• Latest

“Anak Hebat, Guru Terlupakan”: Ironi Hari Anak Nasional di Negeri Seremonial

Juli 23, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

“Anak Hebat, Guru Terlupakan”: Ironi Hari Anak Nasional di Negeri Seremonial

Hanif Arsyadby Hanif Arsyad
Juli 23, 2025
in Anak Cerdas, Anak-anak, Guru Honorer
Reading Time: 4 mins read
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Hanif Arsyad

Bulan Juli 2025, masih sama seperti bulan Juli di tahun tahun lalu. Spanduk warna-warni terbentang di aula desa dan kantor pemerintahan. Lagu-lagu anak mengalun di panggung-panggung mini, penuh semangat dan tepuk tangan. Di layar kaca, wajah-wajah pejabat tersenyum bangga menyematkan pin “Sahabat Anak” pada para ibu promotor PAUD. Semua terlihat begitu indah—tapi hanya di permukaan.

Di balik gegap gempita Hari Anak Nasional, ada satu pertanyaan yang tak kunjung dijawab: Siapa yang sebenarnya menjaga anak-anak kita? Dan lebih penting lagi: sudahkah mereka dijaga dengan adil oleh negara?

Dari Panggung Promotor ke Ruang Kelas Tanpa Guru yang Layak.

Di banyak daerah, pelantikan promotor PAUD berjalan megah setiap kali pejabat baru naik jabatan. Mereka disematkan selempang, diberi ucapan selamat, dan berpose di depan kamera. Tapi di ujung dusun, guru PAUD yang setiap hari mengajar anak-anak dengan alat seadanya justru tak dilirik, apalagi dihargai.

Mayoritas guru PAUD di Indonesia hanya lulusan SMA, tanpa sertifikasi, tanpa gaji tetap, bahkan banyak yang tak pernah menerima upah berbulan-bulan. Mereka bukan tak mampu, tapi tak diberi kesempatan. Mereka bukan tak penting, tapi tak dianggap prioritas.

Lalu kita bertanya: apa arti “Anak Hebat” jika mereka dibimbing oleh guru yang diperlakukan seolah tak penting?

Mendidik Bukan Sukarela, Tapi Profesi

Negara seolah masih menganggap pendidikan usia dini sebagai urusan domestik: cukup kasih tempat, sedikit pelatihan, beres. Padahal, usia 0–6 tahun adalah fase krusial perkembangan otak. Guru PAUD bukan penjaga anak. Mereka adalah arsitek masa depan bangsa, yang bekerja tanpa jaminan sosial, tanpa pengakuan, tanpa penghasilan layak.

Pendidikan usia dini bukan kerja sukarela. Ini profesi yang butuh ilmu, pelatihan, dan penghargaan. Tapi hingga kini, seolah yang dihargai hanya seremoni promotor, bukan para pendidik di garis depan yang setiap hari bergulat dengan realita.

Seharusnya negara sadar: kalau anak-anak dianggap emas, maka guru PAUD adalah tukang lasernya—yang menyambung, menyusun, membentuk. Tapi coba tanya, sudahkah mereka digaji selayaknya dan seharusnya?

Baca Juga

Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Ketika Anak Luput dari Kebijakan

Maret 25, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026

Kita kekurangan dana atau niat yang kurang untuk lebih peduli. Seringkali kita dengar alasan: “Anggaran daerah terbatas.” Tapi anggaran pelantikan promotor, studi banding, bahkan seremonial Hari Anak Nasional (HAN) tetap jalan mulus. Yang tak pernah mulus justru gaji guru guru PAUD terutama di daerah dan pelosok pelosok desa.

Ini bukan soal miskin anggaran, tapi miskin kepedulian. Negara seakan lebih tertarik membangun panggung daripada memperkuat pondasi.

Apa gunanya seribu promotor dilantik, jika satu guru PAUD harus pinjam uang untuk beli kapur tulis?

Ini realita yang masih terjadi di lapangan, bahkan beberapa PAUD harus tutup dengan bermacam problematika yang ada, dari tidak adanya guru, fasilitas yang kurang bahkan tidak adanya kesadaran masyarakat akan keberadaan dan kebermafaatan PAUD.

Kalau Serius dengan Anak, Seriuslah dengan Gurunya

Jika pemerintah benar-benar serius ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, maka bukan lagi waktunya bicara visi. Waktunya membayar utang perlakuan terhadap guru PAUD. Beberapa langkah darurat yang tak bisa ditunda lagi:

1. Standarisasi Gaji dan Jaminan Sosial untuk Guru PAUD
Setiap guru PAUD berhak mendapat upah minimum daerah dan BPJS, tak peduli formal atau nonformal. Ini urusan keadilan, bukan belas kasihan.

2. Pendidikan Lanjutan Bagi Guru Lulusan SMA
Pemerintah wajib memfasilitasi guru PAUD untukmelanjutkan pendidikan ke jenjang D2/D3. Berikan beasiswa. Kalau anak-anak harus cerdas, gurunya harus dipintarkan juga.

3. Status Hukum dan Pengakuan Profesi
Banyak guru PAUD tidak terdaftar sebagai pendidik resmi. Ini harus diakhiri. Profesi guru PAUD perlu diatur dalam regulasi nasional agar dilindungi secara hukum.

4. Gerakan Nasional Mengangkat Martabat Guru PAUD
Tak cukup sekadar Hari Anak Nasional. Kita butuh gerakan kolektif lintas kementerian, masyarakat, dan sektor swasta untuk menempatkan guru PAUD sebagai ujung tombak pendidikan.

Sebagai refleksi akhir Anak anak Bukan dijadikan Slogan, akan tetapi Mereka Masa Depan bangsa ini.Sebagai disclaimer, penulis tidak anti seremoni. Tapi seremoni tanpa aksi adalah kemunafikan publik. Kita menyanyikan lagu anak-anak di podium, tapi membiarkan guru PAUD makan mie instan tiga kali sehari. Kita bicara “Anak Hebat”, tapi membiarkan para pendidik mereka bertahan hidup dalam kesunyian dan keletihan.

Perlu kita ingat Ingat, tak ada anak hebat tanpa guru yang diperjuangkan. Tak ada masa depan emas jika akar pendidikannya keropos.

Hari Anak Nasional seharusnya menjadi alarm nasional dan kita semua, bukan hanya festival. Bukan lagi soal tepuk tangan, tapi soal keberanian untuk mengubah dan memperbaiki sistem. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

ADVERTISEMENT

Seperti kata Buya Hamka: “Anak-anak itu bukan hanya pewaris negeri, tapi pemilik masa depan yang kita ukir hari ini.” Maka ukirlah dengan adil, mulai dari yang paling sering terlupakan: guru PAUD di ujung kampung, yang tak pernah menuntut apa-apa, selain dihargai sebagai manusia.

‘Selamat Hari Anak Nasional’ Selamat MenyongsongIndonesia Emas 2045

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Menggali yang Terkubur

Menggali yang Terkubur

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com