🔊
Dengarkan Artikel
Oleh Mustiar Ar
Langit Meulaboh menangis perlahan,
doa-doa tua tersesat di jalan.
Asap kopi dari kedai kecil
menghangatkan luka dan kisah lirih.
Tukang parkir tersenyum lusuh,
menatap langit hitam:
“Turunlah hujan,
basuh debu yang tak sempat jadi sejarah,
guyur jalanan yang lelah menunggu
negeri belajar etika.”
📚 Artikel Terkait
Anak-anak tertawa di genangan,
dingin tak tahu arti kemiskinan.
Di balik kaca toko,
elitis diam membahas arah.
Meulaboh basah oleh rindu,
oleh tanya yang dibiarkan layu.
Tapi hujan tetap turun,
seperti cinta ibu:
diam, namun menumbuhkan.
Acheh,01.08.2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.





