Dengarkan Artikel
Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam
Oleh Dayan Abdurrahman
Aceh dikenal sebagai negeri syariat. Identitas keislaman hadir kuat dalam simbol, regulasi, dan ruang sosial. Namun di balik wajah religius itu, bentang ekologinya justru menyimpan luka: hutan menyusut, sungai tercemar, ruang hidup menyempit. Pertanyaan mendasarnya bukan tentang iman, melainkan fungsi iman dalam menyelamatkan kehidupan.
Padahal tujuan keimanan adalah keselamatan dunia dan akhirat. Ketika ekologi rusak, keselamatan dunia runtuh—banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, rusaknya sumber air, terputusnya jaringan rezeki, usaha terhambat, dan perlahan matinya kehidupan. Keselamatan akhirat tidak mungkin dibayangkan berdiri di atas dunia yang hancur.
Iman yang Tinggal di Kesadaran
Masalah Aceh bukan kekurangan iman, melainkan iman yang berhenti sebagai kesadaran personal. Ia hidup di tutur dan ritus, tetapi jarang menjelma menjadi sistem pengelolaan kehidupan. Kita tahu merusak alam itu salah, namun pengetahuan moral itu tidak berubah menjadi tata ruang yang adil atau kebijakan ekologis yang tegas.
Iman kalah bukan karena nilai, tetapi karena tidak diberi bentuk struktural.
Syariat Simbolik dan Keselamatan yang Tereduksi
Syariat di Aceh kuat sebagai identitas, tetapi lemah sebagai arsitektur perlindungan hidup. Ia mengatur tubuh dan perilaku privat, namun jarang hadir dalam perencanaan ruang, izin ekstraksi, dan kebijakan lingkungan. Padahal maqashid syariah adalah menjaga kehidupan, dan ekologi adalah ruang paling konkret dari tujuan itu.
Ketika hutan rusak dan sungai mati, yang runtuh bukan hanya alam, tetapi keselamatan sosial dan ekonomi rakyat.
Pendidikan Saleh, Negara Tanpa Jembatan
Dayah melahirkan ulama, kampus melahirkan sarjana. Namun negara sering memperlakukan keduanya secara terpisah. Ulama diposisikan di pinggir kekuasaan—hadir sebagai pembaca doa dalam seremoni, sementara keputusan strategis diambil sepenuhnya oleh teknokrat dan elite politik.
Inilah dikotomi yang keliru. Ulama dan sarjana seharusnya sejajar, seimbang, dan saling melengkapi, bukan berjalan di jalur masing-masing. Ketika ulama tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, syariat kehilangan daya operasional. Ketika sarjana berjalan tanpa etika, pembangunan kehilangan arah moral.
Akibatnya, lahir kebijakan yang sah secara administratif, tetapi rapuh secara etik dan ekologis.
📚 Artikel Terkait
Dikotomi yang Melemahkan
Relasi ulama dan pemerintah sering kali tidak kooperatif. Ulama menjaga jarak karena khawatir kompromi nilai, pemerintah menjaga jarak karena merasa ulama tidak praktis. Keduanya berjalan sendiri-sendiri, saling mencurigai, dan secara tidak sadar menyingkirkan satu sama lain.
Padahal tujuan pembangunan bukan kemenangan satu pihak, melainkan keselamatan bersama. Pembangunan tidak membutuhkan dominasi, tetapi kolaborasi. Tidak saling mengikat untuk menyingkirkan, melainkan saling mengikat untuk melindungi kehidupan.
Pendidikan Masa Depan dan Rekonstruksi Peran
Di sinilah pendidikan masa depan menjadi kunci. Aceh membutuhkan model pendidikan adaptif yang:
menggabungkan pedagogi modern dan pendidikan Islam,
menguasai bahasa global tanpa kehilangan arah spiritual,
melahirkan manusia utuh—fully human.
Manusia seperti inilah yang mampu duduk di ruang kebijakan dengan dua kecakapan sekaligus: berpikir sistemik dan bernalar etik. Dari sini, ulama tidak lagi hanya berdiri di mimbar, dan sarjana tidak hanya berkutat pada angka, tetapi keduanya bertemu dalam satu meja perencanaan.
Menuju Pemerintahan Kolaboratif
Pemerintahan Aceh ke depan tidak boleh meminggirkan ulama ke ranah simbolik, dan tidak boleh membiarkan sarjana berjalan tanpa kompas moral. Yang dibutuhkan adalah model pemerintahan kolaboratif:
ulama terlibat sejak perumusan kebijakan,
sarjana memastikan kebijakan bekerja secara teknis,
negara menjadi ruang gotong royong nilai dan sistem.
Dengan cara ini, iman tidak lagi sekadar legitimasi, tetapi daya arah.
Penutup
Kerusakan ekologi Aceh bukan kegagalan iman, melainkan kegagalan membangun sinergi. Selama ulama dan sarjana dipisahkan, selama syariat dipersempit menjadi simbol, dan selama pendidikan tidak melahirkan manusia utuh, keselamatan dunia–akhirat akan terus menjadi slogan.
Mungkin sudah waktunya kita membangun Aceh dengan cara baru:
beriman tanpa kehilangan rasionalitas, modern tanpa kehilangan nurani, dan maju tanpa meninggalkan kehidupan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





