• Latest
Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

Juli 24, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

Redaksiby Redaksi
Juli 24, 2025
Reading Time: 3 mins read
Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin, saya melihat dari dalam mobil, tiga pelajar pulang sekolah dengan sepeda biasa, bukan sepeda listrik, bukan sepeda gunung canggih, apalagi sepeda lipat seharga satu motor bekas. Mereka beriringan sejajar, seperti pembalap Tour de Kampung yang tidak tahu apa itu marka jalan, atau mungkin tahu tapi memilih tidak peduli. Ketiganya sangat enjoy, tak peduli berjejer bisa mengganggu pengendara mobil atau sepeda motor.

Perlu diketahui, jalan itu milik mobil dan motor. Trotoar? Itu milik pedagang kaki lima dan tiang reklame. Sepeda? Ah, sepeda hanyalah anak tiri dari peradaban transportasi. Tidak diakui, tidak diberi ruang, tapi selalu disuruh patuh. Ibarat anak kost yang disuruh bayar listrik tapi tak boleh masak. Kasihan ya, wak!

Indonesia, negara yang sempat mengalami lonjakan pengguna sepeda saat pandemi, naik hingga 1.000% di Jakarta. Semua orang tiba-tiba merasa sepeda adalah solusi masa depan. Tapi begitu PSBB usai, sepeda kembali ke habitat aslinya, gudang. Sepeda menjadi fosil kenangan, tertumpuk bersama treadmill dan alat gym yang dibeli pakai semangat tapi dipakai pakai alasan.

Coba bandingkan dengan Belanda. Negara yang penduduknya hanya 17 juta jiwa tapi punya 23 juta sepeda. Artinya, di Belanda, setiap bayi lahir sudah langsung punya warisan satu sepeda, satu harapan, satu jalur khusus. Anak-anak diajari naik sepeda sebelum bisa mengeja “demokrasi.” Sementara di sini, anak-anak diajari naik motor sebelum tahu rambu lalu lintas. Sebelum bisa baca, sudah bisa ngebut.

Di Amsterdam, sepeda adalah raja. Kebetulan pernah juga menginjakkan kaki di kota ini. Di sini ada 35.000 km jalur sepeda, terpisah, aman, dan elegan. Di Indonesia, jalur sepeda lebih mirip ilusi optik. Ada garis hijau di pinggir jalan, tapi mobil boleh parkir di atasnya, pedagang boleh buka lapak, dan pengendara motor boleh anggap itu jalur tikus.

Sepeda di sini nasibnya seperti filsuf di zaman digital, tidak dianggap, tapi tetap eksis demi idealisme. Ia berjalan pelan di antara klakson dan debu, tidak ingin menang, hanya ingin sampai.

Padahal, sepeda adalah revolusi sunyi. Ia tidak butuh bensin, tidak bikin bising, tidak mencemari udara. Tapi justru karena itulah, ia tidak seksi di mata kebijakan. Karena ia tidak bisa dikomersilkan seperti jalan tol. Tidak bisa dijadikan proyek mercusuar seperti LRT yang sepi. Sepeda terlalu jujur untuk dunia yang terlalu penuh tipu-tipu.

Tapi jangan salah. Di tengah gelombang knalpot dan ego manusia modern, sepeda adalah bentuk perlawanan yang elegan. Ia mengajarkan bahwa menuju tujuan tidak harus cepat, yang penting sampai. Ia mengingatkan bahwa tubuh masih bisa jadi mesin, bukan cuma boneka yang dibonceng teknologi. Ia hadir tanpa polusi, tanpa drama, tanpa cicilan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Kalau ente masih punya sepeda di rumah, bersihkan. Pompa rodanya. Kayuh lagi. Jadikan ia simbol bahwa tak semua perubahan harus dimulai dari rapat. Kadang, perubahan bisa dimulai dari dua roda, satu sadel, dan keberanian untuk melawan arus.

Karena pada akhirnya, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah manifesto hidup sederhana yang radikal. Ia adalah doa sunyi manusia yang ingin bebas tapi tetap berpijak di bumi.

Dari tadi berbuih-buih ngomongkan sepeda, tapi saya tak punya sepeda di rumah. Duh, munafiknya hidup. Tapi saya jujur tak punya sepeda.

ADVERTISEMENT

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Mengupas Kurikulum SMK 2025: Makin Banyak dan Padat

Mengupas Kurikulum SMK 2025: Makin Banyak dan Padat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com