POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pulang Mudik Yang Terhimpit Kondisi Ekonomi Yang Sulit

Jacob EresteOleh Jacob Ereste
March 16, 2025
Benturan Peradaban Barat Dengan Agama Akan Membuat Islam Semakin Berjaya dan Berkembang Pesat di Masa Mendatang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste :

Meski lebaran hari raya Idul Fitri 2025 masih beberapa hari lagi, bingkisan lebaran dan THR sudah datang dari seorang sahabat yang jauh. Agaknya, dia takut bingkisan dan THR yang dia kirimkan terlambat. Karena itu, dari sahabat yang lebih dekat tinggalnya, mungkin merasa tak terlalu khawatir untuk mengirimkan beberapa hari nanti. Meskipun saat mendekati waktu perayaan hari raya Idhul Fitri tiba, kesibukan jasa pengiriman termasuk Petugas Pos milik Pemerintah akan kewalahan juga seperti tahun lalu.

Arus mudik mungkin hari raya tahun ini tidak akan terlalu sibuk. Akibat kondisi ekonomi nasional serta rakyat sedang terpuruk. Mungkin sudah berada di bawah titik nol. Sebab semua usaha tampak macet. Banyak pedagang baru yang bermunculan, tapi tidak ada pembeli. Hingga beragam macam buah-buahan yang melimpah hasilnya tahun ini, tampak merana karena tiada ada pembeli.

Agaknya, karena kondisi ekonomi umumnya sedang terkulai lesu seperti itu, gairah untuk mudik pun terkesan tidak terlalu menjadi minat banyak orang. Bahkan pergunjingan soal mudik pun seperti tak pernah menjadi topik bahasan yang serius. Padahal, pemerintah bersama sejumlah instansi bahkan pihak swasta sudah banyak menawarkan pulang mudik gratis.

Tiadanya gairah untuk pulang mudik, tentu saja masalahnya bukan sekadar ongkos. Tapi perlu menyangking semacam buah tangan untuk keluarga di kampung yang seabrek jumlahnya itu.

Betapa tidak, mulai dari Kakek dan Nenek hingga jajarannya sampai sepupu dekat dan sepupu jauh serta tetangga kiri dan kanan, terasa kurang afdol bila tidak dibawakan buah tangan khusus, seperti yang acap dibayangkan dahulu semasa di kampung bahwa apa saja yang berasal dari kota pasti memiliki daya tarik tersendiri. Ya, maklum saja di kampung tidak terlalu banyak seperti yang dapat ditemui di kota.

📚 Artikel Terkait

Selamat Malam, Secangkir Kopi, Habis tak habis

Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

Pengalaman Ikut Tes Panitia Pemungutan Suara

Menyelamatkan Jejak Sistem Perkeretaapian Kolonial di Koetaradja

Dengan kata lain, dapat segera dibayangkan minimal untuk oleh-oleh itu dengan asumsi ongkos bisa gratisan. Sementara dalam tradisi mudik, tidak mungkin dan tidak jamak dilakukan sendiri tanpa mengikutsertakan keluarga. Lha, dengan anak istri atau suami saja minimal sudah tiga orang biayanya yang harus disediakan. Belum lagi kalau mau memboyong serta cucu dan menantu, minimal perlu disediakan satu unit kendaraan berikut bekel atau sangu dan kebutuhan lainnya selama dalam perjalanan. Maka dalam kondisi ekonomi yang sedang sulit sekarang ini, hasrat atau semacam mimpi untuk pulang mudik ke kampung lebih dominan untuk ditunda pada lain kesempatan.

Karena itu hingga pertengahan bulan ramadhan berjalan, topik maupun wacana perihal mudik masih sepi-sepi saja. Soalnya bukan tak ada hasrat dan gairah untuk setahun sekali menjenguk kampung halaman dan keluarga yang ada, tapi peluang untuk mudik memang sedang terkekang oleh kondisi ekonomi nasional yang merata susahnya.

Agaknya itu pula sebabnya bingkisan lebaran dan THR sudah mulai berdatangan. Ini menunjukkan isyarat bahwa untuk sekedar kumpul pun sesama sahabat dan kerabat yang telah mengirimkan bingkisan dan THR-nya itu menunjukkan gejala yang kelak saat lebaran tak mungkin bisa berjumpa.

Yang pasti, soal ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf sekiranya ada salah dan khilaf mulai dirancang sekalian menyusun daftar prioritas kepada siapa saja yang paling utama agar tidak sampai terlupakan.

Tradisi pulang mudik saat lebaran itu jelas bagian dari pengaruh agama — tak hanya Islam — karena berkumpul bersama keluarga merupakan bagian dari anjuran agama untuk menjaga silaturahmi agar tak terputus, utamanya dengan generasi berikutnya yang mungkin saja belum sempat berjumpa dan dikenal sebelumnya.

Kendati pada era media sosial berbasis internet sekarang ini menyediakan beragam kemudahan untuk berkomunikasi dan berinteraksi, tetap saja nuansa tatap muka langsung mempunyai nilai psikologis yang tidak dapat disublimasikan. Sebab pertemuan langsung itu memiliki getaran kejiwaan dan keindahan yang tidak akan terlupakan. Ya, apa boleh buat, kerinduan pulang mudik sedang terkait kondisi ekonomi yang sulit, tak hanya di kota, tapi juga di desa kampung halaman kita.

Banten, 13 Maret 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Jacob Ereste

Jacob Ereste

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Masayoshi; Sekumpulan Shinobi Rahasia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00