Selasa, April 21, 2026

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato - IMG_9833 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato
Negara Rp10.000
Negara Rp10.000

Seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pulpen seharga Rp10.000.

Ayo, kamu ulangi pelan-pelan, kalau perlu sambil menahan mual: Rp10.000.

Bukan karena narkoba.
Bukan karena perang.
Bukan karena bencana alam.

Tapi karena alat tulis.

Di titik inilah, semua jargon negara—tentang Indonesia Maju, SDM Unggul, bonus demografi, pendidikan inklusif—berubah menjadi lelucon gelap yang kejam.

Anak Itu Tidak Mati Karena Miskin
Ia Mati Karena Malu

Anak-anak tidak lahir dengan konsep: “Aku gagal sebagai manusia karena aku tidak mampu.”

Itu bukan naluri biologis. Itu produk sosial.

Seorang anak SD sampai berpikir bahwa kemiskinannya adalah kesalahan moral, bahwa ketidakmampuannya membeli alat tulis membuatnya pantas dihukum—bahkan oleh dirinya sendiri.

Artinya sistem pendidikan kita berhasil mendidik anak miskin untuk membenci dirinya sendiri.

Pendidikan Kita Sibuk Mengajar, Tapi Gagal Melindungi

Sekolah dasar seharusnya adalah ruang aman kedua setelah rumah.

Dalam praktiknya, ia sering menjelma menjadi ruang seleksi sosial paling awal.

Tidak punya buku? Tidak lengkap? Tidak siap? Malu.

Bukan negara yang malu. Bukan sistem yang malu. Anaknya yang malu.

Inilah kekerasan paling licik: kekerasan simbolik.

Tidak ada pukulan. Tidak ada darah. Tidak ada pelaku tunggal.

Yang ada hanyalah standar, kewajiban, kurikulum, dan kalimat klasik: “Ini sudah aturannya.”

Negara Hadir dalam Angka, Absen sebagai Manusia

Secara administratif, negara akan menjawab: Ada BOS, KIP, bansos, laporan, indikator.

Semua rapi. Semua tercatat.

Tapi di antara laporan itu, seorang anak mati karena Rp10.000.

Ini bukan kegagalan teknis. Ini kegagalan moral.

Negara tidak punya hak moral untuk gagal melindungi anak.

Pendidikan Kita Masih Berwatak Kolonial

Pendidikan di negeri ini masih membawa DNA lama: memilah, meranking, mendisiplinkan lewat malu.

Yang tidak sesuai standar dianggap: malas, bodoh, tidak layak.

Struktur tidak pernah disalahkan. Anak yang memikul beban.

Guru Dijadikan Operator, Bukan Penjaga Martabat

Guru dijebak oleh target, administrasi, dan evaluasi formal.

Empati dikalahkan oleh prosedur. Manusia dikalahkan oleh formulir.

Sistem menghilangkan tanggung jawab personal sambil mempertahankan kekerasan struktural.

Rp10.000 Itu Kecil, Tapi Maknanya Telanjang

Rp10.000 adalah uang parkir, uang rokok, uang kembalian.

Tapi cukup untuk membuat seorang anak merasa hidupnya tidak layak.

Masalahnya bukan sekadar kemiskinan—melainkan kegagalan menjaga martabat.

Republik yang Pandai Pidato, Tapi Gagap Hadir

Pandai membuat visi. Pandai bicara angka. Pandai mengutip data.

Tapi gagap saat menjawab pertanyaan paling sederhana:

Bagaimana memastikan seorang anak masuk kelas tanpa rasa takut?

Jika itu saja gagal dijawab, maka semua visi hanyalah poster mahal di dinding yang bocor.

Penutup: Negara Rp10.000

Anak ini tidak mati karena satu sekolah. Ia mati karena satu sistem.

Dan selama tragedi seperti ini hanya jadi berita sesaat tanpa perubahan, kita tidak sedang membangun bangsa.

Kita sedang menormalkan kekerasan dengan bahasa sopan.

Sebuah negara yang membiarkan anak mati karena Rp10.000, lalu tetap berani bicara tentang masa depan, bukan sedang bermimpi—ia sedang berbohong pada dirinya sendiri.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist