Minggu, April 19, 2026

Perempuan Pewarta

Perempuan Pewarta - IMG_5953 | #Perempuan Hebat | Potret Online
Ilustrasi: Perempuan Pewarta

(Kisah Rohana Kudus)

Padang Panjang, 1910. Di ruang kecil bersusun buku dan majalah dari Hindia hingga Mesir, seorang perempuan muda membasahi ujung pena dengan tinta hitam pekat. Matanya menatap surat dari Manggopoh yang baru saja tiba—sepucuk kabar dari pejuang yang ditangkap karena berani.

“Namanya Siti,” gumam Rohana, suaranya pelan, namun mengeras di dalam hati. “Mereka menyebutnya perempuan perkasa. Tapi di surat kabar Belanda, ia hanya ‘penghasut’.”

Rohana Kudus meletakkan surat itu di meja, lalu mengambil kertas kosong. Tangannya menari di atas lembaran putih:

“Apakah membela suami dan tanahnya adalah kejahatan? Kalau begitu, setiap perempuan Minangkabau akan menjadi penjahat di mata tuan-tuan kulit putih.”

Ia tahu tulisannya akan mengundang amarah. Tapi ia lebih takut kalau diam. Rohana adalah putri dari Haji Muhammad Rasul, seorang ulama pembaharu. Tapi ia lebih suka pena daripada mimbar, lebih nyaman di antara rak buku daripada di panggung seremonial. Ia membuka sekolah perempuan pertama di ranah Minang, dan kini mendirikan surat kabar: “Soenting Melajoe.”

Lewat lembar-lembar itulah suara perempuan Minangkabau mengalir, bukan sekadar tentang dapur dan kebaya, tapi tentang tanah, hak, dan martabat.

Dalam satu artikel, Rohana menulis:

“Kalau Siti Manggopoh membawa golok di tangan, kami membawa pena di jari. Kalau dia dibungkam besi, kami melawan lewat huruf.”

Tulisan-tulisannya membuat geger. Di Padang, gubernemen menekan penerbit. Di surau-surau, para lelaki membicarakannya. Tapi banyak perempuan—murid, petani, janda, bahkan istri kontrolir Belanda—menggunting tulisannya dan menyimpannya seperti doa.

Suatu hari, Rohana menerima surat dari narapidana politik di Padang. Hurufnya gemetar, ditulis dengan arang:

“Saya dengar, tulisan engkau sampai ke Belanda. Jika benar, maka biarlah sejarah mencatat: ada dua perempuan dari Minangkabau, satu mengangkat senjata, satu mengangkat pena.” — Siti Manggopoh

Rohana menangis malam itu. Bukan karena sedih, tapi karena tahu: tulisannya telah menyeberangi jeruji, membelah penjajahan, dan menjadi jembatan bagi mereka yang terbuang.

Malam itu juga, ia menulis artikel terpanjangnya: “Perempuan dan Perlawanan”—sebuah tulisan yang kemudian menginspirasi pendirian sekolah-sekolah perempuan, dari Bukittinggi sampai Bengkulu.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist