Oleh Mustiar Ar
Langit Meulaboh menangis perlahan,
doa-doa tua tersesat di jalan.
Asap kopi dari kedai kecil
menghangatkan luka dan kisah lirih.
Tukang parkir tersenyum lusuh,
menatap langit hitam:
“Turunlah hujan,
basuh debu yang tak sempat jadi sejarah,
guyur jalanan yang lelah menunggu
negeri belajar etika.”
Anak-anak tertawa di genangan,
dingin tak tahu arti kemiskinan.
Di balik kaca toko,
elitis diam membahas arah.
Meulaboh basah oleh rindu,
oleh tanya yang dibiarkan layu.
Tapi hujan tetap turun,
seperti cinta ibu:
diam, namun menumbuhkan.
Acheh,01.08.2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.