Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
Usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan yang patut disyukuri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, angka harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai 73,7 tahun. Pemerintah menargetkan bahwa pada 2045—ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan—angka itu bisa meningkat menjadi 75 tahun.
Namun, perjalanan menuju target tersebut tidak sepenuhnya mudah. Ada tantangan besar yang datang dari gaya hidup generasi muda yang cenderung tidak sehat. Konsumsi makanan cepat saji, minim aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok dan minum alkohol, berpotensi mengurangi capaian peningkatan usia harapan hidup.
Di tengah tantangan itu, kelompok lanjut usia (lansia) justru menghadirkan inspirasi. Mereka yang tetap aktif berkarya membuktikan bahwa usia senja bukanlah titik akhir, melainkan fase baru untuk hidup sehat, produktif, dan bermakna.
Lansia dan Konsep Lansia Produktif
Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1998, lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Sementara itu, kelompok pra-lansia berada pada rentang usia 45 hingga 59 tahun. Meski sering kali dipandang sebagai kelompok rentan, pada kenyataannya banyak lansia yang tetap aktif dan berperan penting dalam keluarga maupun masyarakat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan konsep Active Ageing, yaitu upaya agar seseorang tetap sehat, mandiri, dan terlibat aktif dalam kegiatan sosial, meskipun telah memasuki usia lanjut. Konsep ini sangat sejalan dengan gagasan “lansia produktif” yang berkembang di Indonesia: lansia yang tidak hanya menikmati masa tua dengan tenang, tetapi juga terus berkontribusi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.
Tantangan Gaya Hidup Generasi Muda
Kontras dengan lansia produktif, sebagian generasi muda menghadapi tantangan kesehatan yang mengkhawatirkan. Data Kementerian Kesehatan (2022) menunjukkan masih ada perilaku berisiko di kalangan remaja, seperti merokok, konsumsi alkohol, hingga penggunaan narkoba.
Selain itu, tren kurang olahraga dan tingginya konsumsi makanan instan menambah risiko terkena penyakit tidak menular (PTM). Secara global, WHO (2020) mencatat bahwa 74% kematian di dunia disebabkan oleh PTM seperti jantung, diabetes, kanker, dan hipertensi.
Jika pola hidup tidak berubah, target Indonesia untuk meningkatkan usia harapan hidup bisa terhambat. Karena itu, kehadiran lansia produktif yang menjalani hidup sehat dan aktif perlu dijadikan teladan bagi generasi muda.
Inspirasi Lansia Produktif di Bogor
Kisah nyata lansia produktif bisa ditemukan di banyak daerah, salah satunya di Bogor. Di kota ini, terdapat komunitas Bundo Kanduang Berbudaya dan Berkesenian (BKBB) yang beranggotakan perempuan berusia 40 hingga 70 tahun.
Mereka aktif dalam kegiatan seni dan budaya, mulai dari menjadi juri lomba fashion show, menari, hingga tampil dalam paduan suara pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Aktivitas tersebut bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental para anggotanya.
Keaktifan mereka membuktikan bahwa lansia bisa tetap produktif, sehat, dan bahagia, sekaligus memberikan kontribusi nyata pada lingkungan sosial.
Seni sebagai Sarana Kesehatan Lansia
Berbagai penelitian mendukung manfaat aktivitas seni bagi kesehatan lansia.
1. Meningkatkan Kebugaran Fisik
Menari dapat meningkatkan keseimbangan tubuh dan mengurangi risiko jatuh hingga 30%.
Menyanyi mampu melatih pernapasan, memperkuat paru-paru, serta membantu menjaga kesehatan jantung.
2. Menjaga Kesehatan Mental
Kegiatan seni dapat mengurangi gejala depresi.
Partisipasi dalam paduan suara terbukti menurunkan tingkat depresi hingga 40%.
Aktivitas kelompok juga memperkuat rasa kebersamaan, mengurangi rasa kesepian, dan menekan risiko demensia.
3. Pemberdayaan Perempuan Lansia
📚 Artikel Terkait
Komunitas seni memberi ruang bagi perempuan lansia untuk menjaga identitas budaya.
Aktivitas seni meningkatkan rasa percaya diri sekaligus melatih kemampuan kognitif.
Dengan kata lain, aktivitas seni bukan hanya hiburan, melainkan juga terapi kesehatan yang efektif dan menyenangkan.
Dimensi Sosial dan Ekonomi Lansia Produktif
Lansia produktif juga berperan penting dalam bidang ekonomi. Banyak di antara mereka yang masih aktif menjalankan usaha kecil, bertani, atau membuat kerajinan tangan. Kontribusi ini membantu menopang ekonomi keluarga.
Selain itu, lansia juga berperan dalam mengasuh cucu, membantu pekerjaan rumah tangga, hingga menjadi tokoh penggerak dalam kegiatan masyarakat. Fakta ini menunjukkan bahwa lansia tidak seharusnya dipandang sebagai beban, melainkan aset sosial dan budaya yang berharga.
Kebijakan dan Dukungan untuk Lansia
Pemerintah telah meluncurkan sejumlah program untuk mendukung kesejahteraan lansia.
Program “Lanjut Usia Sejahtera” dari Kementerian Sosial yang menekankan perlindungan sosial.
Posyandu Lansia dari Kementerian Kesehatan yang berfokus pada layanan kesehatan promotif dan preventif.
Namun, dukungan pemerintah saja tidak cukup. Diperlukan pula keterlibatan keluarga, komunitas, dan masyarakat luas agar lansia mendapatkan kesempatan untuk tetap aktif dan dihargai perannya.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Generasi muda dapat belajar dari lansia produktif dalam banyak hal. Semangat untuk menjaga kesehatan, tetap berkarya, dan aktif berkomunitas membuktikan bahwa bahagia tidak mengenal batas usia.
Jika generasi muda mampu meniru pola hidup sehat para lansia, maka ancaman penyakit akibat gaya hidup buruk dapat ditekan. Pada akhirnya, target Indonesia untuk mencapai usia harapan hidup 75 tahun pada 2045 akan lebih mudah tercapai.
Kesimpulan
Lansia produktif adalah potret nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap sehat, aktif, dan berkontribusi. Mereka adalah aset berharga bagi bangsa yang tidak hanya memperkaya budaya dan sosial, tetapi juga memberi inspirasi nyata bagi generasi muda.
Dengan mendukung keberadaan lansia produktif, Indonesia tidak hanya menjaga kesejahteraan kelompok lansia, tetapi juga memperkuat fondasi bangsa menuju masyarakat yang sehat dan sejahtera. Target usia harapan hidup 75 tahun pada 2045 pun bukan lagi mimpi, melainkan tujuan yang realistis.
Daftar Referensi
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Penduduk Lansia 2023.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Laporan Nasional Riskesdas 2022.
World Health Organization. (2002). Active Ageing: A Policy Framework.
World Health Organization. (2020). Noncommunicable Diseases Progress Monitor 2020.
Hui, E., et al. (2009). Journal of Aging and Physical Activity, 17(4), 479–492.
Clift, S., et al. (2010). Journal of Applied Arts & Health, 1(1), 19–34.
Fratiglioni, L., et al. (2004). The Lancet Neurology, 3(6), 343–353.
Noice, T., et al. (2014). The Gerontologist, 54(5), 741–753.
Profil Penulis
Novita Sari Yahya adalah penulis dan peneliti. Ia telah menulis sejumlah buku, di antaranya:
1. Romansa Cinta
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Makna di Setiap Rasa (antologi 100 puisi bersertifikat lomba nasional dan internasional)
5. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
Kontak pembelian buku: 089520018812
Instagram: @novita.kebangsaan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






