POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

RedaksiOleh Redaksi
July 24, 2025
Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin, saya melihat dari dalam mobil, tiga pelajar pulang sekolah dengan sepeda biasa, bukan sepeda listrik, bukan sepeda gunung canggih, apalagi sepeda lipat seharga satu motor bekas. Mereka beriringan sejajar, seperti pembalap Tour de Kampung yang tidak tahu apa itu marka jalan, atau mungkin tahu tapi memilih tidak peduli. Ketiganya sangat enjoy, tak peduli berjejer bisa mengganggu pengendara mobil atau sepeda motor.

Perlu diketahui, jalan itu milik mobil dan motor. Trotoar? Itu milik pedagang kaki lima dan tiang reklame. Sepeda? Ah, sepeda hanyalah anak tiri dari peradaban transportasi. Tidak diakui, tidak diberi ruang, tapi selalu disuruh patuh. Ibarat anak kost yang disuruh bayar listrik tapi tak boleh masak. Kasihan ya, wak!

Indonesia, negara yang sempat mengalami lonjakan pengguna sepeda saat pandemi, naik hingga 1.000% di Jakarta. Semua orang tiba-tiba merasa sepeda adalah solusi masa depan. Tapi begitu PSBB usai, sepeda kembali ke habitat aslinya, gudang. Sepeda menjadi fosil kenangan, tertumpuk bersama treadmill dan alat gym yang dibeli pakai semangat tapi dipakai pakai alasan.

Coba bandingkan dengan Belanda. Negara yang penduduknya hanya 17 juta jiwa tapi punya 23 juta sepeda. Artinya, di Belanda, setiap bayi lahir sudah langsung punya warisan satu sepeda, satu harapan, satu jalur khusus. Anak-anak diajari naik sepeda sebelum bisa mengeja “demokrasi.” Sementara di sini, anak-anak diajari naik motor sebelum tahu rambu lalu lintas. Sebelum bisa baca, sudah bisa ngebut.

Di Amsterdam, sepeda adalah raja. Kebetulan pernah juga menginjakkan kaki di kota ini. Di sini ada 35.000 km jalur sepeda, terpisah, aman, dan elegan. Di Indonesia, jalur sepeda lebih mirip ilusi optik. Ada garis hijau di pinggir jalan, tapi mobil boleh parkir di atasnya, pedagang boleh buka lapak, dan pengendara motor boleh anggap itu jalur tikus.

📚 Artikel Terkait

Perempuan Indah Secara Fiksi, Berbahaya Secara Fakta

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Prewel Ltd, Komunitas yang Masih Setia dengan Sepeda Ontel

Kreativitas Tidak Bergantung Pada Teknologi: Penulis Akan Tetap Menulis Dengan Atau Tanpa AI

Sepeda di sini nasibnya seperti filsuf di zaman digital, tidak dianggap, tapi tetap eksis demi idealisme. Ia berjalan pelan di antara klakson dan debu, tidak ingin menang, hanya ingin sampai.

Padahal, sepeda adalah revolusi sunyi. Ia tidak butuh bensin, tidak bikin bising, tidak mencemari udara. Tapi justru karena itulah, ia tidak seksi di mata kebijakan. Karena ia tidak bisa dikomersilkan seperti jalan tol. Tidak bisa dijadikan proyek mercusuar seperti LRT yang sepi. Sepeda terlalu jujur untuk dunia yang terlalu penuh tipu-tipu.

Tapi jangan salah. Di tengah gelombang knalpot dan ego manusia modern, sepeda adalah bentuk perlawanan yang elegan. Ia mengajarkan bahwa menuju tujuan tidak harus cepat, yang penting sampai. Ia mengingatkan bahwa tubuh masih bisa jadi mesin, bukan cuma boneka yang dibonceng teknologi. Ia hadir tanpa polusi, tanpa drama, tanpa cicilan.

Kalau ente masih punya sepeda di rumah, bersihkan. Pompa rodanya. Kayuh lagi. Jadikan ia simbol bahwa tak semua perubahan harus dimulai dari rapat. Kadang, perubahan bisa dimulai dari dua roda, satu sadel, dan keberanian untuk melawan arus.

Karena pada akhirnya, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah manifesto hidup sederhana yang radikal. Ia adalah doa sunyi manusia yang ingin bebas tapi tetap berpijak di bumi.

Dari tadi berbuih-buih ngomongkan sepeda, tapi saya tak punya sepeda di rumah. Duh, munafiknya hidup. Tapi saya jujur tak punya sepeda.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Mengupas Kurikulum SMK 2025: Makin Banyak dan Padat

Mengupas Kurikulum SMK 2025: Makin Banyak dan Padat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00