• Latest

Mengenal Zeus, Tuhan yang Dulu Disembah, Sekarang Jadi Logo Judi

Januari 10, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengenal Zeus, Tuhan yang Dulu Disembah, Sekarang Jadi Logo Judi

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Januari 10, 2026
in -#Judi online, Artikel
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Karena kalian sudah pada bahagia, saya mau bicara soal Tuhan. Tepatnya Tuhan Zeus. Tuhan yang tinggal kenangan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dulu ada Tuhan atau dewa yang disembah dengan jutaan pengikut. Punya kuil besar, ritual sakral, dan legitimasi negara. Ia bukan Tuhan ecek-ecek yang muncul di kolom komentar. Namanya Zeus. Raja para dewa. Penguasa langit dan petir. Di zamannya, menyebut nama Zeus bukan gaya-gayaan intelektual, tapi perkara hidup dan mati. Petir menyambar, orang langsung sadar diri, itu urusan Tuhan.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Sekitar abad ke-8 hingga ke-5 sebelum Masehi, Zeus berada di puncak karier ketuhanan. Kuil Zeus di Olympia, dibangun sekitar 470–456 SM, berdiri megah seperti pengingat, manusia itu kecil dan sebaiknya tahu diri. Di dalamnya berdiri Patung Zeus setinggi kurang lebih 12 meter, terbuat dari emas dan gading, karya Phidias, yang kemudian dicatat sebagai salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Olimpiade kuno bukan festival olahraga dan iklan, tapi ritual persembahan. Atlet bersumpah jujur atas nama Zeus. Bohong artinya menantang langit, bukan sekadar kena sanksi panitia.

Zeus bukan Tuhan lokal. Ia disembah lintas polis, dari Athena, Dodona, Nemea, Pergamon. Ia simbol hukum, keadilan, dan keteraturan kosmos. Kalau negara butuh legitimasi, Zeus ada. Kalau manusia butuh makna, Zeus siap. Pokoknya, lengkap.

Lalu datang masalah klasik yang sering menimpa Tuhan-Tuhan besar, kontradiksi internal. Zeus adalah dewa hukum, tapi kisah hidupnya penuh skandal. Ia suka menyamar jadi banteng, angsa, bahkan hujan emas demi menipu manusia. Moralitasnya lebih fleksibel dari tafsir undang-undang. Para filsuf Yunani mulai gelisah. Plato dan kawan-kawan bertanya, bagaimana mungkin semesta diatur oleh Tuhan yang kelakuannya sering kalah tertib dari warga biasa? Iman mulai bocor dari dalam, pelan tapi konsisten.

Namun yang benar-benar menentukan bukan filsafat, melainkan politik. Ketika Romawi beralih dari paganisme ke Kristen pada abad ke-4 M, terutama setelah Kaisar Theodosius I pada tahun 391 M melarang ritual pagan dan menutup kuil-kuil lama, nasib Zeus selesai. Tidak ada debat teologis terbuka. Tidak ada voting publik. Negara berpindah Tuhan. Olimpiade dihentikan. Kuil ditutup. Patung Zeus di Olympia akhirnya hancur atau terbakar sekitar abad ke-5 M. Zeus tidak kalah argumen, ia kehilangan kekuasaan pendukung.

Sejak itu, Zeus tidak mati, tapi diturunkan pangkatnya. Dari Tuhan menjadi mitos. Dari objek ibadah menjadi cerita. Dari pusat iman menjadi materi pelajaran. Ketika kapitalisme modern datang membawa kreativitas tanpa batas dan etika fleksibel, Zeus turun lagi satu tingkat, jadi logo judi. Dewa petir kini dipakai menghiasi mesin slot dan aplikasi taruhan. Petir tak lagi simbol keadilan, tapi jackpot. Raja dewa kini bekerja paruh waktu sebagai brand ambassador keberuntungan.

Di sinilah ironi sejarah menampar tanpa aba-aba. Tuhan yang dulu disembah, kini dipakai. Bukan karena ia palsu, tapi karena manusia berhenti merasa perlu. Tuhan tidak mati karena diserang, tapi karena dilewati. Atheisme modern tidak membunuh Tuhan dengan pedang, melainkan dengan rasa cukup. Petir dijelaskan sebagai beda potensial listrik. Penyakit urusan laboratorium. Nasib dikelola statistik. Moral diatur konsensus. Tuhan tidak dibantah, hanya dianggap tidak relevan.

Nietzsche pernah berkata, “Tuhan telah mati.” Banyak orang mengira itu deklarasi pembunuhan. Padahal itu laporan forensik. Manusia modern sudah berhenti hidup seolah Tuhan ada. Dalam sejarah, Tuhan yang tak lagi memengaruhi keputusan, moral, dan arah hidup, secara sosial dianggap wafat, meski secara teologis tetap ada.

Ironisnya, manusia yang mengaku tak bertuhan tidak berhenti menyembah. Ia hanya mengganti altar. Dulu berdoa, sekarang menyembah algoritma. Dulu iman, sekarang pasar. Dulu Tuhan, sekarang diri sendiri. Sejarah Zeus membuktikan, Tuhan tanpa iman dan tanpa kekuasaan akan direduksi pelan-pelan, sampai tinggal simbol.

Maka jangan cepat menertawakan Zeus yang kini jadi logo judi. Itu bukan cerita masa lalu yang jauh. Itu cermin. Sejarah sedang berbisik, Tuhan yang hari ini hanya diingat sesekali, suatu hari bisa bernasib sama. Bersyukurlah jika kalian masih mengingat Tuhan, bukan sebagai hiasan, tapi sebagai pusat makna. Sebab sejarah tidak pernah bertanya siapa Tuhan yang paling benar. Sejarah hanya mencatat siapa yang masih dianggap perlu.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

ADVERTISEMENT

#JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com