Oleh NA Riya Ison
Pada masa kedaruratan bencana tersebut PMI Aceh hampir collaps. Apalagi banyak pengurus dan relawan yang tidak berangkat ke Takengon, juga menjadi penyintas korban bencana. Sehingga upaya evakuasi dan pemberian pertolongan masa panik khususnya bagi korban selamat menjadi kurang maksimal.
Di tengah situasi tersebut, diskusi melalui media WhatsApp grup (WaG) mantan relawan PMI Tsunami Aceh 2004 yang ratusan anggotanya tersebar di tanah air ikut memantau dan intens menggelar diskusi grup. H+2 bencana pada Kamis, 27 November 2025, keputusan penting diambil bersama: Markas PMI Provinsi Aceh harus dibuka dan siaga bencana.
Saya sebagai mantan relawan Tim Siaga PMI Provinsi Aceh dan Samsul Rizal, pengurus dan relawan PMI Cabang Sabang, akhirnya ditunjuk dan bersedia menerima mandat untuk membuka posko PMI Provinsi Aceh di Kawasan Ajuen Aceh Besar, dan melakukan berbagai persiapan, himpun laporan, dan sesegera mungkin melakukan operasi kemanusiaan bila diperlukan.
Selanjutnya, Samsul Rizal diamanahkan sebagai koordinator Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Markas PMI Aceh di Ajuen dan saya sebagai Liaison Officer (LO) atau relawan penghubung bagi PMI di Pangkalan TNI Angkatan Udara atau Lapangan Udara (Lanud) dan Bandar Udara (Bandara) Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar.
Di tengah keterbatasannya, PMI Provinsi Aceh tetap responsif pada masa panik tersebut. PMI Provinsi Aceh segera membuka layanan pemulihan hubungan keluarga atau restoring family link (RFL) sebuah pelayanan reunifikasi atau upaya mempertemukan antar-keluarga yang saling mencari keberadaan saudaranya di daerah bencana.
Pada Ahad, 30 November 2025 saya, Samsul Rizal, Ardi Sofinar dan Munandar mendapatkan informasi untuk penjemputan seorang relawan PMI Pusat asal Lampung, Pak Hadi Prasetyo. Ia merupakan ahli IT dan dilengkapi membawa 1 (satu) unit perangkat Starlink yang bermanfaat untuk membuka akses komunikasi internet.
Saat penjemputan dari Bandara SIM, Pak Hadi belum dapat informasi jadwal pasti kapan dan ke mana ia akan ditugaskan. Karenanya sementara ia kami bawa ke Markas Ajuen. Tetapi iasiap untuk ditempatkan di mana pun, kapan pun.
Belum sampai di markas, telepon selulernya berdering. Ia diminta segera ke Lanud SIM, sebab ada helikopter atau pesawat lainnya yang akan terbang ke Rembele, Bener Meriah.
Saya dan Munandar sebagai sopir memakai truk Hyundai mengantar Pak Hadi ke Lanud SIM. Tetapi kami sedikit terlambat tiba di sana. Pesawat jenis caravan milik BNPB tengah siap terbang setibanya kami di Blang Bintang. Tetapi Pak Hadi berhasil terdaftar manifest pesawat yang sama pada jadwal penerbangan berikutnya.
Sekitar pukul 17.00 Wib, Pak Hadi akhirnya terbang menuju Rembele.
Setelah Maghrib atau sekitar pukul 19.30 Wib, tiba-tiba komunikasi internet dan telepon dengan sahabat relawan PMI di Rembele tersambung. Relawan PMI di Markas Ajuen yang sedang berkumpul sangat bahagia bercampur haru.
Semua komunikasi berhasil normal berkat aksi Pak Hadi yang membuka akses internet dengan perangkat Starlink di Markas PMI Bener Meriah di Rembele. Pak Hadi menceritakan, pada setiap hari, Markas PMI di Rembele dimanfaatkan ratusan warga untuk akses internet yang saat itu informasi sangat diperlukan.
Aksi PMI lain terus berlanjut. PMI Aceh melalui Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Banda Aceh juga menerima pengiriman kantung darah dari beberapa Provinsi menggunakan Pesawat Hercules lalu mendistribusikan kembali ke PMI Cabang Aceh Utara dan Lhokseumawe via Bandara Malikus Saleh. Selain itu sejumlah obat-obatan, rompi, handscoon, dan logistik lainnya juga dikirim untuk PMI Cabang Aceh Tengah, Bener Meriah melalui Bandar Udara (Bandara) Rembele dan Gayo Lues.
H+2 bencana banjir dan longsor, Murdani Yusuf, Ketua PMI Provinsi Aceh, dan T. Ibrahim berhasil keluar dari Rembele dengan pesawat Caravan komersil yang saat itu hanya melayani penerbangan ke Medan.
Akhirnya tugas kami sebagai pengurus bayangan PMI Aceh menjadi lebih mudah dan cepat. Sebab Pak Murdani sudah tiba di Ajuen sehingga konsolidasi dan koordinasi dapat dilaksanakan lebih tepat dan cepat.
Dan pada H+3 bencana pengurus dan relawan PMI yang terjebak di Rembele Bener Meriah juga sudah keluar dari sana secara bergelombang. Mereka secara estafet berjalan kaki melintasi longsoran dan jalan elak (jalan baru dibuka) dan sesekali naik kendaraan sampai jalan dan jembatan putus berikutnya. Sedangkan kendaraan operasional milik PMI masih tidak dapat keluar dari kawasan Bener Meriah dan Aceh Tengah

















Komentar