POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kotak Kosong

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
April 11, 2025
Kotak Kosong
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh  Ilhamdi Sulaiman

Dalam barisan infanteri kavaleri Bukit Barisan, Kopral Jono adalah komandan pasukan yang berdiri di front paling depan, bersama para prajurit TNI lainnya menumpas Gerakan G30S/PKI. Kini, puluhan tahun setelah itu, ia hanyalah seorang veteran tua—tapi langkahnya tetap tegap, seolah kenangan pertempuran masih hidup di tiap hentak sepatunya.

Setiap hari, tanpa pernah absen, ia berjalan kaki dari Makam Pahlawan Kalibata menuju Lubang Buaya.Seperti sebuah ritual, ia melakukan perjalanan napak tilas untuk terus membangkitkan rasa patriotisme yang tak boleh pudar ditelan kemajuan zaman saat ini.

 Di tangannya selalu tergenggam erat sebuah kotak kayu tua, kecil dan lusuh. Tak seorang pun tahu apa isinya. Kotak itu tak pernah dibuka, tak pernah dilepaskan, bahkan saat hujan deras mengguyur atau terik matahari membakar kulitnya. Orang orang yang melihat hanya dapat menduga duga apa kegunaan kotak itu dan apa pula isinya.

Konon, siapa pun yang pernah mencoba menyentuh kotak itu, entah karena penasaran atau niat buruk, akan jatuh sakit dalam waktu tiga hari. Beberapa bahkan menghilang tanpa jejak. Warga sekitar hanya menyebutnya: Kotak Kosong. 

Suatu hari, saat itu, dari Masjid At-Tien, orang-orang hendak kembali ke rumah masing-masing setelah salat Jumat. Di tengah keramaian, mereka berpapasan dengan sang veteran. Biasanya, di hari seperti ini, banyak orang yang ingin berbagi rezeki, mensucikan hartanya demi meraih amal jariah dan keberkahan dari Allah SWT—meskipun uang yang mereka sedekahkan mungkin berasal dari hasil haram: korupsi, penipuan, dan lain-lain.

Tampak pula di depan gerbang masjid beberapa pengemis dan pemulung berdiri, menanti belas kasih dari para jamaah yang baru saja selesai beribadah. Sang veteran merasa heran melihat mereka. Baginya, orang-orang itu masih tampak kuat dan sehat, cukup untuk bekerja tanpa harus merendahkan harga diri dengan meminta-minta.

Namun langkah sang veteran terhenti. Pandangannya tertuju pada salah satu dari para pengemis yang duduk bersandar di tembok gerbang masjid. Sosok itu tampak lusuh, janggutnya memutih, matanya sayu, namun ada sesuatu yang tak asing—cara ia duduk, sorot matanya, dan luka kecil di pelipis kirinya yang tak pernah hilang.

Sang veteran menyipitkan mata, mencoba menembus kabut waktu.

“…Gatot?” gumamnya pelan, nyaris tak percaya.

Pengemis itu menoleh perlahan. Matanya melebar. Tangannya bergetar saat mencoba bangkit.

📚 Artikel Terkait

Tiga Pesan Paling Berharga

Disdikbud Banda Aceh Salurkan Bantuan ke Murid Korban Kebakaran Ponpes Babul Maghfirah

Mengapa Bank Dunia Menempatkan Indonesia Sebagai Negara Dengan Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak Keempat Di Dunia?

CITRA

“Jono…? Kopral Jono?” suaranya serak, seperti baru keluar dari dasar sumur kenangan.

Keduanya saling menatap. Sunyi mendadak menggantung di antara kebisingan kendaraan dan kerumunan yang mulai bubar. Dunia terasa sejenak berhenti berputar. Mereka dulu pernah bahu-membahu di parit berlumpur, menahan serangan musuh, berbagi amunisi dan rasa lapar.

Kini, yang satu memeluk kotak misterius penuh masa lalu, dan yang satu memeluk kepedihan hidup yang terlempar dari sejarah.

Sang veteran melangkah mendekat. Bibirnya bergetar. “Kenapa… bisa begini, Tot?”

Gatot menunduk, lalu menjawab pelan, “Karena setelah perang, kita tidak semua menang…”

Kopral Jono duduk di sebelahnya. Ia menatap kotak tua di pangkuannya—kotak yang selama ini ia bawa, ia peluk, ia jaga dari tangan siapa pun. Perlahan, ia buka tutupnya. Beberapa orang yang melihat langsung mendekat, penasaran. Tapi begitu terbuka, yang terlihat hanyalah kehampaan. Kosong. Tak ada bendera. Tak ada medali. Tak ada dokumen.

Hanya udara.

Seseorang bergumam, “Kosong…?”

Jono menoleh pelan, tatapannya tajam. “Ya, kosong. Seperti janji-janji yang dulu kami dengar. Seperti mimpi kami tentang negara yang adil bagi semua. Kotak ini tak pernah diisi—karena memang tak pernah ada yang benar-benar peduli.”

Ia berdiri, kotak itu tetap dalam pelukannya.

“Bukan hina karena menadahkan tangan,” ucapnya lantang. “Tapi jauh lebih hina saat mereka yang punya kuasa, terus menjanjikan surga, lalu meninggalkan rakyatnya di neraka.”

Orang-orang terdiam. Lalu perlahan, beberapa dari mereka mulai memandang berbeda—bukan hanya pada para pengemis, tapi juga pada diri mereka sendiri.

Kotak kosong itu bergoyang ringan dalam dekapan sang veteran, seolah berisi suara-suara dari masa lalu yang tak pernah benar-benar diperdulikan.

Jakarta 11 April 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Beasiswa, Jalan Menuju  Pendidikan Yang Lebih Tinggi dan Lebih Baik

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00