Hujan dan Darah Qurban
Oleh: Yoss Prabu
Di bawah langit yang basah, hujan turun seolah meneteskan rahmat.
Rintiknya membasuh bumi, menyapu jejak-jejak debu dosa,
membisikkan doa pada dedaunan yang menampungnya —
seperti kafilah menampung cinta dalam perjalanan panjang.
Aku berdiri di siang yang basah,
menatap awan yang meneteskan air mata suci.
Hujan yang jatuh, serupa dzikir alam,
“Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar.”
Tetes-tetes itu menjadi saksi,
bahwa bumi tak pernah letih menerima hujan,
sebagaimana jiwa yang tak pernah letih mencari ampunan.
Namun, di tanah yang sama,
darah qurban mengalir pelan – merah, agak
kehitaman mengukir takdir di atas tanah keras yang haus,
mengajariku arti pengorbanan yang sunyi,
seekor kambing, seekor sapi, dan seonggok daging —
bukan sekadar ritual,
tetapi pengingat bahwa cinta adalah ketundukan
dan ketaatan adalah jalan menuju cahaya.
Aku merenung di antara rintik hujan dan merah darah itu,
adakah hujan yang lebih suci dari darah qurban?
Ataukah darah qurban justru meneteskan hujan rahmat
bagi setiap jiwa yang rela berpisah dengan ego?
Cinta dalam hujan adalah janji yang dibasuh,
cinta dalam qurban adalah pengorbanan yang diridhoi.
Keduanya menuntunku pada rahasia besar
bahwa, setiap tetes hujan menumbuhkan harap,
dan setiap tetes darah qurban menumbuhkan keikhlasan.
Di antara gerimis dan gemuruh takdir,
aku pahami bahwa hidup adalah serangkaian hujan
dan pengorbanan yang saling bersilang,
seperti tangisan langit dan darah di bumi.
Sama-sama menjadi jembatan
menuju Ridha Ilahi.
*
Jakarta, 06 Juni 2025













