Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Kemarin, saya melihat dari dalam mobil, tiga pelajar pulang sekolah dengan sepeda biasa, bukan sepeda listrik, bukan sepeda gunung canggih, apalagi sepeda lipat seharga satu motor bekas. Mereka beriringan sejajar, seperti pembalap Tour de Kampung yang tidak tahu apa itu marka jalan, atau mungkin tahu tapi memilih tidak peduli. Ketiganya sangat enjoy, tak peduli berjejer bisa mengganggu pengendara mobil atau sepeda motor.
Perlu diketahui, jalan itu milik mobil dan motor. Trotoar? Itu milik pedagang kaki lima dan tiang reklame. Sepeda? Ah, sepeda hanyalah anak tiri dari peradaban transportasi. Tidak diakui, tidak diberi ruang, tapi selalu disuruh patuh. Ibarat anak kost yang disuruh bayar listrik tapi tak boleh masak. Kasihan ya, wak!
Indonesia, negara yang sempat mengalami lonjakan pengguna sepeda saat pandemi, naik hingga 1.000% di Jakarta. Semua orang tiba-tiba merasa sepeda adalah solusi masa depan. Tapi begitu PSBB usai, sepeda kembali ke habitat aslinya, gudang. Sepeda menjadi fosil kenangan, tertumpuk bersama treadmill dan alat gym yang dibeli pakai semangat tapi dipakai pakai alasan.
Coba bandingkan dengan Belanda. Negara yang penduduknya hanya 17 juta jiwa tapi punya 23 juta sepeda. Artinya, di Belanda, setiap bayi lahir sudah langsung punya warisan satu sepeda, satu harapan, satu jalur khusus. Anak-anak diajari naik sepeda sebelum bisa mengeja “demokrasi.” Sementara di sini, anak-anak diajari naik motor sebelum tahu rambu lalu lintas. Sebelum bisa baca, sudah bisa ngebut.
Di Amsterdam, sepeda adalah raja. Kebetulan pernah juga menginjakkan kaki di kota ini. Di sini ada 35.000 km jalur sepeda, terpisah, aman, dan elegan. Di Indonesia, jalur sepeda lebih mirip ilusi optik. Ada garis hijau di pinggir jalan, tapi mobil boleh parkir di atasnya, pedagang boleh buka lapak, dan pengendara motor boleh anggap itu jalur tikus.
📚 Artikel Terkait
Sepeda di sini nasibnya seperti filsuf di zaman digital, tidak dianggap, tapi tetap eksis demi idealisme. Ia berjalan pelan di antara klakson dan debu, tidak ingin menang, hanya ingin sampai.
Padahal, sepeda adalah revolusi sunyi. Ia tidak butuh bensin, tidak bikin bising, tidak mencemari udara. Tapi justru karena itulah, ia tidak seksi di mata kebijakan. Karena ia tidak bisa dikomersilkan seperti jalan tol. Tidak bisa dijadikan proyek mercusuar seperti LRT yang sepi. Sepeda terlalu jujur untuk dunia yang terlalu penuh tipu-tipu.
Tapi jangan salah. Di tengah gelombang knalpot dan ego manusia modern, sepeda adalah bentuk perlawanan yang elegan. Ia mengajarkan bahwa menuju tujuan tidak harus cepat, yang penting sampai. Ia mengingatkan bahwa tubuh masih bisa jadi mesin, bukan cuma boneka yang dibonceng teknologi. Ia hadir tanpa polusi, tanpa drama, tanpa cicilan.
Kalau ente masih punya sepeda di rumah, bersihkan. Pompa rodanya. Kayuh lagi. Jadikan ia simbol bahwa tak semua perubahan harus dimulai dari rapat. Kadang, perubahan bisa dimulai dari dua roda, satu sadel, dan keberanian untuk melawan arus.
Karena pada akhirnya, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah manifesto hidup sederhana yang radikal. Ia adalah doa sunyi manusia yang ingin bebas tapi tetap berpijak di bumi.
Dari tadi berbuih-buih ngomongkan sepeda, tapi saya tak punya sepeda di rumah. Duh, munafiknya hidup. Tapi saya jujur tak punya sepeda.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






