Dengarkan Artikel
Oleh Ilhamdi Sulaiman
Dalam barisan infanteri kavaleri Bukit Barisan, Kopral Jono adalah komandan pasukan yang berdiri di front paling depan, bersama para prajurit TNI lainnya menumpas Gerakan G30S/PKI. Kini, puluhan tahun setelah itu, ia hanyalah seorang veteran tua—tapi langkahnya tetap tegap, seolah kenangan pertempuran masih hidup di tiap hentak sepatunya.
Setiap hari, tanpa pernah absen, ia berjalan kaki dari Makam Pahlawan Kalibata menuju Lubang Buaya.Seperti sebuah ritual, ia melakukan perjalanan napak tilas untuk terus membangkitkan rasa patriotisme yang tak boleh pudar ditelan kemajuan zaman saat ini.
Di tangannya selalu tergenggam erat sebuah kotak kayu tua, kecil dan lusuh. Tak seorang pun tahu apa isinya. Kotak itu tak pernah dibuka, tak pernah dilepaskan, bahkan saat hujan deras mengguyur atau terik matahari membakar kulitnya. Orang orang yang melihat hanya dapat menduga duga apa kegunaan kotak itu dan apa pula isinya.
Konon, siapa pun yang pernah mencoba menyentuh kotak itu, entah karena penasaran atau niat buruk, akan jatuh sakit dalam waktu tiga hari. Beberapa bahkan menghilang tanpa jejak. Warga sekitar hanya menyebutnya: Kotak Kosong.
Suatu hari, saat itu, dari Masjid At-Tien, orang-orang hendak kembali ke rumah masing-masing setelah salat Jumat. Di tengah keramaian, mereka berpapasan dengan sang veteran. Biasanya, di hari seperti ini, banyak orang yang ingin berbagi rezeki, mensucikan hartanya demi meraih amal jariah dan keberkahan dari Allah SWT—meskipun uang yang mereka sedekahkan mungkin berasal dari hasil haram: korupsi, penipuan, dan lain-lain.
Tampak pula di depan gerbang masjid beberapa pengemis dan pemulung berdiri, menanti belas kasih dari para jamaah yang baru saja selesai beribadah. Sang veteran merasa heran melihat mereka. Baginya, orang-orang itu masih tampak kuat dan sehat, cukup untuk bekerja tanpa harus merendahkan harga diri dengan meminta-minta.
Namun langkah sang veteran terhenti. Pandangannya tertuju pada salah satu dari para pengemis yang duduk bersandar di tembok gerbang masjid. Sosok itu tampak lusuh, janggutnya memutih, matanya sayu, namun ada sesuatu yang tak asing—cara ia duduk, sorot matanya, dan luka kecil di pelipis kirinya yang tak pernah hilang.
Sang veteran menyipitkan mata, mencoba menembus kabut waktu.
“…Gatot?” gumamnya pelan, nyaris tak percaya.
Pengemis itu menoleh perlahan. Matanya melebar. Tangannya bergetar saat mencoba bangkit.
📚 Artikel Terkait
“Jono…? Kopral Jono?” suaranya serak, seperti baru keluar dari dasar sumur kenangan.
Keduanya saling menatap. Sunyi mendadak menggantung di antara kebisingan kendaraan dan kerumunan yang mulai bubar. Dunia terasa sejenak berhenti berputar. Mereka dulu pernah bahu-membahu di parit berlumpur, menahan serangan musuh, berbagi amunisi dan rasa lapar.
Kini, yang satu memeluk kotak misterius penuh masa lalu, dan yang satu memeluk kepedihan hidup yang terlempar dari sejarah.
Sang veteran melangkah mendekat. Bibirnya bergetar. “Kenapa… bisa begini, Tot?”
Gatot menunduk, lalu menjawab pelan, “Karena setelah perang, kita tidak semua menang…”
Kopral Jono duduk di sebelahnya. Ia menatap kotak tua di pangkuannya—kotak yang selama ini ia bawa, ia peluk, ia jaga dari tangan siapa pun. Perlahan, ia buka tutupnya. Beberapa orang yang melihat langsung mendekat, penasaran. Tapi begitu terbuka, yang terlihat hanyalah kehampaan. Kosong. Tak ada bendera. Tak ada medali. Tak ada dokumen.
Hanya udara.
Seseorang bergumam, “Kosong…?”
Jono menoleh pelan, tatapannya tajam. “Ya, kosong. Seperti janji-janji yang dulu kami dengar. Seperti mimpi kami tentang negara yang adil bagi semua. Kotak ini tak pernah diisi—karena memang tak pernah ada yang benar-benar peduli.”
Ia berdiri, kotak itu tetap dalam pelukannya.
“Bukan hina karena menadahkan tangan,” ucapnya lantang. “Tapi jauh lebih hina saat mereka yang punya kuasa, terus menjanjikan surga, lalu meninggalkan rakyatnya di neraka.”
Orang-orang terdiam. Lalu perlahan, beberapa dari mereka mulai memandang berbeda—bukan hanya pada para pengemis, tapi juga pada diri mereka sendiri.
Kotak kosong itu bergoyang ringan dalam dekapan sang veteran, seolah berisi suara-suara dari masa lalu yang tak pernah benar-benar diperdulikan.
Jakarta 11 April 2025.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






