Dengarkan Artikel
Kajian Antropologi Forensik, Sosial, dan Sejarah
Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Penebangan pohon Jeju di Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh, oleh pihak tak dikenal telah memicu kemarahan publik dan membuka ruang refleksi tentang konflik nilai, estetika, dan ideologi di ruang publik Aceh. Pohon ini bukan sekadar tumbuhan, melainkan simbol sosial yang menghubungkan generasi muda dengan ekspresi budaya global seperti K-drama. Artikel ini menggabungkan pendekatan antropologi forensik, analisis ideologis, dan sejarah lokal untuk memahami makna di balik peristiwa tersebut.
Pohon Jeju yang viral ini sebenarnya adalah pohon soga (Peltophorum pterocarpum), dikenal dalam bahasa Aceh sebagai Bak Hasan Teunget. Ia tumbuh di kawasan Pantai Ulee Lheue dan sempat menjadi ikon musiman karena bunganya yang kuning cerah menyerupai sakura tropis.
Keberadaan pohon ini membawa nuansa musim semi ala Korea Selatan ke tengah iklim tropis Aceh. Warga lokal dan wisatawan berbondong-bondong datang untuk berfoto, menjadikannya spot wisata musiman yang penuh daya tarik. Dalam konteks sejarah urban Aceh, pohon-pohon seperti Jeju telah lama menjadi bagian dari lanskap kota yang memberi keteduhan, keindahan, dan identitas ekologis. Sayangnya, seperti kasus penebangan pohon Kohler di Masjid Raya Baiturrahman, nilai sejarah dan simbolik pohon sering kali diabaikan demi proyek atau tafsir ideologis tertentu.
Antropologi Forensik dan Analisis Sosial
Penebangan pohon Jeju dapat dianalisis melalui metode antropologi forensik: (1) Tafonomik Analisis: Menelusuri alat dan teknik penebangan, serta waktu kejadian. (2) Forensik Arkeologi Sosial: Mengkaji lokasi pohon sebagai ruang interaksi sosial dan simbol estetika publik. (3) Analisis Simbolik Material: Pohon sebagai “tubuh sosial” yang diserang karena makna yang dikandungnya.
Pohon Jeju menjadi korban dari konflik nilai antara generasi muda yang ekspresif dan kelompok konservatif yang menolak simbol-simbol modernitas.
Kelompok Wahabi di Aceh dikenal memiliki pandangan keras terhadap ekspresi visual dan budaya populer yang dianggap menyimpang dari nilai tauhid (Yunus & Amiruddin, 2021: 93; Fauzi, 2023: 52). Idris dan Sahlan (2018: 85) mencatat bahwa berfoto di depan objek alam bisa dianggap sebagai bentuk pemujaan tidak langsung. Penolakan terhadap pohon Jeju bisa jadi berakar dari tafsir puritanisme yang menolak estetika sebagai bentuk syirik.
Pohon Jeju menjadi latar favorit bagi anak-anak muda Aceh yang menggemari K-drama. Foto-foto yang beredar menunjukkan gaya romantis dan bebas, yang ditafsirkan oleh kelompok konservatif sebagai bentuk liberalisasi budaya dan penyimpangan moral (Yunanda, 2019: 143). Miswar (2020: 15) menyebut reaksi keras terhadap budaya populer sebagai bentuk kekerasan simbolik terhadap ekspresi generasi muda.
📚 Artikel Terkait
Penebangan pohon Jeju bukan hanya soal hilangnya vegetasi, tetapi juga hilangnya ruang simbolik yang menghubungkan warga dengan keindahan, sejarah, dan ekspresi budaya. Pendekatan antropologi forensik menunjukkan bahwa tindakan terhadap benda fisik bisa mencerminkan konflik ideologis yang lebih dalam. Diperlukan dialog lintas generasi dan pendekatan lintas mazhab agar Aceh tidak terus-menerus kehilangan ruang publik yang inklusif dan bermakna.
Referensi:
Acbar, Tryas Anhar. Dampak Dakwah Salafi Wahabi Di Banda Aceh. Diss. UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2023.
Al Chaidar, Abidin Nurdin, and Apridar Abdurrahman. CONTEMPORARY RELIGIOUS MOVEMENT IN ACEH. 2017.
Fauzi, Muhammad. Upaya Kelompok Aswaja Aceh Dalam Membendung Gerakan Salafi-wahabi di Aceh 2014-2022. Diss. Universitas Islam Indonesia, 2023.
Herdi, Sahrasad, Al Chaidar, and Tabrani Dedy. “Terrorism, Wahhabism and Islam (East)-West Dialogues: A Reflection from Indonesia.” Journal of economic and social development 6.2 (2019): 60-75.
Idris, Mulyana, and Muhammad Sahlan. “Antara Salah Paham dan Paham yang Salah: Pandangan Teungku Seumeubeut terhadap Wahabi.” Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin20.1 (2018): 80-89.
Miswar, Khairil. “Wahhábi Dalam Perspektif HUDA Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial Keagamaan Di Aceh.” Tadabbur: Jurnal Peradaban Islam 2.1 (2020): 1–27.
Razak, Abd. “Telaah Kritis Terhadap Peran Majelis Permusyawaratan Ulama Terhadap Fenomena Anti Wahhabi di Aceh.” 2023.
Wati, Amrida. Gerakan Membela Akidah Ahlul Sunnah Waljamaah: Pandangan Ulama Dayah Terhadap Gerakan Wahabi Di Kecamatan Kota Baro Kabupaten Aceh Besar. Diss. UIN Ar-Raniry Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, 2023.
Yunanda, Rizki. “Radikalisme Dalam Persfektif Islam Dayah Di Aceh.” Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) 2.2 (2019): 138–148.
Yunus, Firdaus M., and M. Hasbi Amiruddin. “TENSION BETWEEN SCHOOLS OF THOUGHT: ASWAJA AND WAHABI IN ACEH.” Jurnal Ilmiah Islam Futura 21.2 (2021).
Yunus, Firdaus M., and M. Hasbi Amiruddin. “Aswaja dan Wahabi di Aceh: Memahami Sebab Ketegangan dan Solusinya.” 2020.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






