Senin, April 20, 2026

Millata Abraham

Millata Abraham - Image d86dab4ef85196b443602d1d5f9a480a | Agama | Potret Online
Ilustrasi: Millata Abraham

Aliran Sesat yang Menyusup Lewat Gafatar dan Mengakar di Nusantara

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Aliran sesat adalah virus bagi masyarakat di manapun. Aliran sesat membajak dan menteror jiwa-jiwa yang lemah yang harusnya dilindungi oleh negara. Di balik wajah ramah gerakan sosial dan pertanian mandiri, tersembunyi ajaran yang mengguncang fondasi keyakinan umat Islam. Millata Abraham bukan sekadar aliran sesat biasa—ia adalah metamorfosis dari gerakan yang telah berulang kali berganti nama, strategi, dan wilayah operasi. Dari Jakarta hingga pedalaman Kalimantan, dari Medan hingga Aceh, jejaknya membentang luas dan dalam.

Awal mula gerakan ini dapat ditelusuri ke tahun 2000, ketika Ahmad Mossadeq, mantan pelatih bulu tangkis nasional, mengaku mendapat wahyu dan menyatakan dirinya sebagai nabi ke-26. Ia mendirikan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, sebuah organisasi yang langsung menuai kontroversi karena ajarannya yang menyimpang dari Islam.

Setelah dibubarkan dan dinyatakan sesat oleh MUI, Musadeq tidak berhenti. Ia bertransformasi lewat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yang tampil sebagai gerakan sosial dan pertanian mandiri. Namun, di balik aktivitas tanam-menanam dan kerja bakti, tersimpan doktrin lama yang kini dikemas ulang sebagai Millata Abraham.

 Karakteristik Ajaran: Sinkretisme, Penolakan Syariat, dan Klaim Kenabian

Ajaran Millata Abraham memiliki ciri khas yang membedakannya dari aliran sesat lain: (1) Sinkretisme Agama: Mereka menggabungkan unsur Yahudi, Kristen, dan Islam dalam satu doktrin baru yang disebut “ajaran Ibrahim yang murni.” (2) Penolakan terhadap Islam: Islam dianggap sebagai agama yang telah menyimpang. Mereka menolak syariat, salat, puasa, dan bahkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum. (3) Kenabian Baru: Ahmad Mossadeq diyakini sebagai nabi setelah Muhammad SAW, yang bertugas “meluruskan” ajaran sebelumnya. (4) mereka memiliki Doktrin Hijrah: Pengikut diajak meninggalkan kehidupan lama dan pindah ke wilayah terpencil untuk membangun “masyarakat baru” yang bebas dari pengaruh negara dan agama resmi.

 Persebaran Wilayah: Dari Kota Besar ke Pedalaman

Millata Abraham tidak hanya menyasar kota-kota besar, tetapi juga menyusup ke daerah terpencil. Mereka umumnya aktif dan berkembang di Jakarta, Depok, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Kalimantan Barat dan Aceh. 

WilayahAktivitas Utama
Jakarta & Depok     Pusat perekrutan dan pembaiatan awal     
Yogyakarta & SurabayaBasis intelektual dan diskusi doktrin
Medan & Padang      Pengembangan jaringan Sumatera           
Kalimantan Barat    Lokasi hijrah massal dan komunitas mandiri
Aceh (Bireuen, Pidie, Aceh Utara)Perekrutan terselubung dan pembaiatan baru

Di Aceh, diperkirakan lebih dari 3.000 pengikut aktif tersebar di berbagai kabupaten. Mereka beroperasi secara diam-diam, menggunakan pendekatan sosial dan ekonomi untuk menarik simpati masyarakat. Aliran ini tampaknya merupakan program defeksi yang dirancang oleh oknum-oknum tertentu ketika mereka masih berkuasa di rezim Orde Baru untuk mempertahankan pemasukan uang non-budgetter dari infaq para anggota jamaah yang berhasil masuk bergabung. Uang ini kemudian dinikmati oleh para oknum tersebut untuk memperkaya diri dan senang melihat rakyat yang tertipu oleh aliran sesat ini yang terus-menerus terseok-seok mengumpulkan dana ifaq, zakat dan sadaqah atas nama agama yang sudah diplintir.

 Modus Operandi: Menyamar, Merekrut, Membaiat

Gerakan ini sangat lihai dalam menyamarkan aktivitasnyadengan berbagai cara yang aneh. Perekrutan lewat kegiatan sosial: Mereka mengadakan kerja bakti, pelatihan pertanian, dan diskusi kebangsaan. Pembaiatan rahasia: Anggota baru dibaiat dalam pertemuan tertutup, lalu diminta meninggalkan identitas lama. Pengendalian psikologis: Pengikut diminta memutus hubungan dengan keluarga dan masyarakat luar. Rakyat yang sudah miskin terus diperas oleh imam-imam palsu yang terus-menerus memeras rakyat yang terjebak oleh aliran sesat. 

Majelis Ulama Indonesia telah lama menyatakan Millata Abraham sebagai aliran sesat. Pemerintah Aceh melarang aktivitas mereka berdasarkan Qanun Nomor 8 Tahun 2015. Penangkapan terbaru terhadap 20 anggota di Aceh menunjukkan bahwa gerakan ini masih aktif dan terus berkembang. Namun, tantangan terbesar adalah rehabilitasi sosial. Banyak mantan pengikut yang mengalami penolakan dari masyarakat, membuat mereka rentan kembali ke ajaran lama.

 Penutup: Ancaman yang Tak Boleh Diremehkan

Millata Abraham bukan sekadar ajaran menyimpang. Ia adalah gerakan ideologis yang terstruktur, adaptif, dan menyusup lewat celah sosial. Penanganan yang hanya bersifat hukum tidak cukup. Diperlukan pendekatan kultural, edukatif, dan psikologis untuk memutus mata rantai penyebarannya.

Millata Abraham adalah aliran sesat yang berkembang di Indonesia dan dikenal sebagai kelanjutan dari Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Aliran ini menyebarkan ajaran yang menyimpang dari Islam dan telah menyusup ke berbagai wilayah, termasuk Aceh, Kalimantan, dan kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Millata Abraham merupakan transformasi dari gerakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang didirikan oleh Ahmad Mossadeq pada tahun 2000. Musadeq mengklaim dirinya sebagai nabi ke-26 setelah Nabi Muhammad SAW. Setelah Al-Qiyadah dibubarkan, ia mendirikan Gafatar, yang kemudian berkembang menjadi Millata Abraham.

Sangat aneh jika aliran sesat ini bisa berkembang di Aceh. Orang-orang Aceh biasanya lebih cepat curiga dan kritis dengan setiap wacana apapun yang membujuk, menggiring, dan mengelabui. Para ulama sudah berpesan bahwa tajak sikula bah carong, tajak beut bah bek seumeungeut.[]

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist