• Latest

Masjid Indah, Tanpa Sampah

Oktober 9, 2018
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Masjid Indah, Tanpa Sampah - IMG_9514 | Cerita | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Masjid Indah, Tanpa Sampah

Redaksi by Redaksi
Oktober 9, 2018
in Cerita, Gempa, Pidie Jaya, POTRET Sekolah
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Oleh Fatia Zahra
Pelajar kelas VIII SMP Unggul, Pidie Jaya
Masjid, rumah ibadah umat Islam, merupakah rumah ibadah yang selalu dijaga kebersihannya, karena umat Islam dituntut untuk selalu bersih dalam beribadah. Menyebut masjid, aku teringat dengan sebuah masjid di kampungku. Aku menyebutnya dengan salah satu masjid terindah, terutama di daerahku. Masjid itu diberi nama dengan masjid Al-Hidayah. Aku tidak tahu, mengapa disebut Al- Hidayah. Apakah karena saat membangun masjid itu, orang-orang kampung mendapat hidayah, atau memang sebgaja dipilih nama itu, karena hidayah itu adalah sesuatu yang indah. Banyak orang yang melaksanakan ibadah salat dan ibadah lainnya di masjid yang sejuk ini. Ya, sejuk karena angin yang berhembus membawa udara dingin dan sejuk. Kita akan merasa sentuhan lembut tiupan angina di dalam masjid. Kita enggan keluar masjid, ketika berada di dalamnya. Apalagi ketika matahari terasa terik. Sungguh sangat nyaman berada di dalam masjid ini.
Apa yang membuat kita merasa nyaman berada di masjid itu adalah karena kondisi masjid yang bersih. Dikatakan bersih karena di masjid ini tidak kita lihat ada sampah, apalagi sampah yang berserakan. Jelas tidak ada. Wajar saja, banyak orang yang duduk di lantai masjid yang sejuk itu. Seperti halnya masjid-masjid lain, masjid ini sebenarnya juga memiliki sejarahnya. Artinya ada sejarah yang menyertainya saat didirikan. Sayangnya, aku tidak bisa menjelaskan atau menceritakan sejarahnya, karena aku tidak tahu. Mungkin, karena aku urang membaca sejarah. Padahal, akan lebih baik, kalau aku bisa menuliskan sedikit tentang sejarah berdirinya masid ini. Harusnya pula aku bertanya pada orang-orang tua di kampung sebagai bahan pengetahuan bagiku. Entahlah. Semoga nanti aku bisa mengumpulkan lebih banyak data untuk menulis.
Hmm, kembali pada masjid Al Hidayah, dilihat dari ukuran masjid, sebenarnya masjidnya tidak besar, tidak sebesar masjid di daerah lain. Apalagi kalau kita bandingan dengan masjid Raya Baiturahman Banda Aceh. Pasti jauh sekali bedanya. Namun, yang aku salut dan suka adalah keindahan dan kebersihannya.
Ketika bencana gempa 6.5 SR yang menghentak Pidie jaya, pada tanggal 7 Desember 2016 lalu, masjid ini pernah roboh. Gempa yang terjadi pada subuh Rabu itu, terasa sangat kencang dan dahsyat. Saat itu, di kampung kami sedang musim ke sawah. Orang-orang kampung turun ke sawah membajak tanah di pagi buta. Menurut cerita, kala itu ada  yang mendengar suara tangis. Rupanya, yang menangis itu adalah masjid. Saat masjid itu menangis, orang yang di sawah itu langsung pulang untuk melihat anak dan istrinya yang sedang ketakutan di rumah, karena gempa yang mengguncangkan bumi begitu keras yang menghancurkan banyak rumah dan bangunan lainnya.
Alhamdulilah, masjid kami tidak roboh semua, kecuali terbelah sedikit. Namun, orang-orang kampung tampak sangat ketakutan. Mereka tidak henti-hentinya menyebut nama Allah, mengingat Allah dan memohon kepada Allah agar tidak gempa lagi. Sangat banyak yang jadi korban. Ada yang meninggal. Jumlah yang meninggal saat itu, seperti diceritakan di surat kabar mencapai 104 orang dan ratusan lainnya luka-luka berat dan ringan.
Setelah gempa besar, terjadi pula gempa susulan. Orang-orang ketakutan dan berusaha mencari tempat yang aman. Lalu, tidak berapa lama, mulai ada orang-orang yang datang mengantarkan bantuan. Ada yang mengantarkan makanan, pakaian, tenda, obat-obatan dan lain-lain. Setelah sekian lama, masjid kami yang mengalami keusakan itu pun dibangun lagi. Hingga kini, masjid kami ada dua. Yang satu masjid lama dan yang satunya lagi yang baru. Namun, karena ada dua masjid, bisa mengacaukan pandangan. Tapi kata orang di kampung kami, tidak apa-apa masjidnya banyak. Yang penting lingkungannya asri dan bersih, tanpa sampah. Jadi orang di kampung kami sangat bahagia saat melakukan salat di sana.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Entrepreneur Itu Lebih Baik Bagimu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com