POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perahu dari Papan Tulis

RedaksiOleh Redaksi
December 12, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Karya Hamdani Mulya

Hujan deras yang mengguyur Aceh Utara selama beberapa hari telah menyebabkan Sungai Krueng Pase meluap, membanjiri desa-desa di sekitarnya. Salah satu desa yang terkena dampak parah adalah Geudong, sebuah desa kecil yang terletak di tepi sungai. Sekolah Dasar Geudong, yang berdiri kokoh selama puluhan tahun, kini terancam tenggelam.

Pak Ahmad, guru senior yang telah mengabdikan diri selama 20 tahun, berdiri di tengah halaman sekolah yang mulai terendam air. Dia melihat murid-muridnya yang berlari ke sana-sini, mencari tempat yang lebih tinggi. Bu Muslimah, guru kelas 3, sibuk mengumpulkan buku-buku dan peralatan sekolah, berusaha menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

“Bu, cepat! Kita harus menyelamatkan murid-murid!” seru Pak Ahmad, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gemuruh air.

Bu Muslimah mengangkat kepala, wajahnya penuh kekhawatiran. “Pak, airnya semakin deras! Apa yang bisa kita lakukan?”

Pak Ahmad melihat sekeliling, mencari ide. Matanya berhenti pada papan tulis yang copot dari dinding kelas. “Aha! Itu bisa jadi perahu kita!”

Dengan cepat, Pak Ahmad dan Bu Muslimah menarik papan tulis itu ke tepi air. Mereka membantu siswa-siswa naik ke atasnya, satu per satu. Fitri, Rasya, Budi dan beberapa siswa lainnya sudah berada di atas papan tulis, wajah mereka penuh ketakutan.

“Pak, saya takut!” seru Fitri, suaranya bergetar.

Pak Ahmad tersenyum, mencoba menenangkan. “Jangan takut, anak-anak. Kita akan selamat. Allah akan menjaga kita.”

Pak Ali, penjaga sekolah, datang berlari. “Pak, Pak! Airnya semakin naik! Kita harus pergi sekarang juga!”

Pak Ahmad mengangguk. “Baik, Pak Ali. Bantu kami!”

📚 Artikel Terkait

Mengenal Ajang Talenta Siswa SMK

Dispar Kota Banda Aceh Gandeng Sanggar Cit Ka Geunta Tampilkan Tari Tradisional di JKPI

Komisi III DPR RI Apresiasi Dedikasi Polres Barru di Lapangan

Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T

Mereka semua naik ke atas papan tulis, yang mulai terombang-ambing. Pak Ahmad sendiri naik terakhir, memegang erat ujung papan tulis.

“Pegang erat, anak-anak! Kita akan selamat!” serunya, sambil mengarahkan perahu darurat itu ke arah yang lebih aman.

Air banjir deras membawa mereka melaju ke tengah kota, melewati rumah-rumah yang terendam, pepohonan yang tumbang, dan kendaraan yang terhanyut. Pak Ahmad dan Bu Muslimah terus berdoa, berharap agar murid-murid mereka selamat.

Setelah beberapa jam berlayar, mereka akhirnya mencapai tempat yang lebih tinggi, di dekat Masjid Raya Geudong. Warga desa yang sudah berkumpul di sana menyambut mereka dengan gembira.

Pak Ahmad turun dari perahu darurat itu, merangkul murid-muridnya yang sudah aman. “Alhamdulillah, kita selamat, anak-anak. Kita harus kuat, seperti sungai Aceh yang tak pernah berhenti mengalir.”

Bu Muslimah menangis, menatap haru ke arah Pak Ahmad. “Terima kasih, Pak. Anda benar-benar pahlawan kami.”

Pak Ahmad tersenyum, mata berkaca-kaca. “Tidak, Bu. Kita semua adalah pahlawan, karena kita bersama-sama menghadapi musibah ini.”

Warga desa mulai membantu, membagikan makanan dan minuman kepada mereka yang selamat. Pak Ahmad dan Bu Muslimah terus memantau murid-muridnya, memastikan mereka semua aman.

“Fitri, Rasya, apa kalian baik-baik saja?” tanya Pak Ahmad, memeriksa murid-muridnya satu per satu.

Fitri dan Rasya mengangguk, masih terlihat ketakutan. “Iya, Pak. Kami baik-baik saja.”

Pak Ahmad tersenyum, lega. “Alhamdulillah. Kita akan melalui ini bersama, anak-anak.”

Dan di tengah-tengah kekacauan, Pak Ahmad dan murid-muridnya menemukan kekuatan dalam kesabaran dan keimanan. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, bahwa Allah selalu ada bersama mereka, menjaga dan melindungi mereka dari bahaya.

Lhokseumawe, 12 Desember 2025

Riwayat Penulis
Hamdani Mulya adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara 10 Mai 1979. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala (USK). Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Meutuah Diklat, dan Jurnal Al-Huda.
Puisinya juga terkumpul bersama penyair Indonesia dalam buku antologi puisi Dalam Beku Waktu (2003), Paru Dunia (2016), Yogja dalam Nafasku (2016), Aceh 5:03 6,4 SR (FAM 2017), dan Gempa Pidie Jaya (2017). Selain menulis puisi dan cerpen Hamdani juga menulis artikel pendidikan, sejarah, dan esai bertema lingkungan.
Hamdani Mulya telah berhasil menulis beberapa buku diantaranya berjudul Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh dan Wajah Aceh dalam Puisi yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2020.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 246x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 191x dibaca (7 hari)
Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa
Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa
18 Jan 2026 • 184x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
156
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ketika Pohon Bicara

Ketika Pohon Bicara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00