakat setempat.
Hingga kini, Masjid Abu Beureueh tetap berdiri kokoh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Beureunuen. Letaknya yang berdampingan dengan pasar menghadirkan harmoni unik antara dunia spiritual dan aktivitas ekonomi.
Di satu sisi, orang datang untuk beribadah dan menenangkan hati, sementara di sisi lain, roda perdagangan terus berputar. Masjid ini pun menjadi saksi bisu bagaimana sejarah, agama, dan kehidupan sehari-hari berpadu dalam satu ruang yang sama.
Masjid Abu Beureueh bukan hanya bangunan ibadah yang berdiri di jantung keramaian pasar, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah yang tidak selalu sederhana untuk ditelusuri. Berbeda dengan masjid-masjid besar lain yang memiliki catatan pendirian yang jelas, informasi tentang waktu pasti pembangunan awal masjid ini tidak terdokumentasi secara detail dalam sumber-sumber tertulis yang mudah diakses. Namun, masyarakat setempat meyakini bahwa masjid ini telah ada sejak pertengahan abad ke-20, seiring dengan berkembangnya Beureunuen sebagai pusat aktivitas ekonomi dan keagamaan di Pidie.
Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini tidak sepenuhnya lepas dari dinamika sosial yang berkembang di Aceh. Sosok Abu Beureueh sendiri pernah berada dalam pusaran polemik sejarah, terutama terkait keterlibatannya dalam gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh pada tahun1950-an.
Gerakan ini lahir dari kekecewaan terhadap pemerintah pusat dan tuntutan penerapan syariat Islam yang lebih luas. Meski konteksnya berbeda dengan fungsi masjid, bayang-bayang sejarah tersebut kerap menjadi bahan diskusi ketika membicarakan warisan nama Abu Beureueh di berbagai tempat, termasuk masjid ini.
Namun demikian, dalam kehidupan masyarakat Beureunuen hari ini, Masjid Abu Beureueh lebih dimaknai sebagai ruang persatuan daripada perdebatan. Ia menjadi tempat orang berkumpul, beribadah, dan menenangkan diri di tengah hiruk-pikuk pasar. Polemik sejarah yang pernah menyertai nama besarnya tidak lagi menjadi sumber perpecahan, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang justru memperkaya pemahaman masyarakat tentang identitas, perjuangan, dan nilai-nilai yang mereka pegang hingga kini.
Tantangan Era Belanja Online
Namun, di tengah arus zaman yang terus bergerak, muncul satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Apakah keramaian Pasar Beureunuen akan tetap bertahan ketika kebiasaan belanja mulai berpindah ke layar ponsel? Dunia kini berubah. Orang tidak lagi harus datang, berjalan dari kios ke kios, atau menawar harga secara langsung. Cukup dengan beberapa sentuhan, barang bisa tiba di depan rumah.
Sekilas, ini tampak seperti ancaman. Pasar tradisional yang selama ini hidup dari interaksi langsung bisa kehilangan sebagian pengunjungnya. Generasi muda, khususnya, lebih akrab dengan belanja online yang dianggap praktis, cepat, dan seringkali lebih murah. Jika tidak beradaptasi, bukan tidak mungkin perlahan-lahan keramaian itu akan berkurang, meninggalkan lorong-lorong pasar yang dulu penuh menjadi lebih lengang.
Namun, jika dilihat lebih dalam, perubahan ini tidak sepenuhnya harus ditakuti. Ia justru bisa menjadi peluang—asal ada kesiapan untuk beradaptasi. Bayangkan jika para pedagang di Beureunuen tidak hanya menunggu pembeli datang, tetapi juga “menjemput” mereka secara digital.
Barang-barang khas seperti emping melinjo, janeng, hingga berurine bisa dipasarkan lebih luas, bahkan menembus pasar luar daerah. Apa yang dulu hanya dikenal di Pidie, kini bisa dinikmati oleh orang-orang di kota lain, bahkan di luar Aceh.
Di sinilah kunci utamanya, bertahan, dan juga bertransformasi. Keahlian berdagang yang sudah mendarah daging pada masyarakat Pidie sebenarnya adalah modal besar. Tinggal ditambah dengan kemampuan baru—memotret produk dengan menarik, menulis deskripsi yang menggugah, memahami cara kerja marketplace, dan membangun kepercayaan pembeli secara online.
Dengan begitu, pasar tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi meluas menjadi pasar tanpa batas. Dan yang paling menarik, keduanya tidak harus saling menggantikan. Warga sekitar tetap bisa datang ke pasar, merasakan hangatnya interaksi, memilih barang secara langsung, dan menikmati suasana yang tidak tergantikan oleh layar. Sementara mereka yang jauh tetap bisa berbelanja dari rumah. Pasar Beureunuen pun tidak kehilangan jiwanya, justru memperluas sayapnya.
Maka, mungkin ini bukan tentang ancaman atau peluang semata, tetapi tentang bagaimana sebuah tradisi lama bertemu dengan dunia baru. Jika mampu merangkul keduanya, Beureunuen tidak hanya akan bertahan, tetapi bisa menjadi contoh bagaimana pasar tradisional tetap hidup—di tanah yang sama, tetapi dengan cakrawala yang lebih luas. []






















Komentar